Terlalu Lama Ditekan, Dolar Singapura Melawan

PT Solid Berjangka Makassar – Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Singapura menguat melawan rupiah pada perdagangan hari ini. Maklum, mata uang Negeri Singa sudah agak terlalu lama melemah di hadapan rupiah.

Pada Rabu (11/9/2019) pukul 13:44 WIB, SG$ 1 setara dengan Rp 10.190,76. Rupiah melemah 0,15% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sebelumnya, dolar Singapura sudah melemah empat hari beruntun terhadap mata uang Tanah Air. Bahkan sempat menyentuh titik terlemah sejak Januari 2018.

IHS Markit melaporkan indeks aktivitas manufaktur Singapura pada Agustus sebesar 48,7. Turun tajam dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51. Angka 48,7 tersebut menunjukkan kontraksi terbesar yang dialami sektor manufaktur Singapura dalam tujuh tahun terakhir.

Data tersebut melengkapi serangkaian yang mengecewakan sebelumnya yakni pertumbuhan ekonomi yang stagnan, serta inflasi yang sangat rendah. Hal tersebut membuat pemerintah Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya tahun ini menjadi 0-1% dari 1,5-2,5%.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan dari Indeks Penjualan Riil (IPR) membaik pada Juli dengan pertumbuhan 2,4% year-on-year (YoY). Membaik dibandingkan Juni yang mengalami kontraksi alias minus 1,8%.

Melihat fundamental tersebut, penguatan dolar Singapura terjadi akibat aksi short covering atau para pelaku pasar menutup posisi jualnya untuk mengamankan cuan, sebagai antisipasi berbaliknya arah pergerakan dolar Singapura.

Penguatan dolar Singapura di pasar spot juga berdampak pada kurs jual beli di dalam negeri. Berikut kurs jual beli yang diambil dari situs resmi beberapa bank pada pukul 14:48 WIB.

Bank Kurs Beli Kurs Jual
BCA 10.182,46 10.202,67
BRI 10.119,34 10.257,03
Mandiri 10.160,00 10.220,00
BNI 10.165,00 10.224,00

TIM RISET CNBC INDONESIA

(pap/pap)