PT SOLID BERJANGKA

PT SOLID BERJANGKA

PT SOLID BERJANGKS MAKASSAR – Apa yang terjadi dengan terorisme di tiga gereja Surabaya menunjukkan bahwa teroris memiliki kesadaran spasial, yaitu kesadaran ruang dan tempat di mana dia melakukan aksinya. Kesadaran spasial itu berkaitan erat dengan pesan yang akan mereka sebarkan kepada dunia yang khas ISIS, yaitu kejam dan brutal.
Gereja dan Kantor Polisi

Setidaknya, ada dua lokasi penting terkait bom Surabaya: gereja dan kantor polisi. Serangan terhadap gereja sepertinya hendak menyampaikan pesan bahwa konflik antara Islam dan Kristen belum khatam. Mereka bisa jadi merujuk pada sejarah masa lalu bagaimana antara kedua agama samawi itu terlibat pertikaian yang berlangsung beberapa abad.

Jika mereka benar pengikut ISIS, maka bisa jadi penyerang gereja adalah bagian dari penyerangan terhadap orang-orang kafir yang mereka anggap halal darahnya. Di sini, tampak bahwa pemikiran mereka bukan lagi pemikiran orang Indonesia. Seharusnya, sebagai manusia Indonesia mereka berpikir bahwa tatanan sosial yang kita rasakan sekarang adalah bangunan dari kerja sama yang erat antar komponen masyarakat, dan itu melibatkan seluruh keyakinan: Islam, Kristen, Hindu-Budha, bahkan kepercayaan lokal yang masih bertahan.

Sedangkan, penyerangan ke kantor polisi menjelaskan bahwa polisi adalah musuh mereka yang harus diperangi. Mereka menganggap bahwa polisi adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kematian rekan-rekan mereka, dan dianggap pula sebagai pihak yang menghalang-halangi perjuangan mereka dalam menegakkan Daulah Islam, sebuah sistem pemerintahan Islam yang mereka anggap paling ideal.

Jika melihat ke belakang, penyerangan terhadap polisi mereka lakukan lewat berbagai lokasi, entah itu di kantor polisi, bahkan di masjid. Di mana ada kesempatan, di situ mereka begerak. Bisa secara berkelompok, atau secara personal. Bisa pakai senjata, bom, bahkan pakai gunting sekalipun (bisa jadi guntingnya itu telah terkena racun yang kalau kena tubuh bisa mematikan).

Kita Orang Indonesia

Mereka yang memilih ke Irak dan Suriah untuk gabung dengan ISIS sesungguhnya menunjukkan minimnya kesadaran dia akan identitas sebagai orang Indonesia. Bisa jadi, berkat doktrin yang mereka dapatkan itulah sehingga mereka tidak berpikir dan bertindak lagi sebagai orang Indonesia.

Di sini, ada kegamangan identitas di kalangan mereka. Beberapa di antara pendukung ISIS yang sudah ke Suriah dan balik ke sini juga sepertinya mengalami kegamangan itu. Bayangkan: mereka hendak menjadi citizen di negara baru tapi karena keburu ditangkap akhirnya mereka harus dideportasi balik ke negara asal. Semangat untuk tinggal di Daulah Islam pun pupus.

Nah, ketika mereka balik ke Indonesia, identitas mereka pun jadi gamang. Antara sebagai warga Daulah Islam ala ISIS atau sebagai WNI. Seharusnya mereka dibina. Akan tetapi, kita sadar bahwa bisa jadi pembinaan telah dilakukan oleh pihak berwajib, tapi belum maksimal. Karena belum maksimal itulah sehingga mereka –dengan semangat sebagai pejuang ISIS region Indonesia– melakukan amaliyah-amaliyah teror di gereja dan kantor polisi.

Sudah saatnya kita semua warga Indonesia memastikan diri bahwa kita memiliki otak, pikiran, dan tindakan sebagai orang Indonesia. Pikiran kita Indonesia, yang menghormati keragaman; dan tindakan kita Indonesia, yang empati kepada sesama.

Orang yang berbeda dengan kita juga tidak boleh dianggap musuh. Entah perbedaan akidah, pemikiran, bahkan orientasi dan pilihan politik. Jangan benci, dan jangan musuhi orang lain. Ada gereja, kita harus hargai, pun demikian dengan rumah ibadah lainnya. Kehadiran polisi dalam struktur pemerintahan kita semata untuk memastikan agar masyarakat tidak main hakim sendiri, dan tidak terjebak dalam homo homini lupus, yaitu manusia menjadi mangsa bagi manusia lainnya – PT SOLID BERJANGKA