internet-of-things

Tujuh puluh persen perangkat berkategori Internet of Things berpotensi besar dapat diretas dengan mudah.

Internet of Things (IoT) menjanjikan masa depan menawan tentang hunian maupun kantor yang saling terkoneksi melalui internet. Namun di balik manfaat besar yang digadang-gadang, ada kewaspadaan yang harus ditingkatkan. Dengan semakin banyak appliances dan perangkat terkoneksi ke internet, muncul kekhawatiran bahwa jumlah entry point yang dapat dimanfaatkan oleh peretas pun meningkat.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh HP Security Research menemukan bahwa 70% perangkat Internet of Things dapat dikategorikan hackable alias mudah diretas. Penelitian ini mengobservasi 10 macam perangkat/gadget IoT, seperti smart TV, webcam, dan thermostat. Setiap perangkat tersebut diidentifikasi mempunyai 25 titik kelemahan (vulnerable point). Itu artinya, ada 250 kelemahan di 10 perangkat saja. Sebuah ruang gerak yang cukup lega bagi para hacker untuk bisa meretas keseluruhan sistem di sebuah rumah.

Perangkat mobile mungkin hanya dirundung satu dua masalah keamanan sebagai satu perangkat tunggal. Namun akan menjadi 50 sampai 60 masalah ketika perangkat tersebut menjadi bagian dari IoT dalam lingkungan rumah atau kantor yang saling terhubung.

Riset oleh Hewlett-Packard ini menemukan beberapa kelemahan utama pada perangkat Internet of Things: masalah privasi, otorisasi tidak memadai, enkripsi transportasi tidak mencukupi, web interface tidak aman, proteksi software kurang mencukupi.

Oleh karena itu, HP menyarankan sekuriti harus menjadi prioritas utama, baik untuk Internet of Things di lingkungan rumah maupun bisnis. Terutama bila mengingat jumlah appliances, perangkat selain smartphone dan komputer tablet yang terkoneksi ke internet diperkirakan Gartner akan mencapai 26 milyar unit di tahun 2020.  Atau meningkat hampir 30 kali lipat sejak tahun 2009.