Obat Ini Bisa Bantu Cegah Stroke pada Pasien Fibrilasi Atrium

SOLID GOLD BERJANGKA – Fibrilasi atrium (FA) atau degup jantung tak teratur bisa menyebabkan stroke. Meski memang tidak semua pasien FA bisa mengalami stroke. Untuk mencegahnya bisa dilakukan dengan mengonsumsi antikoagulan oral terbaru.

“Antikoagulan adalah obat pengencer darah yang berfungsi mencegah proses pembekuan darah,” tutur Dr dr Rocksy Fransisca VS, SpS dalam acara Seminar Kesehatan di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, baru-baru ini.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa stroke terjadi karena adanya pembekuan darah yang lepas dari jantung dan menyumbat pembuluh darah. Umumnya sumbatan terjadi di pembuluh darah otak yang besar seperti artery streving media.

Pembuluh darah yang tersumbat tersebut sebagian besar mengaliri sisi otak bagian depan. Karena terjadi penyumbatan maka hampir 2/3 bagian otak dapat rusak dan menyebabkan stroke. “Jika stroke terjadi pada bagian yang luas maka kerusakan saraf dapat terjadi seperti lumpuh atau kebas,” sambung dr Fransisca.

Namun pemilihan obat antikoagulan ini tidak sembarangan. Dikatakan dr Fransisca obat tersebut berbeda pada setiap pasiennya dan pemberiannya tergantung kondisi pasien.

Jika risiko pendarahan pada pasien tinggi maka dokter akan menggunakan obat yang lebih ringan. Sebaliknya jika risiko pendarahan rendah pada seseorang maka dokter akan memilih obat yang lebih kuat.

Risiko pendarahan dapat dilihat dari riwayat pasien seperti adanya gangguan ginjal, riwayat stroke dan pendarahan, serta minum atau tidaknya alkohol.

Perlu diketahui pula stroke yang disebabkan FA umumnya punya dampak yang lebih buruk bila dibanding serangan stroke yang tidak disebabkan FA. Stroke yang disebabkan FA bisa meningkatkan risiko kelumpuhan dan juga rusaknya fungsi otak.

Pembuluh darah yang tersumbat tersebut sebagian besar mengaliri sisi otak bagian depan. Karena terjadi penyumbatan maka hampir 2/3 bagian otak dapat rusak dan menyebabkan stroke. “Jika stroke terjadi pada bagian yang luas maka kerusakan saraf dapat terjadi seperti lumpuh atau kebas,” sambung dr Fransisca.

Namun pemilihan obat antikoagulan ini tidak sembarangan. Dikatakan dr Fransisca obat tersebut berbeda pada setiap pasiennya dan pemberiannya tergantung kondisi pasien.

Jika risiko pendarahan pada pasien tinggi maka dokter akan menggunakan obat yang lebih ringan. Sebaliknya jika risiko pendarahan rendah pada seseorang maka dokter akan memilih obat yang lebih kuat.

Risiko pendarahan dapat dilihat dari riwayat pasien seperti adanya gangguan ginjal, riwayat stroke dan pendarahan, serta minum atau tidaknya alkohol.

Perlu diketahui pula stroke yang disebabkan FA umumnya punya dampak yang lebih buruk bila dibanding serangan stroke yang tidak disebabkan FA. Stroke yang disebabkan FA bisa meningkatkan risiko kelumpuhan dan juga rusaknya fungsi otak.