PT SOLID BERJANGKA

PT SOLID BERJANGKA

PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Eropa, China, Kanada dan Meksiko memakan korban. Harley Davidson Inc, perusahaan sepeda motor terbesar di AS memutuskan memindahkan sebagian produksinya ke luar negeri. Saat ini, Harley sudah memiliki tempat produksi sepeda motor dan suku cadang antara lain di Brasil, Australia, India dan Thailand.

Pilihan Harley hengkang sudah bulat kendati Presiden AS Donald Trump terus membujuknya. Keputusan Harley ini demi menghindari aturan tarif tinggi yang diterapkan Uni Eropa (UE) sebagai respons dari kebijakan Amerika Serikat (AS). Perusahaan yang berbasis di Wisconsin itu menyatakan langkah tersebut dilakukan agar harga Harley Davidson tetap dapat bersaing bagi para konsumennya di UE.

“Langkah ini bukan pilihan perusahaan, tapi mewakili opsi berkelanjutan untuk membuat sepeda motor kami dapat dimiliki konsumen di UE dan menjaga kelayakan bisnis di Eropa,” papar pernyataan Harley Davidson, dikutip New York Times.

Awalnya, bulan lalu UE membebankan bea masuk terhadap sejumlah produk AS senilai USD3,2 miliar. Produk yang terkena bea tinggi ini antara lain sepeda motor, kapal motor, selai kacang, sari jeruk, bourbon, rokok, dan denim. Langkah ini dilakukan UE sebagai balasan atas pembebanan bea masuk AS untuk produk baja serta aluminium.

Harley makin dilematis karena khusus untuk sepeda motor, UE justru menaikkan bea masuk 6% hingga menjadi 31%. Dengan begitu, ekspor satu unit motor Harley Davidson ke UE menjadi sangat mahal karena kenaikan bea bisa mencapai USD2.200. Harley makin dilematis karena di tengah kondisi tersebut, sulit untuk menaikkan harga jual motor.

Di sisi lain, Eropa adalah pasar terbesar penjualan mereka setelah AS sendiri. Pada 2017, penjualan mencapai 40.000 unit atau 27,02% dari total penjualan Harley di AS yakni 148.000 unit. Dengan penjualan di AS yang melemah dan Eropa pasar penting yang meningkat, Harley menyatakan memindahkan produksi ke fasilitas luar negeri untuk menghindari kenaikan biaya.

Dampak perang dagang yang dilancarkan Presiden Trump memang sangat terasa di tengah sejumlah perusahaan menghadapi gelombang tarif di dalam dan luar negeri. Meski Trump menyatakan kebijakan perdagangannya bertujuan menghidupkan kembali manufaktur domestik, namun langkah Harley Davidson menunjukkan tindakan AS dapat berdampak buruk. Saat ini sejumlah perusahaan di AS sangat tergantung pada pasar luar negeri dari bahan baku, produksi hingga penjualan.

Selain ke UE, Gedung Putih saat ini melancarkan perang dagang sekaligus terhadap China, Kanada, dan Meksiko. Setiap negara dan kawasan itu pun merespons dengan langkah pembalasan mereka sendiri. Perang dagang ini pun memicu berbagai konsekuensi yang tak dapat dihindari termasuk peringatan laba oleh Daimler yang menuduh kebijakan tarif China mengurangi penjualan mobil SUV yang dibuat di Tuscaloosa, AS.

Perusahaan paku yang berbasis di Missouri, Mid Continent Nail Corporation, juga merumahkan 60 pegawai dari total 500 karyawannya. Mereka mungkin terpaksa harus tutup karena menghadapi tingginya biaya baja yang diimpor dari Meksiko untuk memproduksi paku.

Bursa saham juga khawatir dengan prospek memburuknya perang dagang yang dapat semakin menekan perusahaan-perusahaan AS.

Khusus kasus Harley, Trump menuduh Harley menggunakan tarif sebagai alasan untuk memindahkan produknya keluar AS. Meski demikian dia tetap menegaskan strategi dagangnya akan bekerja. “Terkejut bahwa Harley Davidson, semua perusahaan, akan menjadi yang pertama mengibarkan bendera putih. Saya berjuang keras untuk mereka dan puncaknya mereka tidak akan membayar tarif penjualan ke UE yang melukai kita dalam perdagangan,” ungkap Trump – PT SOLID BERJANGKA