Foto: Rita Uli Hutapea

PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Salah satu dari lima wilayah otonomi China, Guangxi Zhuang telah ditetapkan oleh pemerintah China sebagai sebagai pintu penghubung Jalur Sutera Maritim Abad 21 dan Sabuk Ekonomi Jalur Sutera. Guangxi yang berdiri pada Maret 1958 ini menjadi jalur utama yang menghubungkan negara-negara ASEAN terkait dengan ambisi besar China untuk menciptakan Belt and Road Initiative (BRI) atau “Inisiatif Sabuk dan Jalan’.

Guangxi dengan Nanning sebagai ibu kotanya, memiliki luas wilayah 237.600 kilometer persegi dengan total populasi 55 juta jiwa. Dengan letaknya di Teluk Beibu dan dekat Vietnam, Guangxi menjadi satu-satunya provinsi/wilayah di China yang menghubungkan ASEAN lewat darat dan laut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Guangxi telah menjadi salah satu provinsi/wilayah yang paling dinamis dan paling pesat pertumbuhannya di China. Pada tahun 2017, GDP di Guangxi mencapai US$ 313,8 miliar, naik 7,3 persen dari tahun sebelumnya. Pada Maret 2015, Presiden Xi Jinping menetapkan Guangxi sebagai saluran internasional bagi ASEAN.

Salah satu kawasan maju dan paling pesat perkembangannya di wilayah Guangxi adalah Kawasan Ekonomi Teluk Beibu Guangxi.

Dikelilingi oleh provinsi Guangdong dan Hainan, kawasan ini tumbuh sebagai sorotan baru kerja sama antara China dan negara-negara anggota ASEAN, termasuk Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Brunei.

Pemimpin Kawasan Ekonomi Teluk Beibu Guangxi, Chen Hongbao mengatakan, kawasan ini memiliki tiga tujuan yang ingin diraih.

“Tujuan itu dinamakan dengan “3 lebih”, yaitu GDP Kawasan Ekonomi Teluk Beibu lebih dari 1 triliun yuan, nilai industri bruto lebih dari 1 triliun yuan dan GDP per orang di kawasan ini lebih dari US$ 10 ribu per orang,” ujar Chen dalam pertemuan di kantor pusat Kawasan Ekonomi Teluk Beibu yang dihadiri detikcom dan rombongan atas undangan Kedutaan Besar China untuk Indonesia, Rabu (31/10/2018).

“Kami sedang usahakan untuk mencapai “3 lebih” ini sebelum tahun 2020 mendatang,” imbuhnya.

Chen menjelaskan, kawasan yang berdiri pada tahun 2006 ini memiliki luas sekitar 72,6 ribu kilometer persegi dan jumlah populasi 23 juta jiwa. Pada tahun 2008, kawasan ini ditingkatkan menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah Guangxi yang sangat aktif dalam mengajukan proposal-proposal untuk mempromosikan kerjasama bilateral antara China dan negara-negara anggota ASEAN.

Berbicara mengenai investor-investor yang menanam dananya di Guangxi, Chen menyebut bahwa perusahaan asal Indonesia, Sinar Mas termasuk salah satunya. Mengaku tidak tahu angka detail jumlah investasinya, Chen mengatakan angkanya sangat besar – PT SOLID BERJANGKA