Harga Minyak Jatuh, Laba Perusahaan Migas Anjlok

Solid Gold Berjangka Makassar – Harga Minyak Amerika Serikat (AS) melonjak 2% setelah data industri menunjukkan persediaan minyak menurun. Selain itu, lonjakan juga disebabkan oleh investor yang menunggu hasil dari pilprea AS 2020.

Dikutip dari Reuters, Rabu (4/11/2020) harga jenis minyak West Texas Intermediate CLc1 naik US$ 1,01, atau 2,7%, menjadi US$ 38,67 per barel. Minyak mentah Brent LCOc1 belum diperdagangkan, namun telah naik 3% pada Selasa.

Pekan lalu harga minyak anjlok 10% yang disebabkan meningkatnya kasus COVID-19 di seluruh dunia dan banyaknya pembatasan wilayah. Minyak di AS terancam rugi jelang di tiga pekan lalu menuju pilpres 2020.

Banyak negara yang kini melakukan lockdown dapat membatasi kenaikan harga minyak. Negara yang kini tengah melakukan lockdown di antaranya Italia, Norwegia, Hungaria, Inggris, Prancis, dan lainnya.

Menurut ANZ Research kini pasar energi tengah berhati-hati jelang pemilihan. Kedua calon presiden diketahui memiliki kebijakan energi yang berbeda. Tentunya keduanya sama-sama memiliki kekuatan dalam mempengaruhi harga minyak dalam jangka menengah.

Data dari kelompok industri American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah turun 8 juta barel pekan lalu menjadi sekitar 487 juta barel, sedangkan stok bensin meningkat.

Demi mendukung harga, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan OPEC+ yang dipimpin oleh Rusia dan akan mengurangi produksi minyak hingga 7,7 juta barel per hari (bph) menjadi sekitar 2 juta bpd mulai Januari 2021.

Anggota OPEC, Aljazair mendukung penangguhan rencana kenaikan produksi minyak OPEC+ mulai Januari 2021 dan Menteri Energi Rusia akan meningkatkan prospek dengan produsen minyak negara itu.