Dolar ditransaksikan pada dua tahun terendahnya terhadap euro seiring laporan menunjukkan sentimen konsumen AS jatuh melebihi dari perkiraan, menambah spekulasi ekonomi sedang berjuang dan Federal Reserve akan menunda pemotongan stimulus.

Dolar AS menuju penurunan mingguan kedua terhadap yen sejalan dengan penuruan pesanan pada barang-barang kadaluarsa (durable goods) daripada perlengkapan transportasi. Para pembuat kebijakan AS yang akan bertemu pada pekan depan akan menunda pemangkasan pembelian obligasi bulanan hingga bulan Maret, menurut survei Bloomberg. Sementara itu mata uang Swedia mengalami gain pasca kepercayaan konsumen naik pada bulan ini. Dolar Selandia Baru tergelincir pasca gubernur bank sentral mengatakan kecemasan dia akan tingkat suku bunga yang tinggi akan menguatkan mata uangnya.

“Margin dolar akan masih melemah,” menurut Brad Bechtel, managing director dari Faros Trading LLC di Stamford, Connecticut.

Mata uang AS terdeprisiasi sebesar 0.2% pada level $1.3832 per euro, level terendah sejak bulan November 2011, sebelum ditransaksikan mengalami sedikit berubah pada level $1.3792 per euro pukul 10:01 pagi waktu New York. Dolar berada pada level 97.35 yen pasca mencapai 96.94, level terendah sejak tanggal 9 Oktober. Dolar telah mengalami penurunan sebesar 0.8% pada pekan ini terhadap euro dan sebesar 0.4% terhadap yen. Euro mengalami sedikit berubah pada level 134.26 yen, bersiap untuk mendapatkan gain pekan ini sebesar 0.3%.

Sumber :

rf-berjangka.com