Di Papua, OPM Nyaris Membunuh Jenderal Sarwo Edhie

PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Baru lima bulan bertugas di Medan, Brigjen Sarwo Edhie Wibowo mendapat penugasan baru. Tugas yang membuat mantan Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) itu galau, karena harus melepas seragam militernya. Dia ditugaskan menjadi duta besar di Moskow, Uni Soviet.

Dalam sebuah kesempatan, Sarwo sempat melontarkan keluhan atas keputusan tersebut kepada istrinya, Sri Sunarti Hadiyah. “Kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan membunuh aku dengan cara seperti ini. Apa salahku sampai aku harus dihentikan begini rupa?” ujarnya seperti dikisahkan putri ketiganya, Kristiani Herrawati alias Ani Yudhoyono dalam biografi ‘Kepak Sayap Putri Prajurit‘ yang ditulis Albherthiene Endah.

Bagaimanapun, menurut Ani Yudhoyono, ayahnya itu telah dikenal sebagai penumpas komunis pada 1965, lalu diceburkan ke negara berpaham komunis. “Bagi papi ini seperti meledek dirinya,” tulisnya.

Beruntung kegalauan Sarwo tak berlanjut. Pada 25 Juni 1968 datang kabar dari Jakarta bahwa dia akan ditugaskan ke Irian Jaya (Papua), menggantikan Pangdam Cendrawasih Brigjen R. Bintoro. Dia diminta menertibkan berbagai bentrokan yang kerap terjadi di Papua menjelang penentuan pendapat rakyat (Pepera).

Sebagai prajurit, tugas ini rupanya lebih menantang dan menggairahkan Sarwo ketimbang menjadi diplomat di Moskow. Dia terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan saat dia mendengar akan dikirim ke Moskow. “Ini tantangan untuk mendukung NKRI,” ujar Sarwo.

Singkat cerita, lelaki kelahiran 25 Juli 1925 itu akhirnya meninggalkan Kodam Bukit Barisan di Medan, Sumatera Utara menuju Papua sebagai Pangdam Cendrawasih, 2 Juli 1968. Guna memenangkan Pepera dia antara lain menggelar “Operasi Wibawa”. Operasi ini antara lain menyelesaikan berbagai gangguan keamanan yang ditimbulkan sisa-sia gerombolan separatis Ferry Awom.

“Semakin dekat dengan waktu pelaksanaan Pepera, serangan OPM (Organisasi Papua Merdeka) kian meluas. Pada 21 Juli 1968, dua anggota Kodim Wamena, Kopka D. Hutadjulu dan Koptu Suwarso mereka bunuh,” ujar mantan Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung dalam biografi, “Terbaik untuk Rakyat, Terbaik Bagi ABRI” yang ditulis Usamah Hisyam dan kawan-kawan.

Selain itu, mereka juga nekad untuk membunuh dan menculik Pangdam Cendrawasih Brigjen Sarwo Edhie Wibowo. Saat hendak mendarat di Enarotali, Kabupaten Paniai, pesawat Twin Otter yang ditumpanginya bersama AKP Sukanto (Komandan Resort Kepolisian Nabire) dan Mayor Tb. Hasanudin (Komandan Kodim 1705 Nabire) dihujani tembakan, 29 Maret 1969

“AKP Sukanto mengaduh karena kakinya tertembak. Pak Sarwo pun batal mengalihkan pendaratan di Nabire,” ujar Feisal.

Peristiwa Enarotali berawal dari rasa kecewa penduduk terhadap pemindahan ibu kota Paniai ke Nabire oleh Bupati Paniai AKBP Soerodjo. Alasannya Nabire yang berada di tepi pantai lebih bisa dikembangkan karena sudah ada pelabuhan dan lapangan terbang. Tapi masyarakat yang dimotori Wakil Ketua DPRD David Pekei menilai Enarotali lebih sentral dan berpenduduk lebih banyak. Apalagi sejak era Belanda wilayah ini menjadi pusat pemerintahan.

Selain dari politisi lokal dan aparat keamanan yang desersi, aktivitas OPM juga mendapat sokongan dari pihak asing. Indikasi ini mendapatkan konfirmasi ketika dalam sebuah operasi pangkapan gerombolan OPM di Jayapura, 24 Juni 1969, ikut diciduk Hans Reiff, pegawai FUNDWI (Fund for West Irian).

“Dari warga Belanda itu didapati dokumen berisi hasutan untuk menculik dan membunuh Fernando Ortiz Sanz (perwakilan PBB) dan Pak Sarwo Edhie,” ujar Feisal Tanjung yang kala itu memimpin operasi lintas udara di Wagete dan Enarotali dengan pangkat Kapten – PT SOLID BERJANGKA