KAPAL LAUT

SOLID GOLD BERJANGKA – Jangan cuma naik pesawat saat traveling ke Lampung. Sesekali, cobalah naik kapal laut karena akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dan seru!

SOLID GOLD BERJANGKA – Jika kalian selama ini ke Lampung menggunakan jasa layasan pesawat, coba deh sekali-kali rasakan pengalaman menggunakan mode kapal laut. Perjalanan lautnya tidak lama, hanya berkisar 2,5-3 jam, tapi pengalaman melaut ini bakal berkesan dan bisa jadi cerita tersendiri.

SOLID GOLD BERJANGKA – Pengalaman menyeberangi Selat Sunda dari Pelabuhan Merak, Banten menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung merupakan keenam kalinya saya alami. Meskipun sudah pernah merasakan menyeberang dengan kapal feri, saya tidak merasa bosan karena kapal yang saya tumpangi umumnya berbeda-beda dan masing-masing memiliki keunikan.

SOLID GOLD BERJANGKA – Perjalanan ke Lampung dengan kapal feri termasuk mudah karena kapalnya banyak, mungkin yang agak merepotkan pada saat mudik lebaran saja karena peminatnya cukup banyak. Tapi di luar libur lebaran, perjalanan menyeberang Selat Sunda bagi saya mengasyikkan.

Dari Jakarta Kalian bisa naik bus atau kereta api menuju Merak. Bus ini tersedia di terminal Kampung Rambutan atau Kali Deres. Sedangkan jika naik kereta api bisa berangkat dari Kampung Bandan atau Angke. Dari perjalanan yang saya lakukan selama ini naik bus satu rombongan dan yang baru-baru saja lakukan dengan kendaraan pribadi.

Setelah membeli tiket maka penumpang bisa langsung memilih tempat duduk. Jika masuk ke ruang VIP yang memiliki fasilitas ruangan ber-AC, toilet, dan televisi maka penumpang dikenakan biaya lagi sebesar Rp 10 ribu. Jika ingin jajan dan membeli minuman juga bisa di atas kapal. Tapi berdasarkan pengalaman, lebih baik membawa perbekalan makanan dan minuman karena tidak dilarang membawa makanan dan minuman sendiri. Alasan kedua, harga makanan dan minuman di sini cukup mahal. Air mineral ukuran besar bisa Rp 10 ribu. Mie instant pun juga sama, lebih mahal dua kali lipat atau lebih dibanding harga normal.

Ruangan VIP-nya menurut saya cukup nyaman dan relatif aman. Kursinya empuk dan bisa melihat pemandangan lautan dari jendela. Kalau saya sih biasanya tidak betah hanya di dalam ruangan. Saya memilih berkeliling, melihat-lihat pemandangan lautan yang menghampar juga melihat fasilitas dan kesibukan para penumpang.

Selain ruangan VIP, di kapal feri umumnya tersedia mushola, toilet, restorasi, dan tempat untuk beristirahat dimana penumpang bisa tidur berselonjor. Tarifnya biasanya dihitung berdasarkan penggunaan bantal. Lebih asyiknya sih jika tiduran di sini bersama teman atau saudara, karena tempatnya tidak privasi alias dipakai beramai-ramai.

Pemandangan lautan dari atas kapal paling indah jika baru meninggalkan Jawa atau mendekati Lampung. Oleh karena bentangan alamnya terlihat dari atas kapal, juga ada pulau-pulau kecil yang menyambut. Saya juga suka mengambil gambar jika kapal yang saya tumpangi berpapasan dengan kapal-kapal lainnya.

Dari berbagai kapal yang pernah saya tumpangi, fasilitas dan interiornya tidak pernah sama. Ada plus dan minusnya. Waktu pulang naik ferry ASDP kami mencari-cari ruang VIP dan rupanya tidak ada. Ruang untuk penumpangnya berbentuk seperti restorasi yang bersih. Oleh karena kelelahan setelah sholat Maghrib saya dan kakak pun tiduran di tempat yang seperti barak. Oleh karena saat itu sepi maka kami bisa beristirahat dengan nyaman hingga kapal mulai merapat ke pulau Jawa.

Waktu perjalanan menggunakan kapal laut jika ditotal memang cukup lama. Ada sekitar sembilan jam. Rinciannya sekitar tiga jam dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak dan antri masuk kapal. Tiga jam berikutnya waktu tempuh naik kapal. Dan tiga jam berikutnya dari Pelabuhan Bakauheni menuju pusat kota Lampung. Jadi jika terburu-buru mending naik mode transportasi udara karena naik kapal untuk menyeberang perlu waktu dan semangat. Namun, pastinya perjalanan via lautan itu menyenangkan karena ada saja cerita di dalamnya.