PT SOLID GOLD BERJANGKA –Sungai Rawagede, Rawamerta, Karawang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, seketika berwarna merah. Darah bersimbah dari jasad penduduk desa yang jadi korban pembantaian pada Selasa Kliwon, 9 Desember 1947, yang dikenal sebagai Agresi Militer I Belanda.

Hampir seluruh pria berusia 15-60 tahun tewas dibunuh tanpa perlawanan. Hanya seorang pria bernama Sa’ih bin Sakam yang berhasil lolos. Pria itu kini telah meninggal, yakni pada pertengahan 2011. Belakangan, tercatat 431 warga tewas akibat kebrutalan pasukan Koninlijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) itu.

Pembantaian Rawagede—begitu peristiwa itu dikenal—menjadi salah satu jejak kekerasan militer Belanda terparah dalam periode revolusi fisik di Indonesia (1945-1950), selain peristiwa serupa yang dikomandoi Kapten Raymond Westerling di Sulawesi Selatan. Penyiksaan dan penembakan sewenang-wenang di Rawagede diakui dalam De Excessennota, buku putih pemerintah Belanda yang terbit pada 1969. Namun, sejak saat itu hingga hari ini, Belanda berkeras menyebut peristiwa Rawagede adalah “kejahatan eksesif”, bukan “kejahatan perang”.

Pada 2011, pengadilan sipil di Den Haag memenangkan gugatan janda-janda korban Rawagede yang difasilitasi Komite Utang Kehormatan Belanda. Pemerintah Belanda diperintahkan meminta maaf dan memberikan ganti rugi kepada janda-janda korban Rawagede itu masing-masing sebesar 20 ribu euro.

Namun Belanda menekankan bahwa permintaan maaf itu untuk kasus khusus, terkait ekses. Meski begitu, putusan Rawagede turut memantik desakan kepada Belanda untuk meneliti kembali agresinya di Indonesia. Dan Rawagede disebut-sebut bakal menjadi objek penelitian berbiaya Rp 61 miliar, yang oleh sebagian pihak di Belanda maupun Indonesia dinilai bias kepentingan politik, itu.

“Mereka melakukan penelitian itu hanya untuk mencari kambing hitam saja supaya tidak disalahkan kalau mereka melakukan kejahatan perang. Kemerdekaan Indonesia itu tidak diakui sampai KMB, Konferensi Meja Bundar, tanggal 27 Desember 1949. Perlu diingat kalau itu berarti Hindia Belanda bukan Indonesia. Itu kalau Belanda mengakui, Belanda itu mematikan dirinya sendiri,” kata Jeffry Pondaag, Ketua KUKB.

Sukarman, seorang peneliti sejarah Karawang, yang juga anak salah satu korban Rawagede, bercerita tentang pembantaian Rawagede. Rawagede pada 1947 adalah tempat berkumpul sejumlah laskar pejuang yang ada di Bekasi dan Karawang. Bahkan sejumlah pejuang dari Cirebon maupun Yogyakarta kerap menjadikan desa tersebut sebagai tempat persinggahan.

“Warga di Rawagede, terutama para juragan tanah, sangat terbuka terhadap para pejuang. Mereka rela memberikan makanan maupun tempat menginap bagi para pejuang. Jadi, untuk urusan logistik, para pejuang tidak merasa khawatir,” ujar Sukarman di Rawagede—kini Balongsari—Rabu, 20 September 2017.

Selain jadi gudang logistik, Rawagede sangat strategis untuk memobilisasi penyerangan. Soalnya, saat itu Rawagede dilintasi jalur kereta api Cikampek-Rengasdengklok. Rengasdengklok merupakan salah satu gudang persenjataan dan material. Di sana ada bekas markas pasukan Pembela Tanah Air (Peta) bentukan Jepang.

Aksi brutal tentara Belanda dilakukan terhadap warga Rawagede setelah mendengar Kapten Lukas Kustario (Komandan Divisi Siliwangi Wilayah Karawang-Bekasi) berada di desa itu. Lukas, yang meninggal pada 8 Januari 1997, saat itu menjadi momok bagi militer Belanda. Soalnya, Lukas adalah salah seorang pejuang yang membajak kereta api yang membawa senjata dan amunisi milik pasukan Belanda pada awal 1947.

Kereta yang bergerak dari Surabaya menuju Jakarta itu dicegat Lukas dan pasukannya di wilayah Cikampek. Dari pembajakan tersebut, pasukan Lukas merampas ratusan pucuk senjata dan ribuan butir peluru. Sejak saat itu Lukas menjadi orang yang paling dicari pasukan Belanda.

Dari informasi intel Belanda, Minggu, 7 Desember 1947, diketahui Lukas sedang berada di Rawagede bersama ratusan personel pasukannya. Namun, karena pasukan Belanda yang bermarkas di Karawang tidak berani masuk ke desa itu, mereka akhirnya minta bantuan dari Jakarta.

Dalam waktu singkat, pasukan Belanda yang bermarkas di Jakarta langsung bergerak ke Karawang dengan kekuatan 300 personel bersenjata lengkap. Pasukan Belanda yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang adalah Detasemen 3-9 RI, Pasukan Para (1e Para Compagnie), dan 12 Genie Veld Compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan Para dan DST (Depot Speciale Troepen).

Pasukan tersebut dipimpin Mayor Alfons Wijnen dan mendapat perintah membumihanguskan Rawagede, yang dianggap sebagai basis pasukan para pejuang dan menjadi markas Kapten Lukas. “Pasukan Belanda tiba di pinggiran Desa Rawagede pada Senin pukul 19.00 WIB. Sementara Lukas dan pasukannya sudah bergerak ke Cililitan pada pukul 15.00 WIB. Jadi yang ada di desa hanya tinggal beberapa pejuang yang terluka dan penduduk desa,” kata Sukarman.

Sa’ih, saksi hidup yang sempat diwawancarai pada 11 Agustus 2010, mengatakan Belanda saat itu yakin Lukas dan pasukannya bersembunyi di Rawagede. Suminta selaku Lurah Rawamerta lalu memberitahukan rencana penyerbuan itu kepada seluruh warga desa.

Warga kemudian memblokade jalan desa dengan pohon. Jembatan-jembatan pun dirusak. Meski saat diwawancarai usia Sa’ih sudah uzur, yakni berusia 88 tahun, ia ingat betul, pada malam pengepungan, hujan turun lebat di Rawagede.

Namun upaya warga memblokade jalan desa sia-sia karena pasukan Belanda menggunakan tank, yang dengan mudah melumat rintangan yang dibuat warga. Selepas subuh, suara dentuman meriam memecah keheningan. Warga kocar-kacir dibuatnya.

Apalagi para pejuang yang tersisa di Rawagede tinggal 30 orang. Mereka dalam posisi kelelahan dan tanpa senjata. Sementara itu, ratusan pejuang yang dua hari sebelumnya singgah sudah bergerak ke Bekasi dan Jakarta untuk menyerang pos militer Belanda.

Sa’ih, yang saat itu masih berusia 25 tahun, dan puluhan temannya bersembunyi di Sungai Rawagede. Mereka menenggelamkan diri di pinggiran sungai yang cukup dalam setelah diguyur hujan semalaman. Hanya kepala mereka yang muncul untuk bernapas.

Upaya mereka hampir berhasil hingga sekitar pukul 11.00 WIB Belanda tidak menemukan mereka. Sialnya, salah satu kaki seorang pejuang yang bersembunyi di pinggir sungai terlihat Belanda. Tanpa ampun, pasukan KNIL dan Belanda langsung menembaki pinggiran sungai sambil memerintahkan Sa’ih dan pemuda desa lainnya keluar dari sungai.

Semua berjumlah 12 orang, yang kemudian dijajarkan tiga baris, masing-masing empat orang, dalam posisi jongkok. Satu per satu dari mereka ditanyai tentang keberadaan Kapten Lukas. Namun, karena tidak ada satu pun warga yang buka mulut, senjata pasukan Belanda pun menyalak.

Satu per satu roboh ke tanah. Sa’ih, yang berada di barisan paling depan, cukup beruntung, peluru hanya menyerempet punggungnya. Namun ia pura-pura roboh seolah tak bernyawa.

Sekitar 15 menit setelah aksi sadis itu, pasukan Belanda meninggalkan desa. Dalam kondisi mengalami luka tembak, Sa’ih bangkit dan berusaha pergi dari desa dengan melewati sungai yang sudah dipenuhi mayat yang bergelimpangan. Sa’ih berhasil lolos dari kematian dan bersembunyi di desa tetangga untuk penyembuhan.

Soal peristiwa Rawagede, sejarawan Rusdy Husein punya versi lain. Menurutnya, pembantaian tersebut tidak terkait dengan perburuan Lukas. “Pada bulan Desember itu, Lukas sudah hijrah ke Jawa Tengah. Saya pernah berbincang dengan Pak Lukas di salah satu rumah kerabat saya di Bekasi,” tuturnya.

Rusdy, yang mengaku ayahnya adalah seorang kapten laskar di Karawang, menuturkan Sutan Sjahrir, yang saat itu menjabat Perdana Menteri, mengeluarkan instruksi pada November 1947/. Isinya permintaan agar Tentara Republik Indonesia (TRI) keluar dari Jakarta karena Jakarta adalah kota internasional.

Perintah itu pun dituruti. TRI pindah ke Cikampek, dan laskar pindah ke Karawang. Namun rupanya pergolakan yang sebelumnya terjadi di Jakarta bergeser ke Karawang. Musababnya, laskar yang berada di bawah komando Tan Malaka tidak mau melakukan gencatan senjata dengan pihak Belanda.

Berdasarkan dokumen yang dibaca Rusdy dari Belanda, ada seorang pribumi yang berprofesi sebagai polisi Belanda. Ia memiliki anak seorang petani yang tinggal di Rawagede. Petani itu diculik gerombolan eks laskar, tapi ia berhasil lolos dan menceritakan hal tersebut kepada bapaknya, yang kemudian melaporkannya kepada pasukan Belanda dari Divisi 7 Desember pimpinan Mayor Alfons Wijnen.

Laskar mendengar kabar akan datangnya pasukan tersebut, dan mereka melarikan diri dari Rawagede, sehingga yang diperas dan dibunuh pasukan Belanda adalah rakyat di kawasan Rawagede itu. “Kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan Lukas karena dia sudah pergi ke Jawa Tengah,” kata Rusdy.

Ditambahkan Rusdy, pasukan Lukas hijrah ke kawasan Jawa Tengah karena keluarnya perjanjian Renville. Namun, dari catatan sejarah, perjanjian yang dibuat di kapal induk Renville yang bersandar di Teluk Jakarta itu dimulai pada 8 Desember 1947 atau sehari sebelum peristiwa Rawagede.

Kesepakatan perjanjian Renville itu ditandatangani pada 17 Januari 1948, disusul instruksi untuk menghentikan tembak-menembak pada 19 Januari 1948. Terkait hal itu, Rusdy mengatakan, peristiwa Rawagede masih diliputi ketidakpastian sehingga masih harus dilakukan banyak penelitian. Menurutnya, sumber-sumber dari Belanda cukup kuat.

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

blogspot.com wordpress.com weebly.com blogdetik.com strikingly.com
wixsie.com jigsy.com spruz.com bravesite.com