SOLID GOLD BERJANGKA – Melawan teman sendiri dalam sebuah pertandingan olahraga mungkin sudah biasa. Namun bagaimana jika seorang atlet harus berkompetisi dengan ibunya apalagi ketika memperebutkan emas? Hal tersebut dialami atlet panahan Dellie Threesyandinda saat melawan Lilies Handayani di kejuaraan Asian Grand Prix 2007 di Iran. Peristiwa itu pun menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Dinda karena hanya terpaut nilai satu poin dengan sang ibu.

Ibu Dinda memang merupakan atlet legendaris yang dijuliki ‘3 Srikandi’ bersama dua rekannya, Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani. Ketiganya mencetak sejarah karena berhasil merebut medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan. Saat melawan ibunya yang sudah berprestasi skala dunia, Dinda pun mengaku tetap bersemangat sekaligus gugup seperti menghadapi lawan-lawan kebanyakan.

“Mama masih manah waktu itu, tahun 2007. Kita perebutan emas di situ dan aku kalah satu poin. Tapi ya aku anggap itu wajar, menang kalah sudah biasa. Mama juga nggak pernah nge-push aku harus menang cuma di saat itu memang nggak terlupakan saja. Semua orang tahu aku anak Lilies dan itu all Indonesian final,” kata Dinda saat ditemui Wolipop di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Punya ibu seorang atlet legendaris tentu membanggakan. Apalagi pengalaman Lilies dan dua temannya tersebut diangkat ke layar lebar dalam film ‘3 Srikandi’ yang saat ini tengah tayang di bioskop. Dinda pun merasa jika film tersebut bisa cukup efektif dalam memperkenalkan olahraga panahan secara lebih meluas. Terlebih sinema itu memperlihatkan semangat juang para Srikandi dan dibintangi aktor-aktor papan atas.

Selain berharap ‘3 Srikandi’ bisa mempopulerkan panahan, Dinda juga berusaha mengenalkan olahraga tersebut melalui sekolah panahan milik keluarganya di Surabaya, Jawa Timur. Meski belum aktif mendidik, ia mengaku sering berbagi saran dan pengalaman serta memantau perkembangan para murid di Srikandi Archery School itu. Wanita kelahiran 12 Mei 1990 ini pun punya satu cita-cita yang belum terwujud terkait mempopulerkan panahan.

“Ke depannya aku ingin mengajak anak-anak yatim piatu dari panti asuhan (untuk latihan panahan). Itu cita-citaku yang belum tercapai. Mereka mungkin susah untuk mendapatkan akses memanah jadi aku ingin mengundang beberapa dari mereka. Mungkin ada yang bagus bisa kita tarik,” ungkap Dinda.

Menurut Dinda, atlet-atlet panahan Indonesia sebenarnya sudah memiliki prestasi yang baik. Namun olahraga yang butuh kekuatan, ketahanan, dan fokus tersebut masih kurang diperhatikan dan dipublikasikan. Ia pun berharap agar pemerintah mau menyokong dengan lebih maksimal, misalnya dengan memberikan peralatan yang mendukung.

“Mereka (pemerintah) mendukung tapi kalau dibandingkan dengan negara maju memang jauh tapi cukup. Kami bertanding dengan alat yang cukup tapi kami memaksimalkan. Olahraga itu kan bisa jadi perwakilan bangsa. Kita nggak ada perang lagi, sekarang perangnya prestasi,” kata wanita yang kuliah jurusan Hukum di Universitas Airlangga itu.