Awalnya 10, Satlak Prima Kini Targetkan 23-31 Emas di Asian Games

SOLID GOLD BERJANGKA – Indonesia ditargetkan meraih 23 sampai 31 medali emas pada Asian Games 2016. Jumlah ini melonjak dari target awal yang sebelumnya dipatok 10 medali emas.

Target dengan jumlah medali yang fantastis itu muncul dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi X DPR RI dengan panitia INASGOC, di gedung parlemen MPR-DPR RI, Selasa (14/6/2016). Dalam rapat itu juga dihadiri Satlak Prima.

Pada rapat yang digelar sekitar dua jam itu, Ketua Satlak Prima, Achmad Soetjipto, menyebut di Asian Games 2018 nanti pihaknya telah menargetkan Indonesia masuk posisi 8 atau 10 besar, artinya kontingen minimal harus bisa mengumpulkan 12 medali emas. Akan tetapi pihaknya telah membuat proyeksi berdasarkan hitung-hitungan perolehan dari cabang-cabang potensial sebanyak 31 medali emas, dengan margin eror sebesar 25 persen, atau 8 medali emas. Sehingga medali emas yang sangat mungkin dicapai berjumlah 23 medali emas.

Adapun 13 cabang yang dianggap potensial untuk meraup 23 medali tersebut adalah bulutangkis (4 emas), angkat besi (2), Atletik (1),
wushu (2), panahan (2), balap sepeda (5), pencak silat (2), panjat tebing (2), dragon boat (2), karate (1).

“Di luar cabang itu, bridge yang sampai saat ini masih diperjuangkan mengklaim bisa memasok 5 medali emas tapi kita minta hanya 2 emas. Begitu juga paragliding yang menjanjikan 4 emas, dan jetski juga 2 emas. Proyeksi kita sih 31 emas dari 12 target emas,” katanya.

Namun untuk menembus angka itu sangatlah berat. Maka itu, Soetjipto pun meminta dukungan penuh dari pemerintah terutama masalah anggaran.

Untuk diketahui anggaran Satlak Prima 2016 saat ini sebesar Rp 500 miliar. Dana itu termasuk anggaran persiapan Paralympic sebesar Rp 60 miliar. Jumlah itu belum tentu sepenuhnya bisa terpakai karena Menpora Imam Nahrawi berencana melakukan pemotongan anggaran secara besar-besaran. Termasuk anggaran Satlak Prima sebesar Rp 167 miliar.

“Kita itu ingin merebut keunggulan atlet dari negara lain untuk bisa memenuhi target di Asian Games 2018. Jadi, komitmen dukungan pemerintah tidak bisa biasa-biasa saja,” ujarnya.

Seolah mengamini apa yang disampaikan Kasatlak Prima. Deputi IV Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto, menyampaikan apa yang ditargetkan Satlak Prima dengan rencana pengurangan dana Satlak Prima oleh Menpora sangatlah tidak realistis.

Akan tetapi, pihaknya telah mencoba alternatif lain guna menutupi kekurangan tersebut. Kemenpora berencana untuk mengalihkan dana Rp 60 miliar dari anggaran Rp 500 miliar, yang awalnya ditujukan untuk renovasi Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta.
Kendati usulan itu hingga saat ini belum mendapatkan persetujuan baik dari Komisi X maupun Kementerian Keuangan.

“Tidak realistis. Kasihan Prima tapi kemarin itu Pak Tjip (Achmad Soetjipto) yang mengatakan anggaran yang ada diefisienkan. Target tetap sama tetapi dengan anggaran yang lebih efisien. Makanya kami mendorong ada tambahan pasokan dari anggaran lain yaitu anggaran renovasi GBK yang Rp 500 miliar. Dimana dari jumlah itu, Rp 60 miliar bisa untuk Prima,” Gatot menjelaskan.

“Nanti kami akan lapor kepada Bapak Imam Nahrawi. Sarannya dari Komisi X tadi pun meminta agar Menpora mendorong Kemenkeu. Saya yakin Menpora punya power untuk itu (melobi Menkeu),” pungkas Gatot.