SOLID GOLD BERJANGKA – Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hati perempuan. Namun yang dilakukan para bujang di Jepang ini cukup unik. Agar cepat mendapat pasangan dan menjadi suami idaman, para pria lajang di Jepang berbondong-bondong mengambil kelas parenting.

Ambil contoh Masaya Kurita (31). Meski belum punya calon istri, apalagi calon buah hati, Kurita rela mengambil kelas ikumen. Buat apa? Rupanya ada agenda terselubung yang dimiliki Kurita. Konon dengan mengambil kelas tersebut, ini bisa meningkatkan peluangnya menemukan pendamping hidup.

Ikumen merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang berarti child rearing atau mengasuh anak. Pekerjaan semacam ini biasanya hanya dilakukan oleh para perempuan, tetapi di Jepang, para bujangan berbondong-bondong mengambil kelas ikumen.

Kelas ini dipelopori oleh sebuah perusahaan bernama Ikumen University yang berbasis di Osaka. Dalam menawarkan jasanya, perusahaan ini terang-terangan berpromo akan membantu para bujangan agar bisa menjadi suami idaman.

Di kelas ini, para pria diajari cara memandikan dan memakaikan baju pada bayi. Bahkan mereka diajari cara memahami bagaimana mengasuh anak dari perspektif wanita, di antaranya dengan mengenakan kostum kehamilan seberat 7 kg, agar para pria tahu beratnya menjadi seorang ibu dan belajar membangun komunikasi yang baik dengan pasangan.

Uniknya, dari pelajaran-pelajaran itu mereka juga diminta untuk memahami karakteristik apa saja yang tidak disukai wanita dari pria sebagai bahan introspeksi. “Di sini saya juga bisa merefleksi diri, dan saya berharap bisa memperlihatkan sisi yang lebih rentan dari diri saya nantinya,” kata Kurita yang sudah menghabiskan waktu enam bulan lebih untuk mencari pasangan hidup lewat biro jodoh.

Apa yang dipelopori Ikumen University sendiri sebenarnya sudah di luar kebiasaan di Jepang. Jepang dikenal sebagai bangsa yang gila kerja, apalagi untuk para pria, sebab mereka hanya dianggap perlu menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga.

Itulah sebabnya data yang dimiliki Ministry of Labour menunjukkan para suami di Jepang jarang sekali mengambil cuti ketika istrinya melahirkan. Jumlahnya hanya berkisar 2,65 persen di tahun 2015, masih jauh dari target yang dicanangkan Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mencapai angka 13 persen di tahun 2020.

Direktur Ikumen University, Takeshi Akiyama sendiri meyakini angka pernikahan di Jepang akan naik tajam jika calon istri dan calon suami sama-sama memiliki kemampuan yang baik dalam mengasuh anak.

“Biro jodoh juga bisa mengiklankan para pria yang sudah mengambil kelas ini dengan ‘nilai plus’, dan saya kira dengan ini kita bisa mengubah mindset orang Jepang tentang kesetaraan dalam keluarga,” katanya seperti dilaporkan Reuters.

Pemahaman ini memang nampaknya mulai bergeser dalam masyarakat Jepang. Buktinya, peminat kelas ikumen tidak terbatas pada para bujang. Sejumlah pria yang sudah menikah juga ambil bagian dalam kelas ini, biasanya untuk mempersiapkan diri mereka jelang kelahiran anaknya.

Harapan lain, dengan adanya kelas ini, perusahaan-perusahaan di Jepang juga mencoba memberikan akomodasi kepada para ayah yang ingin lebih berperan dalam keluarga misal melonggarkan jam kerja atau mempermudah pemberian cuti bagi mereka.