SOLID GOLD BERJANGKA – Barangkali, hanya dengan cara menjegal kakinya, pelari lain bisa mengalahkan Usain Bolt. Sejak Olimpiade Beijing 2008, tak ada pelari lain yang bisa mengalahkan sprinter asal Jamaika itu. Tidak Justin Gatlin, bukan pula Tyson Gay, maupun Asafa Powell.

Beberapa hari lalu, walaupun kalah cepat dari Justin Gatlin saat menjejakkan kaki dari garis start, Usain kembali merebut medali emas di nomor lari 100 meter. Inilah ketiga kalinya berturut-turut dalam Olimpiade, Bolt merebut emas di nomor lari paling bergengsi itu.

“Ada orang mengatakan aku bakal bisa immortal, hidup abadi…. Dua medali lagi dan aku akan berhenti. Immortal,” kata Bolt, dikutip BBC, setelah mengalahkan Gatlin dan Andre de Grasse. “Hari ini aku tidak berlari sempurna, tapi menuntaskannya dengan baik…. Tak ada orang lain yang pernah mencapainya.”

Bolt memang pantas agak jumawa. Sampai hari ini, tak ada pelari lain yang punya catatan sedahsyat dia: pemegang rekor dunia di nomor lari 100 meter, 200 meter, dan estafet 4 x 100 meter. Beberapa peneliti menyimpulkan, Bolt sebenarnya bisa berlari lebih kencang lagi dan menjadi satu-satunya manusia yang bisa berlari sejauh 100 meter dalam waktu kurang dari 9,5 detik. Rekornya untuk lari 100 meter adalah 9,58 detik, sementara di lari 200 meter, catatan terbaik Bolt adalah 9,19 detik.

Matematikawan dari Universitas Bloomsburg, Inggris, Reza Noubary, pernah membuat simulasi dan menghitung batas waktu yang bisa dicapai manusia untuk berlari sejauh 100 meter adalah 9,44 detik. Setelah melihat catatan waktu Bolt, dia meralatnya. ”Barangkali angkanya bisa sedikit lebih kecil,” kata Profesor Reza kepada Wired. Dalam bukunya, The Perfection Point, John Brenkus menaksir batas waktu maksimum kemampuan lari manusia sejauh 100 meter adalah 8,99 detik. “Kecuali manusia telah berubah spesies, itulah kemampuan lari paling cepat yang bisa dicapai manusia.”

Usain Bolt di Olimpiade Brasil, 2016
Foto: Reuters

Profesor John D. Barrow, dosen matematika di Cambridge University, Inggris, punya tip untuk Bolt supaya dia bisa memecahkan rekornya dan barangkali bisa menembus waktu 9 detik. Menurut Profesor Barrow, tanpa perlu banyak usaha, sebenarnya Bolt bisa mencetak rekor 9,45 detik.

“Pertama, reaksi Bolt saat start sangat buruk untuk kelas sprinter seperti dia,” kata Profesor Barrow, kepada Daily Beast, beberapa waktu lalu. Jika Bolt bisa memperbaiki tolakan kaki pertamanya, menurut Barrow, dia bisa memangkas waktu menjadi 9,53 detik.

Kedua, Bolt bisa memanfaatkan kecepatan angin hingga batas yang diperkenankan, yakni 2 meter per detik. Dengan cara ini, lagi-lagi Bolt bisa mengurangi waktunya menjadi 9,48 detik. Cara ketiga, dengan berlari di dataran tinggi. Menurut aturan internasional, ketinggian lokasi lomba yang diperkenankan adalah 1.000 meter di atas permukaan laut. Jika Bolt bisa berlari di dataran tinggi, ada kemungkinan Bolt bisa memangkas lagi catatan waktunya menjadi 9,45 detik.

Sampai berapa cepat kemampuan alamiah manusia dalam berlari memang masih jadi teka-teki. “Kita masih jauh untuk memahami berapa batas kecepatan seorang Usain Bolt dan sprinter lainnya,” kata Barrow. Peter Weyand, peneliti olahraga dari Universitas Southern Methodist, Amerika Serikat, mengatakan sangat sulit menghitung batas maksimum kemampuan seorang sprinter. “Lari jarak pendek merupakan sebuah lubang hitam,” katanya.

* * *

Bagaimana Usain “Lightning” Bolt bisa berlari jauh lebih kencang ketimbang miliaran orang di dunia masih sulit dipahami.

Maurice Wilson, Direktur Teknik Tim Olimpiade Jamaika, dengan nada bergurau mengatakan “rahasia” kemampuan lari Bolt barangkali adalah ubi yang jadi santapan sehari-hari ibunya, Jennifer, saat mengandung. “Ubi adalah sumber karbohidrat yang kaya serat dan banyak menyimpan asam fitat, senyawa yang berperan penting dalam pembentukan otot ‘cepat’,” kata Maurice, kepada National Post. Tapi tak lantas makan banyak ubi akan menjadikan orang bisa berlari sekencang Usain Bolt
Usain Bolt mengacungkan sepatunya setelah memenangi lari 100 meter di Olimpiade Brasil, 2016
Foto: Reuters

Lintasan atletik milik SMA William Knibb di Kingston, Jamaika, sama sekali tak mirip sebuah lintasan yang telah melahirkan Usain Bolt, 25 tahun, pelari tercepat di antara 7 miliar manusia di bumi. Rumput kering liar meranggas, tumbuh menguning terbakar matahari.

Yang menandai lapangan itu sebuah lintasan atletik hanyalah garis-garis panjang yang dibuat dengan oli bekas. Yeonkeo McKay, guru olahraga SMA William Knibb, menceritakan bagaimana Usain Bolt muda berlatih di lintasan ala kadarnya itu. “Dia selalu ingin menang,” kata McKay, kepada Der Spiegel, beberapa tahun lalu.

Wilton Peart, sprinter amatir di Kingston, mengatakan berlari di lapangan rumput menguatkan otot-otot kaki. Walaupun hanya hasil analis amatiran tanpa bukti ilmiah, Peart percaya lapangan rumput dan motivasi untuk lepas dari belenggu kemiskinanlah yang membentuk kemampuan lari Usain Bolt dan pelari-pelari cepat asal Jamaika.

Resep “rahasia” yang membuat Bolt, Asafa Powell, dan Yohan Blake bisa melesat secepat kilat terang tak segampang analisis Peart. “Aku dengar kamu dari sebuah majalah investigatif. Percayalah, kamu tak akan menemukan rahasia apa pun di sini,” kata Glen Mills, pelatih Bolt, kepada wartawan Der Spiegel yang menelusuri jejak sprinter-sprinter Jamaika.

Annete Hosoi, peneliti dari Massachusetts Institute of Technology, mengatakan kunci kecepatan Bolt ada pada tinggi badan dan kekuatan tubuhnya. Dengan tinggi badan 196 sentimeter, Bolt merupakan pelari tercepat bertubuh paling tinggi yang pernah meraih emas di lintasan Olimpiade. Rata-rata pelari cepat perlu 44 langkah kaki untuk mencapai jarak 100 meter. Bolt hanya butuh 41 langkah.