SOLID GOLD BERJANGKA – Nama Yu Hua dikenal sebagai penulis kenamaan Tiongkok yang melahirkan lima karya fenomenal, berkualitas, dan diperhitungkan di ranah sastra internasional. Dengan diterjemahkan novel perdananya ‘To Live’ ke dalam bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo membuat namanya kian dekat ke hadapan pembaca Tanah Air.

Novel yang diterjemahkan masih dengan judul yang sama itu diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama pada Februari 2015. Lalu siapakah Yu Hua dan kiprahnya dalam menulis?

Pria kelahiran Haiyan, provinsi Zhejiang pada 1960 silam besar di dalam lingkungan yang berprofesi sebagai dokter. Sepanjang masa mudanya, Yu Hua hidup dalam masa Revolusi Kebudayaan sampai dia bertugas sebagai seorang dokter gigi. Namun, keinginannya untuk menulis sangat besar, lima tahun kemudian Yu Hua menerbitkan cerita pendek pertamanya di sebuah majalah sastra.

Sejak saat itu, namanya diperhitungkan. Penulis yang meraih penghargaan Italian Premio Grinzane Cavour and Gluseppe Acerbo itu makin rutin menulis. Sambil berkelakar, Yu Hua mengatakan perbedaan pendapat dan pandangan terhadap sesuatu hal adalah lumrah.

“Sama seperti Agustinus yang hidup di zona nyamannya. Dia keluar dari itu dan mencari identitas dirinya, mencari apa itu Indonesia dan kampung halamannya,” katanya ketika mengobrol dengan detikHOT usai sesi diskusi Writers Stage di ajang Beijing International Book Fair (BIBF) 2016.

Buku pertamanya sempat dilarang beredar di Tiongkok tapi justru meraih banyak penghargaan internasional serta diadaptasi ke dalam layar lebar oleh sutradara film Zhang Yimou. Serta diterjemahkan ke dalam 20 bahasa dunia. Meski sempat dilarang beredar dan menjadi kontroversial, Yu Hua punya cara tersendiri.

“Saya tahu mana karya saya yang sekiranya tidak bisa dibaca oleh masyarakat Tiongkok, dan tidak bisa diterbitkan di sini ya saya terbit di luar negara saya. Sekarang saya sudah tahu caranya harus seperti apa,” katanya.

Di novel selanjutnya ‘Brothers’, Yu Hua membicarakan tentang kehidupan seseorang yang hidup di dua era. Selain dua novel yang disebutkan di atas, ada tiga novel lainnya, enam buku kumpulan cerita pendek, dan tiga buku kumpulan esai yang rilis sepanjang kariernya menjadi penulis. Dia tidak menyangka di usianya yang menginjak hampir 60 tahun masih tetap menulis.

“Saya akan tetap menulis, mungkin bukan soal kritik terhadap sosial atau politik, tapi masih menulis hal-hal kemanusiaan yang dekat dengan negara ini,” katanya.

Terkenalnya Yu Hua di negara asalnya membuat usai sesi diskusi ‘Zero: When The Journey Takes You Home’ puluhan orang yang hadir meminta tanda tangannya bak selebriti.

“Saya membaca novel Yu Hua ketika SD dan dia memang terkenal banget, jadi nggak heran kalau ada banyak pembaca yang langsung menemui Yu Hua dan minta tanda tangan,” pungkas Sophia, salah seorang pembaca yang hadir saat diskusi.