badminton

 

SOLID GOLD BERJANGKA – Pelatih ganda campuran pelatnas bulutangkis PBSI, Richard Mainaky, berfokus menggenjot fisik dan komunikasi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dalam sisa waktu menuju Olimpiade 2016 di Brasil.

Ganda campuran memang mempunyai beban tersendiri dalam Olimpiade. Selalu mempunyai pasangan-pasangan tangguh yang menjadi juara dunia dan Olimpiade, tapi mereka belum berhasil membawa pulang medali emas Olimpiade. Hasil terbaik yang diperoleh adalah medali perak dari pasangan Tri Kusharjanto/Minarti Timur pada Olimpiade 2000 dan Owi/Liliyana delapan tahun kemudian.

Nah, Richard menyimpan ekspektasi agar emas bisa diraih dari Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Mumpung mereka berhasil meloloskan dua pasangan yang sip ke ajang olahraga empat tahunan tersebut, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto.

Saat ini, dua bulan menjelang keberangkatan ke Rio de Janeiro, Richard berfokus mengasah fisik setelah tenaga dan pikiran para pemain terkuras habis usai tampil dalam rentetan turnamen kualifikasi Olimpiade serta dua turnamen penentuan daftar unggulan di Indonesia Terbuka dan Australia Terbuka.

“Kemarin itu kan siap tidak siap mereka harus berangkat mengikuti 20 turnamen dari Mei 2015-Mei 2016. Karena kalau tidak berangkat bisa-bisa tidak lolos,” kata Richard.

Hasilnya, Tontowi/Liliyana berhasil mengamankan posisi kedua pada peringkat ganda campuran ke Olimpiade meskipun hasil setahun belakangan kurang sip, termasuk dua turnamen paling akhir Indonesia Terbuka dan Australia Terbuka. Di Indonesia Terbuka Owi/Butet kalah di babak kedua, sementara di Australia mereka kalah di babak pertama.

“Kami melihat bukan hanya pemain Indonesia saja yang kurang sip, pemain negara lain yang tengah berebut poin Olimpiade pun perfomanya juga turun. Karenanya, kami akan benahi fisik mereka di sisa dua bulan ini, di samping ada teknik maupun non teknisnya juga,” ujarnya.

Adapun faktor nonteknis yang menjadi perhatian Richard adalah persoalan komunikasi di antara Owi dan Butet. Apalagi saat jadwal pertandingan ketat dan tekanan amat tinggi menjadikan para pemain lebih sensitif.

“Saat kondisi fisik sangat menurun, komunikasi apapun menjadi serba salah,” ungkap Richard.

“Di sisa waktu yang ada ini instensitas untuk bertemu dengan pemain dan berkomunikasi jauh lebih meningkat. Saat ini sudah dijalankan dan akan terus berlanjut hingga ke Kudus dan Sao Paolo nanti.

“Selain itu kami juga akan libatkan psikolog dari Prima untuk mengatur mindset pemain,” ungkap dia.

Menyoal persaingan, Richard menyebut, saat ini pemain ganda campuran sudah merata. Meski China tetapi diakuinya cukup berat.

“China dan Indonesia itu sama-sama menurunkan dua pasang ganda campurannya. Tapi China itu pasangannya juga batu (sama-sama keras), jadi berat juga,” pungkasnya.