wisnu

SOLID GOLD BERJANGKA – Banyak cerita masa sekolah bagi Teuku Wisnu. Mulai dirinya hanya ‘anak kampung’ yang datang merantau ke kota besar saat kelas 2 SMP dengan segala pergaulannya, hingga penyusuaian dirinya. Tersimpan kisah yang membuat kami sedikit geli saat mendengarkan cerita pria peraih penghargaan Aktor Favorit Panasonic Award 2009 itu.

SOLID GOLD BERJANGKA – Saat memasuki bangku SMA, Wisnu bersekolah di SMA Negeri 3, Setia Budi, Jakarta Selatan. Walaupun dirinya banyak bertemu dengan teman-temannya sewaktu masa kecil di Aceh, namun ayah dari Teuku Adam Al fatih itu masih harus tetap menyesuaikan diri.

SOLID GOLD BERJANGKA – “Kelas 1 SMA saya sekali pindah. Saya waktu di SMA 3 Setia Budi, kelas satu sama sahabat-sahabat saya sampe sekarang masih bertaman insya Allah. Kelas satu berteman, emang kaget yah karena pergaulan anak-anak SMA 3 Setia Budi dalam arti dari kalangan ini dari kalangan itu. Saya sampe kaget, ‘Oh kaya gini yah, Jakarta.’ kadang-kadang suka di ledekin sama temen-temen saya pakai bahasa bahasa Aceh logatnya, ‘Eh gimana nih gimana nih.’ Bercanda-bercanda dengan teman suka diisengin juga karena mereka itu suka bercanda-bercanda,” kisahnya dengan aksen daerah Aceh.
“Temen-temen saya itu suka bercanda gitu secara keseluruhan karena saya kan nggak tau yah, saya kan adaptasinya belum gimana gaya main mereka. Nah, ternyata seperti ini,” tambahnya.

Ada satu hal yang membuat seorang Teuku Wisnu mengingat kejadian di mana dirinya harus tidak masuk sekolah. Ketiduran adalah hal yang sering terjadi pada dirinya saat harus berangkat sekolah dari Cireundeu ke Setia Budi dengan menggunakan bus AC.

“Ada kejadian saya pindah, saya tinggalnya di Cirendeu lalu ke Setia Budi. Lumayan jauh yah saya harus naik angkot dulu kan yah ke Pasar Jumat. Dari Pasar Jumat, saya naik bus ke Setia Budi, lewat Sudirman situ. Ya udah gitu busnya AC ya kadang-kadang suka ketiduran, tiba-tiba udah nyampe Gambir. Tiba-tiba udah sampai di daerah situ akhirnya sering nggak masuk. Sampai kita akhirnya malah saya nongkrongnya suka ke tempat-teman saya,” urainya seraya tertawa.
Kerap ketiduran di bus AC membuat Teuku Wisnu terkadang harus absen sekolah. Gerbang sekolah yang sudah tepat waktu harus ditutup oleh penjaga sekolah.
“Saya nggak tau kalau gerbang di SMA 3 itu pintunya ditutup dan nggak bisa masuk. Akhirnya nggak ada teman, gerbang tutup. Saya misalkan kadang-kadang saya balik, aduh udah telat. Paling saya baca koran di luar sama tukang koran. Bingung kan lama-lama kaya gitu juga. Akhirnya orangtua saya melihat saya telat terus, dipindahkan lah saya untuk lebih dekat lagi. Akhirnya pindah lah ke SMA Negeri 34 Pondok Labu,” pungkasnya.