SOLID GOLD BERJANGKA – Konflik perusahaan tradisional dengan startup seperti yang terjadi pada kemunculan Uber dan Go-Jek tak hanya terjadi di Indonesia. Di negara dengan sektor teknologi yang sudah lebih stabil sekalipun, selalu ada bentrokan saat melakukan transformasi digital.

“Tentu ini terjadi juga di Swedia. Kami pun mendiskusikan hal seperti ini. Bagaimana dampak kepada pengemudi taksi, regulasi dan sebagainya,” kata Duta Besar Swedia untuk Indonesia Johanna Brismar Skoog, ditemui di acara Indonesian-Swedish Digital Forum 2016 di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Mengatasi tantangan tersebut, pemerintah Swedia berupaya menjembatani perusahaan tradisional dan pelaku startup. Berbagai diskusi dilakukan untuk mengambil jalan tengah untuk membuat keduanya akur dan bisa berkolaborasi.

“Yang paling penting adalah regulasi yang tegas dan kita perlu memikirkan sistem keamanan yang menaunginya. Selain itu, pemerintah juga perlu sering-sering berdiskusi dan merangkul keduanya,” sebutnya.

Dikatakannya, bagaimana pun perkembangan teknologi tidak bisa dihentikan. Cara terbaik beradaptasi adalah dengan mengikutinya, bukan malah mencegahnya.

“Sopir taksi tak selamanya jadi sopir taksi. Era berubah, industri juga selalu berevolusi. Ketika kita menghadapi sesuatu yang baru, kita terkejut ‘Apa yang orang-orang ini lakukan?’ Namun kemudian mereka menemukan pekerjaan baru di sektor yang baru,” ujarnya.

Dia menekankan pentingnya semua pihak untuk berkolaborasi. Tak kalah penting juga, edukasi teknologi untuk memuluskan penerapan sebuah teknologi baru di masyarakat.

“Jika tidak demikian, kita akan ketinggalan. Jadi saya rasa jangan takut dengan perubahan. Perubahan itu baik, bisa menciptakan pekerjaan di sektor yang baru. Kita tidak pernah tahu kan,” tutupnya.