SOLID GOLD BERJANGKA – Guna menekan harga sekaligus memberi alternatif baru untuk daging sapi segar yang masih dijual di atas Rp 100.000/kg, Kementerian Pertanian (Kementan) memilih membuka opsi impor jeroan.

Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan, pihaknya heran sejumlah pihak mengkritik kebijakan impor jeroan dengan alasan sumber kolesterol yang jadi pemicu berbagai macam penyakit .

Menurutnya, jeroan impor sudah lama masuk ke dalam negeri, yakni lewat sapi-sapi bakalan hidup yang diimpor dari Australia.

“Sesungguhnya dalam impor ratusan ribu ekor sapi bakalan selama ini, justru membawa ribuan kilogram jeroan di dalam tubuh sapi tersebut ke Indonesia. Lalu kemana jeroannya? Apakah dibuang atau ditanam? Tentu tidak,” kata Ketut dalam keterangan resminya, Rabu (24/8/2016).

“Artinya mengimpor sapi bakalan sesungguhnya juga mengimpor jeroan. Namun kenapa isi jeroan hasil impor bakalan ini tidak pernah dipermasalahkan. Demikian juga dalam pemotongan sapi lokal,” imbuhnya.

“Inilah yang saya maksudkan bahwa masyarakat perlu kita cerdaskan bersama, sesuai bidang keilmuan yang dimiliki. Kesungguhan Kementan dalam merespons kebutuhan pangan tentu dinilai oleh berbagai otoritas yang kompeten dibidangnya. Kita tidak akan memberi bantahan apapun, jika hal itu dilakukan secara obyektif dan profesional,” ujarnya.

Ketut menuturkan Kementan membuka impor jeroan karena telah mempertimbangkan mudarat dan manfaatnya. Impor jeroan, kata dia, merupakan salah satu pilihan yang sifatnya temporer untuk menstabilkan harga daging sapi.

“Tentu hal ini penting untuk memberikan pilihan lebih banyak kepada masyarakat kita, dalam memilih jenis daging yang diinginkan,” pungkasnya.