Wabah Corona tak hanya menjangkiti tubuh manusia, tetapi juga ke sektor keuangan global, termasuk Indonesia. Hal ini menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar.

PT Solid Berjangka Makassar – Nilai tukar Dolar (AS) terhadap rupiah pagi ini ada di level Rp 14.445. Angka tersebut tercatat menguat 115 poin atau 0,8% pada hari ini.

Demikian dikutip dari data perdagangan Reuters, Kamis (12/3/2020). Hingga pukul 09.11 WIB, dolar AS tercatat bergerak di level Rp 14.365-14.45.

Pelemahan rupiah berbanding lurus dengan semakin menyebarnya wabah virus corona ke berbagai negara. WHO sendiri telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemik global setelah sebarannya menyentuh 118 negara.

Dari data RTI, dolar AS pagi ini berada di level Rp 14.455. Angka itu tercatat 102 poin (0,71%) lebih kuat sejak pembukaan perdagangan hari ini.

Mata uang Paman Sam tercatat paling kuat menekan peso Filipina, rupiah, dan won Korsel pagi ini. Sebaliknya, dolar AS ditekan oleh yen Jepang, franc Swiss, dan euro.

Sedangkan rupiah pagi ini hanya unggul terhadap peso Filipina dan riyal Saudi. Rupiah paling kuat ditekan oleh yen Jepang, franc Swiss, dan euro.

Corona Goyang Italia, Resesi Ekonomi di Depan Mata

Italia menjadi salah satu negara di Eropa yang paling parah dihantam.Negara ekonomi terbesar ke-8 di dunia ini dinilai akan terjun ke dalam.

Italia telah memberlakukan pembatasan di ruang publik hingga 3 April mendatang. Mereka melakukan pembatasan perjalanan ke luar negeri pada 60 juta penduduk, larangan acara publik, penutupan sekolah, bioskop, museum, dan pusat kebugaran. Bahkan, Italia menetapkan batasan jam buka untuk restoran, bar, dan toko.

Dikutip dari CNN, Kamis (12/3/2020), jumlah persentase penduduk yang terjangkit virus corona di Italia terhadap jumlah total keseluruhan populasi, lebih besar dua kali lipat jumlahnya dibanding China. Jumlah kasus positif corona di Italia tercatat sebanyak 9 ribu orang, dengan jumlah kematian 463 orang.

Secara keseluruhan, langkah-langkah pembatasan ini mendorong ekonomi Italia melambat, terlebih lagi di kuartal IV 2019 ekonomi negeri pizza sudah mengalami kontraksi.

Ekonom senior Eropa di Capital Economics, Jack Allen-Reynolds menilai ekonomi Italia akan mengalami kontraksi tajam pada paruh pertama tahun ini. Bahkan, meskipun pembatasan dicabut pada akhir April, PDB Italia akan menurun sekitar 2%.

Dampaknya pun disebut makin besar apabila pembatasan publik diperpanjang. Di sisi lain, Italia juga disebut akan mengalami gangguan rantai pasokan bahan baku.

“Potensi gangguan rantai pasokan jika virus benar-benar lepas landas di Jerman, dan mitra perdagangan utama lainnya,” kata Jack.