PT Solid Gold Berjangka | Jelang Akhir Pekan, Harga Dolar AS Rp 14.018

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.

PT Solid Gold Berjangka Makassar – Kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini ada di level Rp 14.018. Angka dolar AS  itu tercatat menguat 38 poin dari sebelumnya. Demikian dikutip dari data Reuters, Jumat (22/1/2021).

Hingga pukul 09.40 WIB, kurs dolar AS tercatat bergerak di rentang Rp 14.010-14.018. Jika ditarik dalam satu pekan terakhir, dolar AS tercatat masih melemah 1,55% terhadap rupiah. Pergerakannya ada di rentang Rp 13.974-14.358.

Sementara jika dalam satu bulan terakhir, kurs dolar AS tercatat melemah 0,5% terhadap rupiah. Pergerakannya ada di rentang Rp 13.862-14.358.

Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pada 20 Januari 2021 nilai tukar rupiah menguat 0,77% secara rata-rata dan 0,14% secara point to point dibandingkan Desember 2020.
Perry mengungkapkan penguatan ini disebabkan oleh naiknya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik seiring dengan menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Selain itu persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik juga menyebabkan penguatan rupiah.

“Ke depan BI memandang penguatan nilai tukar rupiah (terhadap dolar AS) berpotensi berlanjut seiring levelnya yang secara fundamental masih undervalued,” kata Perry dalam konferensi pers virtual, Kamis (21/1/2021).

Bursa Saham China Kebanjiran Jutaan Investor Baru Selama Pandemi

Investasi saham semakin diminati terutama di masa pandemi COVID-19. Pasar saham di China saja mencatat, ada jutaan investor baru pada 2020.

Dikutip dari CNBC, Jumat (22/1/2021) menurut China Securities Depository and Clearing pada Desember 2020 saja, pasar saham China mencatat ada 1,62 juta investor baru. Dua kali lipat dari 809.300 jumlah tahun lalu.

Jika ditotalkan sepanjang 2020, investor baru di China meningkat 18,02 juta menjadi 177,77 juta. Itu berarti ada 1,5 juta investor baru tiap bulannya. Lonjakan ini didorong oleh banyak orang yang terpaksa di rumah aja dan ingin menginvestasikan uangnya.

Kenaikan minat investasi saham di China membuat bursa saham seperti Shenzhen naik 38,7% dan CSI 300 naik 27,2% pada tahun 2020. Kenaikan itu mengalahkan keuntungan dari S&P 500 yang naik 16,26%.

Menurut Ernst & Young, China dan Hong Kong sendiri telah menyumbang 40% penawaran umum perdana dunia sepanjang 2020. Shanghai Stock Exchange menempati peringkat pertama di dunia dengan 233 IPO, sedangkan Shenzhen berada di urutan ketiga, tepat setelah Nasdaq, New York.

Menurut data Wind, minat China pada saham lokal juga tinggi di awal tahun ini, dengan volume perdagangan untuk saham-A yang terdaftar melebihi 1 miliar yuan atau US$ 154,32 juta pada 11 dari 13 hari perdagangan pertama tahun 2021.

saham A adalah saham perusahaan China dalam denominasi yuan yang terdaftar di bursa Shenzhen atau Shanghai.