Buwas: Daging Impor Selama Ini Dimonopoli Australia

PT Solid Berjangka Makassar – Jakarta, CNBC Indonesia – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menegaskan monopoli daging sapi impor selama ini masih didominasi dari Australia.

Keputusan pemerintah menugaskan impor daging sapi dari Brasil selain untuk stabilisasi harga daging sapi juga untuk mengurangi ketergantungan impor sapi dari Australia yang harganya lebih mahal.

“Selama ini kan dimonopoli dari Australia, kalau ada kompetitor dari Brasil atau Argentina, Selandia Baru, mana yang menguntungkan kita ambil,” tegas pria yang sering dipanggil Buwas ini kepada CNBC Indonesia, Kamis (12/9).

Yang pernah mengatakan monopoli daging impor sapi dari Australia, selain Buwas adalah Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, sapi asal Australia ini lebih mahal harganya, meski jaraknya lebih dekat dengan Indonesia.

“Mahalan Australia walaupun yang satu deket yang satu jauh. Tapi dengan masuk dari Brasil, mungkin dengan adanya saingan, Australia mungkin akan turunkan. Brasil juga dagingnya bagus yang sama-sama frozen (daging beku). Makanya jangan monopoli deh. tapi persaingan itu bagus,” ujar Enggar, Rabu (21/8/2019).

Daging sapi Brasil, menurut Buwas diperkirakan lebih murah 30% Australia, padahal ecara jarak dengan Indonesia lebih dekat. Daging Australia memang ada kepastian soal bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) karena Negeri Kangguru ini bebas dari PMK atau country based. Sedangkan Brasil belum sepenuhnya bebas, karena masih zone based.

Buwas mengatakan memang tak mudah untuk mengimpor daging sapi dari Brasil karena harus lolos sertifikat halal MUI, hingga soal jaminan kesehatan yang akan dicek oleh badan karantina Kementan dan Kemenkes.

“Kita harus ada jaminan itu semua,” katanya.

Perum Bulog memastikan akan mengimpor daging sapi dari Brasil sebanyak 30 ribu ton menyusul surat penugasan dari Kementerian BUMN yang sudah keluar. Saat ini BUMN pangan ini masih menunggu rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian dan izin impor dari Kementerian Perdagangan.

“Surat penugasan sudah ada tapi izin impor belum ada. Nggak mudah karena daging sudah dipastikan kualitas bagus, dan harus ada rekomendasi MUI, proses pemotongan gimana, sekarang belum masih ada prosesnya karena belum ada izin impor,” kata Buwas.

Sebelumnya pemerintah menjajaki mengimpor 50 ribu ton daging sapi melalui skema penugasan BUMN antara lain Perum Bulog, Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), dan PT Berdikari. Perum Bulog mendapat alokasi 30 ribu ton, dan  PT Berdikari dan PPI masing-masing 10 ribu ton. (hoi/hoi)