Berapa Modal yang Harus Dikeluarkan untuk Bisnis Startup Kosmetik

SOLID GOLD BERJANGKA – Dalam merintis bisnis sejatinya dipelukan modal untuk memulainya. Besarnya modal tersebut berbeda-beda tergantung kepada bidang yang ditekuninya. Lantas bagaimana dengan bisnis startup kosmetik berbasis online? Berapakah modal yang harus dikeluarkan?

SOLID GOLD BERJANGKA – Kezia Joy Toemion, salah satu co-founders kosmetik Esqa mengungkapkan kepada Wolipop modal awal yang dibutuhkan kurang lebih mencapai Rp 1 Miliar. Dana tersebut digunakan untuk membiayai segala sesuatunya mulai dari proses perencanaan, pra produksi, produksi, hingga pasca produksi yang cukup lama dan memakan waktu.

“Modal awal kami sekitar Rp 1 miliar. Banyak juga biaya-biaya tambahan setelah produk itu launch, seperti bujet untuk marketing dan lain-lain,” ungkap Kezia saat diwawancarai Wolipop melalui e-mail, Senin (25/7/2016).

Baru satu bulan berjalan, Kezia mengaku belum bisa mendapatkan angka pasti keuntungan dari penjualannya. Tetapi dari angka penjualan dan feedback customer, mereka berdua sangat yakin bahwa peluang yang didapatkan cukup besar dan menjanjikan.

Sedangkan Tinanda Nabilla, Managing Director kosmetik Rollover Reaction enggan mengungkapkan berapa modal awal yang dikeluarkannya. Namun angka tersebut mencapai ratusan juta rupiah yang digunakan untuk melakukan riset, pra produksi hingga pasca produksi.

“Untuk ngomongin profit kami juga masih belum stabil karena baru jalan beberapa bulan ini, tetapi dalam sehari yang beli di kami melalu web ada 150 buah,” kata wanita yang biasa disapa Naya ini saat berbincang dengan Wolipop di Nusa Kopi, Lamandau, Jakarta Selatan, Rabu (20/7/2016).

Desty Uwais, Chief Executive Officer kosmetik Polka mengaku tidak bisa memberikan angka yang spesifik. Tetapi secara ukuran, bisnis yang digeluti bersama tiga orang temannya masuk ke dalam golongan small to medium. Namun hal itu semua tergantung kepada investasi seperti apa yang dilakukan dan secepat apa pertumbuhan yang diinginkan.

“Untuk omzet sendiri modalnya memang muter dan Alhamdulillah sudah balik modal. Kami maunya dapat snowball effect, boleh dibilang caranya primitif tapi nggak mau risiko tinggi. Karena kami mau produk yang baik dan stabil ke depannya,” tutup wanita lulusan Finance and Marketing Canning College Perth, Australia itu.