beras

PT SOLID GOLD BERJANGKA – Aturan harga eceran tertinggi beras Rp 9.000/kilogram (kg) menjadi polemik selama sepekan terakhir. Kebijakan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 47/M-DAG/PER/7/2017 ini membuat pasokan ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sempat mandek

Pasalnya, para pedagang di daerah sentra produksi beras yang biasa memasok ke Cipinang menghentikan kiriman karena tak mau menjual rugi. Salah satunya Suyitno, pemasok beras dari Karangsinom, Indramayu.

Menurut Suyitno, ia menghentikan pengiriman sekitar 50-100 truk atau setara dengan 500-1.000 ton beras ke Cipinang. Alhasil, pasokan beras ke PIBC turun dari 3.000 ton per hari, menjadi hanya 1.800 ton per hari.

“Iya benar (dihentikan). Ini kan penjualan dihitungnya rugi. Dari pada rugi mending istirahat dulu saja. Harga beras turun (Rp 9.000), beli gabahnya saja mahal,” kata Suyitno pemasok beras Indramayu.

Alhasil, selama 5 hari pasokan beras ke (PIBC) sepi. Beberapa toko terpaksa tutup karena tak ada pasokan. Ada pula sebagian pedagang yang tetap buka, tapi hanya untuk menghabiskan stok.

Salah satunya Mari, yang membuka tetap membuka tokonya di Pasar Induk Cipinang karena masih punya stok 5 ton beras. Selama ini pasokan beras ke toko Mari di Pasar Induk Cipinang berasal dari sentra beras seperti Karawang, Indramayu, Pamanukan, dan juga ada yang dari Bekasi.

“Sejak Senin belum ada yang mask dari Karawang, Bekasi, Karangsinom, Pamanukan,” terang Mari, Jumat (28/7/2017).

Setali tiga uang, Iman, pedagang beras lainnya menuturkan kondisi serupa. Ia mengatakan, beras di tokonya hanya 50 ton, padahal biasanya 70 ton. Beras tersebut dipasok dari Indramayu.

“Katanya beras itu dipatok harga jualnya. Sudah 5 hari ini enggak ada masuk. Cuma sisa stok saja,” terang Iman.

Permendag Dibatalkan

Agar masalah tak berlarut-larut, Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, mendatangi PIBC. Mendag bertemu pihak pengelola pasar, PT Food Station Tjipinang Jaya, para pedagang, dan pemasok beras.

Dalam pertemuan itu Mendag mendengar keluhan para pedagang yang meminta beras premium dan medium tak dipatok satu harga Rp 9.000/kg. Sebab, biaya produksi maupun kualitas dua jenis itu berbeda.

Merespons permintaan itu, Mendag akhirnya memutuskan Permendag nomor 47 batal berlaku. Mendag sebenarnya sudah meneken aturan tersebut, namun belum diundangkan karena butuh sosialisasi.

“Tidak usah lagi ada keresahan. Saya bersama dengan Satgas dan Kementerian Pertanian menyatakan bahwa tidak usah ada kekhawatiran dalam menjalankan usahanya. Kalau Permendag Nomor 47, itu belum diundangkan, sehingga itu belum diberlakukan,” kata pria yang akrab disapa Enggar itu, Jumat (28/7/2017)

Menurut Enggar, Permendag itu dibatalkan agar tak terjadi keresahan di kalangan pelaku usaha beras. Ia ingin pasokan beras ke PIBC kembali normal dan pedagang bisa berjualan tenang.

Selain itu, ia menjamin kekhawatiran perdagangan soal menjual beras di atas Rp 9.000/kg ditangkap tak akan terjadi.

“Ada sedikit kegelisahan, sehingga masuknya beras hanya 1.800 ton per hari dari yang biasanya 3.000 ton akibat berbagai kekhawatiran. Kekhawatiran akan ditangkap, akan diperiksa oleh satgas, saya bisa sampaikan tidak akan terjadi,” janji Enggar.

Pasokan Beras Kembali Lancar

Mendengar keputusan Mendag itu, pedagang di Cipinang mengaku lega. Salah satunya Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang, Zulkifli.

“Beras masuk pasar induk 3.000 ton per hari saya jamin itu,” ujar Zulkifli.

“Resah dan gelisah beberapa hari ini terjawab sudah karena Mendag sudah datang ke pasar Induk dan HET tidak diundangkan, itu tak diberlakukan, jadi tidak terlalu dipikirkan lagi. Karena yang menyangsikan itu kan petani daerah dan pedagang daerah,” kata Zulkifli, Jumat (28/7/2017).

Zulkifli yakin mulai Senin (31/7/2017), pasokan beras ke PIBC bakal normal kembali.

“Beras masuk pasar induk 3.000 ton per hari saya jamin itu,” ujar Zulkifli.