SOLID GOLD BERJANGKA – Garuda Indonesia merupakan maskapai pertama yang menjajal terbang dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dua penerbangan pun langsung dilakukan berturut-turut menuju Indonesia timur.

SOLID GOLD BERJANGKA – Penerbangan pertama dilakukan pukul 01.20 WIB, Selasa (9/8/2016) dengan nomor penerbangan GA654 tujuan Jayapura. Selang 20 menit berikutnya, nomor penerbangan GA648 diterbangkan menuju Ternate.

Tak ada kendala dalam penerbangan perdana ini. Plt Dirut PT Angkasa Pura II Djoko Nurjatmodjo dan Dirut Garuda M Arif Wibowo juga mendampingi para penumpang yang sebelumnya boarding di Gate 13.

“Lancar dan on time. Alhamdulillah, sukses penerbangan perdana,” kata Arif setelah pesawat lepas landas.

Arif menyebut bangku penumpang terisi 90 persen dari kapasitas 160 orang untuk tujuan ke Jayapura. Dia hanya berharap nantinya ada penanda untuk memandu penumpang di ruang tunggu.

PT Angkasa Pura II (AP II) saat ini tengah memformulasikan aturan yang tepat agar taksi berbasis aplikasi online dapat beroperasi di Bandara Soekarno Hatta. Hal ini dirasa perlu, sebab permintaan masyarakat akan jasa Uber dan GrabCar masih sangat tinggi. Budi Karya Sumadi selaku Direktur Utama Angkasa Pura II menyatakan, pihaknya bakal terus berkoordinasi…

Bambang Tjahjono, Direktur Utama AirNav Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya hanya perlu mewajibkan setiap kendaraan yang masuk ke Terminal 3 menggunakan squiter transponder. Pemasangan alat ini memungkinkan AirNav tetap dapat  memonitor kendaraan yang melewati apron, dari menara kontrol atau ATC.

masuk ke apron terminal 3 harus pasang squiter. Jadi misalnya yang dipasang squiter bisa tertangkap gerakannya oleh sistem kita di ASM-GCS (Advance Service Movement Guidance and Control System),” ujar Bambang saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (28/6).

Bambang menambahkan, soal kewajiban membangun Apron Movement Control (AMC) baru merupakan tanggung jawab sepenuhnya dari PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara soetta.

Lebih lanjut, Corporate Secretary AirNav Indonesia Ari Suryadharma menjelaskan, pemasangan squiter diperlukan karena pergerakan kendaraan kini tak terpantau dari menara ATC, lantaran desain ketinggian Terminal 3 membatasi penglihatan petugas ATC.

“Itu khusus untuk kendaraan yang di darat yang lalu lalang di apron, jadi bisa diidentifikasi pergerakannya. Karena selain navigasi, petugas di ATC juga harus mengetahui pergerakan di apron. Semacam GPS kalau di mobil,” terang Ari.