Ini Penyebab Harga Sapi Impor dari Australia Masih Tinggi

SOLID GOLD BERJANGKA – Harga daging sapi impor dari Australia tetap diminati karena kualitasnya yang bagus. Apa yang membuat daging sapi impor asal Australia masih mahal?

Asosiasi eksportir sapi di Darwin mengungkapkan salah satu penyebab tingginya harga sapi ekspor. Sebenarnya, saat masih berada di Darwin, untuk harga sapi bakalan (sapi yang akan disalurkan ke feedloter) itu dibanderol dengan harga AUD 3 per kilogram bobot hidup, atau sekitar Rp 30 ribu. Namun, permohonan izin untuk mengirim sapi dan kebijakan pemerintah Indonesia yang bisa berubah mendadak, membuat para importir harus mengeluarkan komponen biaya tambahan lebih. Ujung-ujungnya, berpengaruh pada harga jual.

“Harganya memang sangat fluktuatif karena ini pasar bebas. Ketika pengiriman harus tertunda, maka kami juga mengeluarkan biaya ekstra dan akan berakibat pada naiknya harga. Suplai juga menyebabkan harga dinamis, belum lagi dengan permintaan yang tidak terprediksi,” kata CEO Northern Territory Livestock Exporters Association (NTLEA), Stuart Kemp.

Stuart mengatakan hal itu saat diwawancara detikcom dan 2 media lain yang difasilitasi Australia Plus ABC Internationaldi Berrimah Export Yard, Darwin, NT Australia. Export yard adalah lapangan tempat sapi-sapi dikumpulkan dari para peternak sebelum dikapalkan untuk diekspor.

Stuart menjelaskan, selama ini banyak biaya ekstra yang harus dikeluarkan para eksportir. Biaya ekstra terutama disebabkan terlalu lamanya penerbitan izin oleh pemerintah Indonesia, sehingga pengiriman sapi tertunda.

Stuart kemudian mencontohkan, dalam satu tahun asosiasi eksportir di Darwin mengirim 600 ribu sapi dalam 4 periode pengiriman. Setiap periode pengiriman harus mengantongi izin. Misal dalam jangka waktu Januari-April 2016, ada 150 ribu sapi yang dikirim. Namun, izin baru keluar pada akhir bulan Maret, sehingga dalam jangka waktu satu bulan harus mengirim sekaligus 150 ribu sapi, karena bila sampai melampaui April 2016, maka itu sudah masuk periode kirim lain. Akibatnya, dibutuhkan lebih banyak kapal dan lebih banyak logistik untuk mengirim sapi ke Indonesia.

Sebenarnya, sapi sudah siap dikirim sejak bulan Februari. Namun, karena izin yang lama turun, sehingga proses pengiriman harus tertunda dengan akibat biaya operasional meningkat.

“Efek dari lamanya izin turun adalah kapal harus bersandar lebih lama, sedangkan kami menyewa per hari, sehingga biaya operasional lebih tinggi. Kapal hanya bersandar di pelabuhan, tidak melakukan apa-apa tapi kami harus tetap membayar,” kata Service Manager South East Asian Livestock Services (SEALS) Kevin Mulvahil.

“Bila pengiriman tertunda, kami juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk makanan sapi. Itu juga cukup memberatkan,” jelasnya.

Belum lagi, para importir juga harus bersiap-siap dengan risiko perubahan kuota. Jumlah permintaan sapi dari Indonesia sering tidak terprediksi dan sangat mendadak.

Ada kalanya permintaan melonjak, sehingga eskportir harus bekerja keras mengumpulkan sapi. Namun, tak jarang juga saat eksportir sudah menyiapkan banyak sapi, tiba-tiba kuota dipangkas.

“Kadang kami lalu harus menjual sapi ke tempat lain ketika permintaan diturunkan, kadang kami menjual ke Vietnam,” tutur Kevin.

Untuk menutupi biaya ekstra yang timbul akibat pesanan yang dinilai cukup dadakan itu, akhirnya para eksportir menaikkan harga sapi. Kevin menyarankan, bila Indonesia ingin harga sapi impor rendah, maka sebaiknya kuota impor dibebaskan.

“Akan lebih baik bila Indonesia menerapkan pasar bebas, akan lebih banyak suplai dengan harga yang kompetitif dan akan semakin banyak pilihan. Itu akan lebih menguntungkan bagi konsumen,”