PT SOLID GOLD BERJANGKA – You should date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems with closet space because she has too many books.”

Entah siapa gerangan Rosemarie Urquico, yang telah membuat penggalan kutipan indah ini hingga dapat menyentuh lubuk hati terdalam seorang kutu buku seperti Tetty Merlinda. Bagi sebagian orang, kalimat di atas ini mungkin terdengar tak masuk akal. Wanita mana yang rela menukar lemari berisi gaun indah dengan kumpulan buku tua.

Namun bagi Linda, hal itu tidak mustahil terjadi. Jika sedang kalap, pada acara buku semacam Big Bad Wolf misalnya, Linda mampu memboyong 20 buku sekaligus. Dibandingkan buku virtual seperti e-book, Linda memang lebih menyukai buku berwujud fisik. Toko buku merupakan taman bermain tempat Linda menikmati hidup. Setiap kali ia membalikkan lembaran buku, tercium aroma yang terasa amat menyenangkan.

Linda beruntung lahir dari keluarga pencinta buku. Di kampung halamannya, Padang Panjang, Sumatera Barat, akses buku agak sulit didapatkan. Taman bacaanlah yang jadi juru selamatnya. Di taman bacaan, dia bisa membaca komik Agen Polisi 212 atau dongeng daerah. Dibanding umur Linda, yang kala itu baru menginjak 9 tahun, buku bacaannya jauh lebih dewasa. Beberapa kali ia mengintip bacaan majalah wanita Anita Cemerlang milik tantenya.

“Dulu di lingkungan saya waktu masih kecil, banyak pemabuk di depan rumah kami. Anak-anak sekolah banyak yang cuma sampai SD. Makanya orang tua suka melarang saya main di luar rumah. Lebih baik di rumah dan baca buku saja,” kata Linda. Sejak masih kecil, Linda bertekad suatu saat kelak ia membeli buku bacaan sendiri.

“Rasanya sepi saja, habis baca nggak ada yang bisa didiskusiin.”

Baru setelah menetap di Jakarta dan memiliki pekerjaan sebagai tenaga pemasaran, ia dapat memenuhi impiannya itu. Bahkan kini Linda dapat sesekali membelikan buku karangan Andrea Hirata untuk ayahnya. Meski sudah menginjak usia 80 tahun, sang ayah tidak pikun, bahkan sangat aktif membaca.

“Saya baca buku karena rasa ingin tahunya besar, istilahnya sekarang itu kepo. Bacaan saya terutama buku fiksi membuat imajinasi saya terasah. Saya suka sesuatu hal yang dreamy,” tutur Linda. Buku teranyar yang baru saja dia tuntaskan baca bergenre epik fantasi karya George RR Martin berjudul A Dance with Dragons. Linda juga tergila-gila pada novel-novel penulis kondang JK Rowling, terutama serial Harry Potter.

Cara Rowling membangun imajinasi pembaca, bagaimana dia menggambarkan sekolah sihir Hogwarts, membuat Linda berangan seolah menjadi penulis asal Inggris itu. Linda tak menyangka dapat lebih dekat berhubungan dengan Rowling melalui situs Goodreads. Situs ulasan buku yang bermarkas di San Francisco ini menyerupai jaringan media sosial bagi pencinta buku.

Goodreads mempunyai fitur Friend, Group, dan Discussion sehingga dapat membuat sesama pengguna dan penulis buku terhubung. Istimewanya, pengguna dapat berbagi rekomendasi buku bacaan dengan memberikan ulasan maupun komentar. Selain Rowling, situs ini dimanfaatkan oleh para penulis lain, seperti Raja Horor Stephen King, dan Sang Alkemis Paulo Coelho, untuk berhubungan dengan penggemar mereka.

Sejak mengenal Goodreads, sarjana hukum Universitas Andalas ini tak hanya membaca 100 halaman per hari. Linda jadi rajin menulis ulasan di laman situs yang didirikan pada 2007 itu. Dari sepuluh buku bacaan yang Linda baca per bulan, ia dapat menuliskan lima ulasan. Hingga saat ini ia telah menulis lebih dari 120 ulasan. Bulan ini Linda menyabet posisi ke-6 sebagai top reviewer Indonesia.

“Saya bukan penulis review profesional. Saya masih belajar. Bikin satu paragraf saja rasanya susah banget. Makanya saya salut sekali dengan para reviewer di Goodreads. Bahkan ada anak 16 tahun bisa bikin ulasan mendalam yang panjang. Ternyata dari kecil mereka sudah diajari menulis esai,” kata Linda. Salah satu tantangan terbesarnya adalah ketika ia harus membaca dan mengulas novel yang tebalnya lebih dari 1.000 halaman. Untuk menambah ‘jam terbang’, Linda mulai memperluas genre bacaannya. Mulai novel drama dan romans yang lebih ringan hingga novel ‘serius’, seperti Game of Thrones.

baca selengkapnya : solid gold , solid gold berjangka , pt solid gold berjangka

Petrik Leo tak menyangka ulasan buku Words of Radiance karya Brandon Anderson yang dia tulis di Goodreads dapat mengantarkannya ke posisi ke-6 sebagai top reviewer Indonesia bulan ini. Di antara seluruh pengguna Goodreads yang tersebar di seluruh dunia, Petrik nangkring di urutan ke-53. Tak menunggu waktu lama, ulasan yang ia beri bintang lima alias sempurna ini langsung dihujani lebih dari 400 likes. Padahal baru genap setahun Petrik mulai punya hobi membaca. Petrik aktif di Goodreads karena ia kesulitan mencari teman berdiskusi buku.

“Makin lama menjalani hobi membaca ini jadi banyak yang ingin saya omongin. Rasanya sepi saja, habis baca nggak ada yang bisa didiskusiin. Sama seperti kita habis nonton film, pasti kita mau dong cerita ke teman, ‘Oh, ini film bagus banget atau kurang bagus,’” kata Petrik.

Untuk urusan minat baca buku, berdasarkan studi ‘Most Literate Nation in the World’ yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, kita memang payah. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia menempati urutan ke-60. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Botswana (61).

Ulasannya di situs Goodreads membawa berkah lain bagi Petrik. Awal tahun ini Petrik baru saja direkrut menjadi salah satu pengulas di sebuah grup blogging asal Yunani bernama Booknest. Dengan memiliki blog untuk menuliskan ulasan buku, reviewer amatir seperti Petrik bakal dapat banyak keuntungan. Salah satunya dilirik oleh penulis dan penerbit untuk mendapatkan Advanced Reading Copy atau AFC.

“Saya bisa mendapatkan kesempatan eksklusif membaca novel sebelum terbit. Dan itu akan dikasih cuma kalau kita punya blog karena dianggap lebih profesional. Saya sudah 10 kali mendapatkan AFC, baik itu yang dikirim langsung dari Amerika Serikat atau Inggris maupun dalam bentuk e-book,” kata lulusan Universitas Binus Internasional ini. Di Booknest, Petrik turut berkolaborasi dengan penulis review dari Yunani, Inggris, dan Singapura.

Tapi tak selamanya ulasan di Goodreads, yang memiliki 65 juta pengguna, dapat menyenangkan semua pihak, baik penulis maupun pembaca buku. Saat memberikan ulasan dengan nilai rendah, ada kalanya salah satu pihak tidak terima. Seperti yang dialami Anindhita Raghia. Ia sering menemui ulasan pengguna Goodreads yang menyerang identitas penulis buku dengan tujuan tertentu. Sebaliknya, tak jarang pula ia melihat penulis yang di-bully karena kritiknya tak disukai pembaca lain.

“Tapi memang ada pengarang yang kelakuannya sangat kekanakan sewaktu diberi satu bintang. Kalau beda pendapat, saya biasanya memilih tidak terlalu menyerang, karena saya tidak suka bertengkar. Paling-paling saya tegaskan, ‘Memang bukan selera saya,’” ungkap Anindhita, yang menyukai novel fiksi fantasi dan komik, terutama komik Jepang. Sampai sekarang, dia telah menulis 207 ulasan di Goodreads.

Menurut penerjemah bahasa Jepang di salah satu perusahaan penerbit buku ini, tidak ada ukuran untuk menentukan mana ulasan yang obyektif dan tidak. “Karena kesukaan tiap orang berbeda, kan? Satu-satunya cara, biasanya saya cari poin yang masih bisa dibilang bagus, bahkan dalam buku yang tidak saya suka sekalipun,” kata Anin.

 

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

blogspot.com 

wixsite.com wordpress.com weebly.com blogdetik.com
strikingly.com jigsy.com spruz.com bravesite.com