Kyai Peci Hitam, Pahlawan yang Terlupakan dari Sukabumi

PT SOLID GOLD BERJANGKA – Peci hitam selalu menghiasi kepalanya, ciri khas yang melekat pada dirinya. Perlawanannya bukan dengan senjata, namun dengan berdakwah dan menerjemahkan Alquran.

Kyai berpeci hitam itu adalah KH Ahmad Sanusi, seorang ulama besar kelahiran 18 September 1889. Berbagai penghargaan sudah disematkan kepada Kyai yang bernama lain Ajengan Genteng ini, Presiden Soeharto pernah menganugerahi penghargaan Bintang Maha Putera Utama pada tanggal 12 Agustus 1992 berlanjut pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono yang juga menganugerahi Bintang Maha Putera Adipradana pada tanggal 10 November 2009.

Kyai Peci Hitam, Pahlawan yang Terlupakan dari Sukabumi

Meskipun Pemerintah Kota Sukabumi sudah mengabadikan namanya sebagai salah satu nama jalan, keinginan masyarakat agar KH Ahmad Sanusi mendapat gelar pahlawan tidak kunjung diperoleh.

“Beliau ini adalah salah satu pejuang perintis kemerdekaan era 1920 sampai dengan 1950-an. Beliau tidak mengangkat senjata, tapi melalui pemikirannya berhasil membuat geram tentara Belanda bahkan beberapa kali Ajengan Sanusi (sebutan untuk KH Ahmad Sanusi) ditahan oleh kompeni,” kata Munandi Saleh, ketua organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) Kota Sukabumi kepada detikcom di sela kegiatan Seminar menyambut hari Pahlawan 10 November dan pengusungan KH Ahmad Sanusia sebagai Pahlawan Nasional yang digelar di Ponpes Al Fath.

“Sudah tiga kali diajukan, 2008, 2013 dan terakhir 2015 entah kenapa pihak pemerintah tidak memberikan respons dan menyematkan gelar Pahlawan. Padahal Ajengan Sanusi adalah salah satu pejuang kemerdekaan dari Sukabumi,” sambungnya.

Ajengan Sanusi lahir di Desa/Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi. Melalui tangan dinginnya dia mendirikan Al-Ittahadul Islamiyah (AII) di awal era penjajahan Jepang sebuah organisasi di bidang pendidikan dan ekonomi yang kemudian berubah nama menjadi PUII (Persatuan Umat Islam Indonesia) pada tahun 1944.

“Beliau ini karakternya ngeyel dan memiliki sikap yang keras tidak mau tunduk kepada penjajah, ketika AII dibubarkan oleh Jepang beliau membuat lagi PUII dan bergerak menjelang kemerdekaan,” lanjut Munandi.

Dikatakan Munandi, nama Ahmad Sanusi tertulis dalam sebuah prasasti di Gedung KAA Bandung, dia adalah salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dengan nomor urut 36.

“Salah seorang guru dari KH Ahmad Djuaweni, petinggi tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan beliau juga ikut merumuskan pembentukan PETA saat itu. Dengan sederetan perjuangan itu entah kenapa kami selaku masyarakat yang mengagumi beliau beberapakali mendorong gelar Pahlawan, namun tidak pernah dikabulkan pemerintah,” sesalnya lagi.

Di tempat yang sama, KH Fajar Laksana pendiri sekaligus pengelola Ponpes Dzikir Al-Fath mengakui kehebatan sepak terjang Ajengan Sanusi. Selain sebagai pendiri beberapa pesantren salah satunya Pesantren Gunungpuyuh, Ajengan Sanusi juga mempunyai ciri khas nasionalisme yang tinggi lewat peci hitamnya.

“Peci hitam itu ciri khas bangsa Indonesia, dengan peci itu dia menggelorakan semangat santri dan anak muda untuk mau berjuang. Sampai akhirnya dia sempat ditahan di beberapa tempat, diantaranya di Cianjur, Sekolah Polisi (sekarang Setukpa), Lapas Nyomplong dan di Batavia Centrum (Jakarta). Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya penjajah saat itu dengan semangat berjuang Ajengan Sanusi,” beber Fajar.

Ajengan Sanusi wafat pada tahun 1950 di Sukabumi pada umur 61 tahun. Makam kyai pejuang itu berada di Gunung Puyuh di kompleks pemakaman keluarga di sebelah utara dari Pesantren Gunungpuyuh Sukabumi.

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

blogspot.com wordpress.com weebly.com blogdetik.com strikingly.com
wixsite.com jigsy.com spruz.com bravesite.com