Foto: Eduardo Simorangkir

PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Etika menggunakan transportasi umum di negara Jepang merupakan salah satu yang terbaik di antara negara-negara maju lainnya. Yang lebih mengagumkan lagi, negara ini berhasil mengajak masyarakatnya untuk ikut tertib melaksanakan seluruh aturan yang telah ditetapkan dalam menggunakan transportasi umum, khususnya kereta yangmenjadimoda transportasi paling diandalkan di Jepang.

Namun bukan berarti negara ini tak mengalami kendala agar etika tersebut bisa terus terjaga. Sejumlah kasus penyimpangan etika di dalam dan luar kereta juga kerap ditemui seiring dengan berkembangnya zaman.

“Walaupun upaya sudah kami lakukan, ini tidak bisa akan terjadi jika tidak ada kerja sama dengan penumpang. Misalnya supaya mereka mau antre di jalur yang sudah disediakan, kami sering harus mengumumkannya melalui pengumuman dan pengeras suara,” kata General Affair Asosiasi Operator Railway Swasta Jepang Ochi Masahiro saat ditemui di Tokyo, pekan lalu.

Ochi mengatakan, ada sejumlah upaya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kereta api swasta di Jepang untuk meningkatkan layanan. Ada yang berupa penambahan aturan, kampanye, hingga penggunaan teknologi.

Misalnya, ada perusahaan kereta yang mempromosikan penggunaan smartphone untuk mengetahui kondisi kereta yang penuh dan menunjukkan kereta yang kosong. Hal ini diharapkan bisa mengantisipasi kepadatan penumpang.

Selain itu, di tengah semakin banyaknya masyarakat lanjut usia di Jepang, maka untuk memfasilitasi mereka yang lanjut usia hingga penyandang cacat, semua perusahaan kereta api swasta membangun eskalator dan lift di stasiun secara terencana. Setiap kereta juga harus memiliki area untuk kursi roda di dalam gerbong kereta.

Penurunan angka kelahiran anak yang menurun juga menjadi perhatian operator kereta di Jepang. Untuk menciptakan lingkungan yang memudahkan bagi pengasuhan anak, di sarana transportasi umum saat ini diberlakukan area bebas hambatan bagi mereka yang membawa anak dengan kereta bayi.

“Memang awalnya banyak orang yang ngomel karena banyak yang bawa kereta bayi, khususnya di kota besar seperti Tokyo. Tapi akhirnya operator menyediakan gerbong khusus bersama dengan penyandang cacat dan lansia,” jelas Ochi.

Operator juga terus berusaha memberikan kemudahan bagi para wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang. Beberapa usaha yang dilakukan untuk meningkatkan layanan di antaranya melakukan penomoran untuk memudahkan identifikasi setiap stasiun, display dalam berbagai bahasa asing (Inggris, China dan Korea), loket informasi yang dapat menangani bahasa asing, hingga terminal tablet untuk memberikan panduan dan penerjemahan menggunakan internet.

Tingginya kejadian kematian, cedera karena jatuh dari peron stasiun juga membuat terjadinya ketidaksesuaian dan kekacauan jadwal operasional kereta. Maka, sejak 2006 telah diberlakukan pemasangan pintu tepi peron, hingga alat pendeteksi jatuh yang dipasang di bawah platform peron stasiun.

Pada saat terjadi kondisi darurat, tombol emergency yang ada di peron stasiun bisa ditekan secepatnya tanpa perlu ikut turun membantu orang yang terjatuh ke jalur rel. Secara otomatis, nantinya petugas akan segera menuju platform, sedangkan kereta yang menuju stasiun juga akan langsung melakukan pengereman.

Kamera-kamera pengawas CCTV juga banyak dipasang di platform stasiun, koridor dan di dalam kereta untuk mencegah tindakan-tindakam kejahatan seperti kekerasan, penganiayaan hingga terorisme.

Dalam rangka meningkatkan etika para pengguna kereta api, asosiasi kereta api swasta Jepang setiap tahun juga mengadakan angket mengenai etika penggunaan kereta api. Caranya dengan membuat poster untuk meningkatkan kesadaran mengenai sopan santun, yang dipasang di setiap stasiun yang menjadi anggota asosiasi tersebut.

Pada angket yang diadakan tahun 2017, dilakukan survei mengenai urutan perilaku yang mengganggu di stasiun dan di dalam kereta, dengan mempublikasikan perilaku seperti apa yang mengganggu menurut penumpang kereta.

Urutan pertama pada perilaku yang mengganggu di stasiun dan di dalam kereta adalah berbicara dengan suara berisik dan gaduh. Kemudian disusul cara duduk di tempat duduk, cara membawa dan menyimpan barang di dalam kereta, menggunakan ponsel sambil berjalan, hingga etika ketika naik-turun kereta.

Operator-operator kereta di Jepang juga melakukan sejumlah kampanye bagi para pengguna kereta. Misalnya gerakan menyapa dan memberikan bantuan kepada penumpang lainnya yang dilaksanakan sejak November 2016.

Gerakan ini bertujuan agar orang-orang berani memberikan bantuan kepada orang-orang yang memerlukan di stasiun, seperti orang tua, ibu hamil, orang cacat, dan orang asing.

Kemudian ada kampanye mengajak orang untuk berpegangan tangan pada eskalator. Hal ini dilakukan untuk menyerukan penggunaan eskalator dengan aman agar tidak terjatuh saat naik di eskalator.

Operator kereta di Jepang juga mengajak anak-anak sekolah dasar (SD) untuk ikut berperan serta menjaga ketertiban di stasiun kereta. Misalnya dengan mengadakan perlombaan menggambar dengan tema etika menggunakan transportasi umum dan tema lainnya.

Yang tak kalah mengesankan adalah ajakan untuk anti pada tindakan kekerasan kepada petugas stasiun. Ochi mengatakan, petugas stasiun dan kereta di Jepang sering mengalami tindakan kekerasan dari penumpang, sementara posisi petugas tak dapat melawan lantaran harus bisa sabar melayani penumpang.

“Sebagai pihak yang memberi layanan kepada publik, mereka (petugas) tidak bisa melawan. Ada penumpang yang misalnya mabuk, tidak puas terhadap layanan, hingga meninju petugas. Kalau petugas kena tindakan kekerasan, petugas pasif saja. Tapi karena itu tindakan kriminal, akhirnya apabila hal demikian terjadi, pihak petugas bisa menggiringnya ke polisi. Kalau dulu, mereka tidak bisa melawan,” jelas Ochi – PT SOLID BERJANGKA