SOLID GOLD BERJANGKA – Kemenangan Donald Trump di Pilpres Amerika Serikat mengejutkan berbagai pihak. Banyak yang kemudian bertanya-tanya apakah nanti kebijakan Donald Trump sama dengan apa yang dia kampanyekan.

“Trump sebagai kandidat Presiden akan berperilaku berbeda saat ia menjadi Presiden. Ketika menjadi kandidat, layaknya kandidat dalam suatu pemilihan, akan berkampanye seolah dapat merubah kebijakan dalam waktu semalam,” papar Guru Besar HI UI Prof Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulis, Jumat (11/11/2016).

Namun saat telah menjabat, banyak realita yang harus dihadapi oleh Trump. Siapa pun yang menjabat, baru menyadari bahwa tidak mudah untuk mengubah kebijakan yang sudah mengakar dan berkaitan dengan berbagai isu lain.

Trump terlihat mulai realistis pada saat menyampaikan sambutan pertamanya. Kata-kata yang disampaikan seolah dia sudah ‘melunak’. Bisa ditafsirkan pula bahwa kegarangan Trump hanyalah untuk mendulang suara saja.

“Perlu dipahami dalam pemerintahan AS ada dikotomi antara politisi dengan para birokrat. Presiden dan para menteri adalah politisi. Politisi bisa masuk dan bisa keluar. Saat masuk mereka ingin banyak hal dirubah, namun belum sampai perubahan terjadi mereka harus keluar,” imbuh Hikmahanto.

Para birokrat bertugas untuk menjaga konsistensi kebijakan di Amerika Serikat. Termasuk pula kebijakan luar negeri.

“Mereka harus menjelaskan kepada pemimpin, para elit dan rakyat di suatu negara bahwa AS di bawah Trump tidak akan sama seperti saat Trump berkampanye,” tutur Hikmahanto.

Meski demikian bukan berarti kebijakan AS tidak bisa berubah drastis. Saat ini memang masih sulit bagi Trump untuk ubah kebijakan, tetapi tidak menutup kemungkinan nantinya akan ada perubahan.

“Oleh karenanya bagi banyak negara, termasuk Indonesia, tindakan yang tepat saat ini pasca terpilihnya Trump sebagai Presiden AS adalah menunggu dan melihat,” pungkas Hikmahanto.