Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR -Perlambatan ekonomi global kini tengah terjadi. Diprediksi, kondisi perlambatan tersebut segera merambat ke AS pada tahun 2019 mendatang.

pertumbuhan ekonomi tiga negara dengan perekonomian terbesar di dunia terpantau melambat. Pertumbuhan ekonomi Jerman dan Jepang melambat pada kuartal III 2018.

Di China, ada tanda-tanda kondisi kontraksi ekonomi.Kondisi-kondisi tersebut kontras dengan pertumbuhan ekonomi AS yang kuat.

Penyebab lemahnya kinerja perekonomian negara-negara tersebut bervariasi. Namun demikian, para ekonom meyakini Jerman dan Jepang akan segera menghindari resesi dan kembali mencatat pertumbuhan.

Ekonomi Jerman merosot untuk pertama kalinya sejak tahun 2015 pada kuartal III 2018. Perekonomian Jerman terpukul karena prosedur baru terkait pengujian emisi kendaraan bermotor yang menyebabkan penjualan kendaraan roda empat melambat.

Ekspor Jerman pun menurun lantaran perang dagang AS-China. Para ekonom memandankg pertumbuhan ekspor Jerman akan terus melemah karena penurunan permintaan dari mitra-mitra dagang utama, seperti Turki, Rusia, dan China. Sementara itu, Jepang dipandang terbiasa dengan stagnasi ekonomi bahkan resesi.

Akan tetapi, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang cenderung lebih cerah. Pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal III 2018 terdampak bencana alam. Para ekonom memproyeksikan belanja konsumen akan meningkat pada kuartal terakhir tahun 2018.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 2,5 persen pada tahun 2019. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2,9 persen pada tahun ini. Sejumlah risiko memengaruhi awan mendung proyeksi pertumbuhan ekonomi global, antara lain perang dagang dan dampak kenaikan suku bunga acuan AS terhadap negara-negara berkembang. Italia pun dipandang bisa menjadi pemicu krisis di Eropa.
Adapun China, ekonomi terbesar kedua dunia, melaporkan pertumbuhan konsumsi yang lebih lemah pada kuartal III 2018. Keyakinan konsumen pun lemah dan pertumbuhan kredit mengecewakan. Para ekonom memproyeksikan pemerintah China akan menggelontorkan stimulus guna memitigasi dampak perang dagang dengan AS. “Kami meyakini hal buruk akan terjadi, dengan perlambatan pertumbuhan akan lebih cepat terjadi pada musim semi 2019,” jelas Ting Lu, kepala ekonom China di Nomura dalam laporan risetnya – PT SOLID BERJANGKA