Menanti Hat-trick Prancis di Eropa

SOLID GOLD BERJANGKA – Berstatus tuan rumah, diperkuat pemain-pemain top Eropa, diarsiteki eks juara Euro dan juara dunia, sudah cukupkah modal Prancis untuk dijagokan sebagai juara 2016? Agak tidak meyakinkan memang, tapi setidak-tidaknya sudah ada pertanda ke arah sana.

Hasil seri tanpa gol kontra Swiss di Stade Pierre-Mauroy memastikan posisi Prancis sebagai juara Grup A. Hugo Lloris cs. lolos ke fase knock-out dengan koleksi poin tujuh hasil dua kali menang dan sekali seri. Tak terkalahkan.

Catatan gol pun terbilang bagus. Prancis mencetak empat gol dan hanya kebobolan sekali. Kalau tidak karena eksekusi penalti yang diderita saat melawan Rumania, rasa-rasanya gawang Lloris masih perawan hingga saat ini.

Lalu di mana pertandanya? Di dua pertandingan awal.

Kemenangan beruntun yang diraih skuat asuhan Didier Deschamps di dua laga awal grup merupakan sebuah catatan istimewa. Dari sembilan partisipasi di putaran final Euro, ini kali ketiga Prancis memenangi dua partai pertama fase grup. Nah, pada dua kesempatan sebelumnya Les Bleus mengakhiri kompetisi sebagai juara.

Sejak menjadi tuan rumah di gelaran perdana pada 1960, Prancis tak pernah lagi mencicipi atmosfer putaran final Euro hingga kembali ditunjuk sebagai tuan rumah pada 1984. Itu artinya, selama 24 tahun mereka tidak sekalipun berpartisipasi di Euro. Lebih tegasnya lagi, Prancis selalu gagal melalui babak kualifikasi dan hanya lolos sebagai tuan rumah.

Toh, Prancis tetap menjadi ancaman. Di Euro 1960 yang format kompetisinya masih babak knock-out dari awal hingga akhir, posisi empat besar sukses diraih. Sepanjang perjalanannya Les Bleus membantai Yunani dengan skor agregat 8-2, lalu menghajar Austria 9-4.

Masa itu putaran final hanya diikuti oleh empat tim. Secara otomatis kompetisi langsung digelar dari babak semifinal. Prancis sebagai representasi Eropa Barat, dikepung tiga raksasa Eropa Timur: Yugoslavia, Uni Soviet dan Cekoslowakia. Hasil undian mempertemukan Prancis dengan Yugoslavia. Sebuah pertandingan ketat terjadi. Prancis sempat memimpin 4-2 hingga menit 74, namun tiga gol yang menjebol gawang Georges Lamia pada menit ke-75, 78 dan 79 membuat skor akhir menjadi 4-5 untuk kemenangan Yugoslavia.

Pertunjukan Michel Platini

Sejak itu, Prancis tak pernah bisa menembus putaran final Euro. Barulah ketika UEFA kembali memberi mandat sebagai tuan rumah pada 1984, nama Prancis ada dalam daftar peserta. Sebuah momentum yang tidak disia-siakan oleh tim “Ayam Jantan”. Mereka ingin melanjutkan euforia usai mencapai semifinal Piala Dunia 1982.

Diarsiteki oleh eks pemain AS Monaco, Michel Hidalgo, skuat Prancis saat itu diisi oleh mayoritas pemain liga lokal. Hanya Michel Platini seorang yang merumput di luar negeri. Ya, fans Juventus tak perlu diberi tahu soal ini. Dalam perjalanannya, Platini seolah-olah seorang diri membawa negaranya menjuarai Euro 1984.

Prancis tergabung di Grup 1 bersama Denmark, Belgia dan Yugoslavia. Di Grup 2 ada Spanyol, Portugal, Jerman Timur dan Rumania. Hanya delapan tim, sama seperti perhelatan empat tahun sebelumnya di Italia di mana kali pertama putaran final Euro memakai format grup dengan sistem setengah kompetisi.

Platini langsung menunjukkan pengaruhnya di pertandingan pertama. Gol tunggalnya menjadi penentu kemenangan atas Denmark. Di pertandingan kedua, Platini mencetak hat-trick dan mengantar Prancis menang telak 5-0 atas Belgia. Belum cukup dengan satu hat-trick, striker Juventus tersebut kembali mencetak tiga gol ke gawang Yugoslavia di partai pamungkas yang berakhir 3-2.

Sebuah awal sempurna. Prancis jadi satu-satunya kontestan yang memenangkan tiga pertandingan grup, paling banyak mencetak gol, serta memiliki selisih gol paling bagus di antara seluruh kontestan. Tapi ujian sesungguhnya bagi tuan rumah baru tersaji di semifinal.

Menghadapi Portugal yang lolos sebagai runner-up Grup 2, Prancis harus menentukan kemenangan pada menit ke-119. Unggul lebih dahulu di babak pertama lewat gol Jean-Francois Domergue, balasan Portugal di babak kedua melalui Rui Jordao memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak ekstra 2×15 menit. Jordao berbalik membawa Portugal unggul 2-1 di menit ke-98. Domergue menyamakan skor enam menit berselang, dan gol Platini semenit jelang babak ekstra berakhir mengantar Prancis ke final.

Spanyol dengan status juara Piala Dunia 1982 telah menunggu. Akan tetapi Prancis tampil baik. Setelah sempat berjalan ketat di babak pertama, Platini membawa timnya unggul 1-0 pada menit ke-57. Gol Bruno Bellone pada menit terakhir menjadi pelengkap pesta. Trofi mayor pertama bagi Prancis.