PT SOLID GOLD BERJANGKA – “Tercyduk! Dengan kekuatan hengpon jadul cekrek cekrek aplot,” tulis pemilik akun Lambe Turah memberi keterangan di bawah foto yang diunggahnya. Lambe Turah—dalam bahasa Jawa, berarti ‘mulut yang berlebih’, adalah nama kondang di jejaring sosial. Dia punya lebih dari 3,5 juta pengikut di Instagram.

Jangan cari makna kata ‘tercyduk’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dijamin tak akan pernah ketemu. Makna kata-kata itu bisa didapatkan di situs web Kitab Gaul, kamus daring ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku. ‘Tercyduk’ berasal dari kata ‘terciduk’, dengan arti sama, yaitu tertangkap basah, namun huruf /i/ diubah menjadi /y/.

Contoh lain kata gaul yang beberapa tahun lalu lumayan populer adalah baper, merupakan singkatan dari ‘bawa perasaan’. Salah satu kontributornya menuliskan arti baper dengan ‘semacam perasaan yang datang secara tidak sengaja dan bila dilanjutkan bisa menimbulkan komplikasi berkelanjutan’.

Situs web ini dibuat pemrogram perangkat lunak bernama Adrian Godong. Lulusan Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung, Bandung, ini mulai pembuatan perangkat lunak Kitab Gaul sekitar Mei 2010. “Proses pembuatan kira-kira tiga bulan. Tepat 17 Agustus 2010 diluncurkan,” ujar Adrian

Kitab Gaul dikembangkan dengan model urun daya. Siapa pun boleh berkontribusi memasukkan dan memberi usulan kosakata baru. Lebih dari 95 persen isi Kitab Gaul, ujar Adrian, merupakan hasil usulan dari anggota. “Sisanya dikumpulkan oleh teman-teman pendukung sebelum Kitab Gaul diluncurkan untuk publik,” ujar Adrian, yang kini menetap di Seattle, Washington, Amerika Serikat.

Proses sunting kosakata usulan, menurut Adrian, sangat sederhana. Tahap pertama validasi usulan. Usulan yang tidak lengkap, seperti kata, definisi, dan contoh kosong atau tidak berhubungan, langsung ditolak. “Usulan yang terlalu vulgar juga ditolak,” ujarnya. Selanjutnya kata tersebut dipoles. Usulan yang valid kemudian diperiksa tata kata dan ejaannya. “Usulan yang sudah lolos poles langsung diterima dan dapat dilihat oleh umum. Semua saya kerjakan sendiri.”

Adrian menuturkan sebuah kamus daring kata dan frasa slang bahasa Inggris yang dibuat pada 1999 bernama Urban Dictionary menjadi sumber inspirasinya. Kamus yang dibuat Aaron Peckham, mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer California Polytechnic State University, ini juga menggunakan konsep urun daya. “Saya lihat belum ada situs web yang spesifik untuk bahasa Indonesia, jadi Kitab Gaul diciptakan untuk mengisi kekosongan ini,” ujar Adrian

Pembuatan Kitab Gaul, kata Adrian, akan memudahkan masyarakat memahami kata-kata gaul yang berubah dengan cepat. “Banyak orang merasa bingung ketika mendengar atau membaca kata-kata gaul baru,” ujarnya. “Saya melihat Internet sebagai media yang cocok untuk membagikan informasi karena cepat, murah, dan mudah diakses oleh banyak orang.”

Setiap masa, di banyak daerah, punya bahasa ‘gaul’ sendiri, meski bahasa ini sangat jarang terdokumentasi dengan baik. Di Kota Malang, Jawa Timur, misalnya, ada bahasa walikan, yang populer di antara anak-anak muda. Demikian pula di kalangan anak muda Yogyakarta pada 1980-an hingga 1990-an, populer bahasa gaul yang mengikuti pola aksara Jawa Hanacaraka. Kata ‘matamu’, misalnya, berubah menjadi dagadu.

Anak-anak muda di Jakarta pada 1970-an pasti kenal bahasa prokem. Ariel Heryanto, dalam bukunya Popular Culture in Indonesia, menulis, bahasa gaul anak Jakarta ini dipakai anak-anak muda kala itu untuk membedakan dengan generasi bapak-ibunya. Sebagian bahasa itu, seperti bokap dan nyokap, untuk menyebut bapak dan ibu, masih sering dipakai sampai hari ini.

Bertahun-tahun kemudian, bahasa prokem pun dianggap tua oleh generasi-generasi berikutnya. Anak-anak muda Jakarta pada 1990-an dan tahun 2000-an punya bahasa gaul sendiri. Beberapa kata sulit ditelusuri dari mana asal-muasalnya. Jayus salah satunya. Dalam buku mereka, Indonesian Slang, Christopher Torchia dan Lely Djuhari menulis jayus berasal dari nama orang, Jayusman Yunus, penari di Swara Mahardhika pada 1970-an. Tapi di Wikipedia, ada pula yang menulis bahwa jayus berasal dari nama Djayusman Soepadmo, alumnus SMA Kolese Gonzaga angkatan V tahun 1991-1994. Meski berbeda belasan tahun, arti jayus kurang-lebih sama, lelucon yang kurang lucu.

Jauh sebelum Adrian membuat situs web Kitab Gaul, ada aktris Debby Sahertian yang mengumpulkan slang pada masanya dalam buku dengan judul Kamus Bahasa Gaul pada 2000. Debby, yang populer dalam drama komedi Lenong Rumpi, terinspirasi sebuah komunitas yang memakai bahasa rahasia untuk berkomunikasi. Debby banyak menyerap ‘bahasa salon kecantikan’. Aku, misalnya, jadi akika, begitu berubah menjadi begindang, kata sepatu, entah bagaimana asal-muasalnya, berubah menjadi separatus.

Kepala Bidang Pengembangan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dora Amalia menyatakan bahasa gaul atau slang merupakan gejala umum yang terjadi pada semua bahasa di dunia. “Ragam bahasa seperti ini biasanya dipakai untuk kumpulan atau komunitas mereka sendiri,” ujar Dora. “Bagi saya, bukan hal yang mengkhawatirkan sepanjang penuturnya tahu tempat untuk memakainya.”

Bahkan kamus tua Merriam-Webster pun memberikan tempat bagi bahasa-bahasa gaul yang banyak dipakai orang. Pada September 2017, pengelola kamus Merriam-Webster memasukkan 250 kata baru. Di antara kata-kata baru itu adalah alt-right, schneid, dog whistle, dan bunny. Situs Merriam-Webster juga menyediakan bagian ‘New Words & Slang’. Di bagian ini bisa ditemui kata-kata yang belum diserap menjadi ‘bahasa formal’, seperti woot dan ginormous.

Bahasawan Wahyu Adi Putra Ginting menuturkan pemakaian bahasa gaul tidak akan pernah merusak tatanan bahasa Indonesia. Penutur bahasa Indonesia, kata Wahyu, sudah punya kemampuan untuk membedakan ruang penggunaan bahasa. Ketika bersama orang dekat, keluarga, atau sahabat, seorang penutur biasanya memakai bahasa informal. “Saat penutur yang sama masuk ke ruang formal, secara sadar akan mengubah gaya bicaranya dengan lebih memilih ragam baku,” ujar Wahyu.

Bahasa gaul pun punya keterbatasan. Gejala bahasa tersebut, ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, itu memiliki batas umur. “Hanya muncul sesekali. Kadang dia naik dapat popularitas tinggi dan diikuti banyak orang. Beberapa saat kemudian bisa tertidur atau mati. Misalnya, sekarang saya sudah sangat jarang mendengar orang memakai kata ciyus atau miapah. Padahal beberapa tahun lalu sangat populer,” kata Wahyu.

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

blogspot.com 

wixsite.com wordpress.com weebly.com blogdetik.com
strikingly.com jigsy.com spruz.com bravesite.com