Ini Pesan Dokter Bagi Pasien Hipertensi Agar Lancar Berpuasa

SOLID – Ketergantungan pasien hipertensi pada obat membuatnya sulit untuk menjalankan ibadah puasa. Tetapi bukan berarti ini tidak bisa disiasati.

Dijelaskan dr Probosuseno, SpPD-KGer(K) dari RSUP Dr Sardjito, hipertensi merupakan sebuah kondisi yang harus dikendalikan, bahkan mungkin hingga seumur hidup.

Cara untuk mengendalikannya pun ada dua: dengan obat ataupun non-obat. Untuk itu, ketika seorang pasien hipertensi ingin berpuasa, ada persiapan khusus yang harus dilakukannya.

SOLID – Pertama, yang bersangkutan harus melakukan check-up sebelum bulan puasa tiba untuk memastikan kesiapan fisiknya. Kedua, bila dari hasil check-up dikatakan pasien butuh obat maka ia berhak meminta dokter untuk meresepkan obat yang bisa diminum satu hari sekali atau dua hari sekali dan jadwal tersebut tidak terpengaruh oleh makanan.

Sedangkan bagi yang tekanan darahnya masih di bawah 100 mm/Hg, bisa diatasi dengan mengurangi konsumsi makanan yang bisa memicu kenaikan tekanan darah, apalagi kalau bukan makanan asin seperti mentega, margarin kemudian pengawet.

“Kecuali yang tensi atau tekanan darah tingginya mencapai 200 mm/Hg lebih, itu nggak boleh. Sebab hipertensi yang tinggi banget, sampe 200, itu harus segera diobati. Kalau nggak bisa kena stroke,” tandasnya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Baca juga: Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Pasien Hipertensi Berpuasa

SOLID – Yang tak kalah penting, pasien hipertensi sangat dianjurkan untuk mengonsumsi sayur dan buah-buahan karena keduanya mengandung kalium yang bersifat anti-natrium sehingga bisa menurunkan tekanan darah.

Meski demikian, menurut dr Probo, pasien hipertensi yang berpuasa sebenarnya justru akan merasakan manfaat yang luar biasa. “Sebenarnya kalau puasanya bagus, berat badannya turun 2-3 kg, pasti tensinya akan turun sendiri, otomatis,” tegasnya.

Fakta ini juga telah ia buktikan lewat penelitian yang pernah dilakukannya di tahun 2000. Pasien hipertensi yang berpuasa mengalami penurunan tekanan darah secara drastis, terutama di minggu pertama. “Ada yang turun 40-60 mm/Hg, dari yang semula 180 mm/Hg begitu puasa jadi 130 mm/Hg,” ungkapnya.

Namun bila tensi tak turun-turun meski sudah berpuasa, dr Probo mengingatkan bahaya stres atau beban pikiran terhadap tubuh. “Kopi nggak, rokok nggak, tapi cemasnya minta ampun, bisa jadi itu yang bikin tensi nggak turun. Sebaiknya gaya hidupnya yang diubah,” pesannya.

Meski demikian, menurut dr Probo, pasien hipertensi yang berpuasa sebenarnya justru akan merasakan manfaat yang luar biasa. “Sebenarnya kalau puasanya bagus, berat badannya turun 2-3 kg, pasti tensinya akan turun sendiri, otomatis,” tegasnya.

Fakta ini juga telah ia buktikan lewat penelitian yang pernah dilakukannya di tahun 2000. Pasien hipertensi yang berpuasa mengalami penurunan tekanan darah secara drastis, terutama di minggu pertama. “Ada yang turun 40-60 mm/Hg, dari yang semula 180 mm/Hg begitu puasa jadi 130 mm/Hg,” ungkapnya.

Namun bila tensi tak turun-turun meski sudah berpuasa, dr Probo mengingatkan bahaya stres atau beban pikiran terhadap tubuh. “Kopi nggak, rokok nggak, tapi cemasnya minta ampun, bisa jadi itu yang bikin tensi nggak turun. Sebaiknya gaya hidupnya yang diubah,” pesannya.

Dijelaskan dr Probosuseno, SpPD-KGer(K) dari RSUP Dr Sardjito, hipertensi merupakan sebuah kondisi yang harus dikendalikan, bahkan mungkin hingga seumur hidup.

Cara untuk mengendalikannya pun ada dua: dengan obat ataupun non-obat. Untuk itu, ketika seorang pasien hipertensi ingin berpuasa, ada persiapan khusus yang harus dilakukannya.

Pertama, yang bersangkutan harus melakukan check-up sebelum bulan puasa tiba untuk memastikan kesiapan fisiknya. Kedua, bila dari hasil check-up dikatakan pasien butuh obat maka ia berhak meminta dokter untuk meresepkan obat yang bisa diminum satu hari sekali atau dua hari sekali dan jadwal tersebut tidak terpengaruh oleh makanan.

Sedangkan bagi yang tekanan darahnya masih di bawah 100 mm/Hg, bisa diatasi dengan mengurangi konsumsi makanan yang bisa memicu kenaikan tekanan darah, apalagi kalau bukan makanan asin seperti mentega, margarin kemudian pengawet.