Presiden Prancis Habiskan Uang Rp 143 Juta Perbulan untuk Potong Rambut

SOLID GOLD BERJANGKA – Bagi pria, kepercayaan diri bisa datang dari potongan rambut. Tak heran jika pria rutin memangkas rambut untuk menjaga penampilan mereka, bahkan presiden Prancis Francois Hollande tak segan mengeluarkan banyak dana demi menjaga kerapian rambutnya tersebut.

Seperti dikutip dari New York Times, Hollande membayar hairstylist pribadinya sebesar 9,895 euro atau sekitar Rp 143 juta perbulannya. Tentu saja hanya untuk memangkas rambut, nilai tersebut cukup besar.

Hollande rutin mengeluarkan biaya tersebut sejak ia dilantik menjadi presiden di 2012 silam. Pengeluarannya untuk penampilan rambutnya tersebut kini menjadi buah bibir.

Hollande banyak menerima kritik. Ia dinilai pemborosan karena 9,895 euro sama dengan lebih dari setengah gaji tahunan warga negara Prancis. “Untuk orang Prancis itu merupakan uang yang sangat-sangat banyak,” ujar Thierry Mandon, Menteri Pendidikan Tinggi di Prancis yang mengatakan kepada LCP news.

Mantan ajudannya Valerie Trierweiler yang kerap menandatangi kontrak kerja mengatakan bahwa Hollande tidak mengetahui biaya pangkas rambutnya. “Let’s be fair, Hollande tidak menyadari berapa gaji penata rambutnya. Saya bisa membuktikan ia akan marah jika dia mengetahui ini,” kata Valerie di Twitternya.

Ini bukan pertamakalinya politikus menghabiskan banyak dana untuk potong rambut. Kembali ke 2007, mantan senator John Edwards diserang saat hairstylist asal Beverly Hills mengungkap biaya potong rambutnya sebesar US$ 1,250 atau sekitar Rp 16 juta untuk sekali potong.

Beberapa waktu lalu, Hillary Clinton juga menerima kritikan karena memangkas dan mewarnai rambut dengan biaya yang cukup besar sekitar U$ 1,200 atau setara dengan Rp 16 juta. Diketahui, masing-masing perawatan seharga US$ 600.

Selain soal biaya, istri dari mantan presiden Bill Clinton itu juga dikritik karena menutup jalan ketika ia pergi ke salon high-end milik hairdress ternama John Barret. Saat Hillary datang ke salon yang berada di mal Fifth Avenue itu, tangga berjalan di mal tersebut pun dimatikan. Dikutip dari New York Daily News, ketika kandidat dari partai Demokrat itu hadir, customer lain dilarang masuk untuk sementara.