SOLID GOLD BERJANGKA – Harga batu bara yang terus menurun sejak 2011, membuat PT Adaro Energy Tbk melakukan diversifikasi bisnis agar dapat bertahan. Kini Adaro telah bertransformasi dari sekedar perusahaan yang bergerak di bisnis pertambangan, untuk berbisnis pembangkit listrik dan logistik.

“Adaro sudah bertransformasi dari yang tadinya cuma tambang jadi ada logistik, pembangkit listrik. Jadi sekarang kita ada tiga pilar bisnis, yaitu tambang, logistik, dan power plant,” ujar Presiden Direktur Adaro, Garibaldi ‘Boy’ Thohir, saat ditemui di Gedung Sudirman, Jakarta, Rabu (14/9/2016).

Boy menargetkan, kontribusi dari bisnis logistik dan pembangkit listrik bisa lebih besar dari usaha tambang dalam 5 tahun ke depan. Dengan begitu, Adaro tidak bergantung lagi pada komoditas. Bila harga komoditas dalam tren menurun, keuangan Adaro tetap stabil.

“Dengan strategi seperti ini mudah-mudahan nanti kita tidak melulu bergantung pada tambang. Saya bayangkan lima tahun dari sekarang bisa sepertiga dari logistik, sepertiga dari power plant, sepertiga dari tambang sehingga nanti kalau ada gejolak bisa lebih stabil. Kalau kita melulu hanya tergantung pada komoditi, begitu naik ya naik begitu turun jatuh. Nah kalau dengan strategi ini bisa lebih stabil,” paparnya.

Dia menambahkan, bisnis pembangkit listrik dan logistik Adaro kini sudah semakin berkembang. Kontribusi keduanya terhadap kinerja Adaro sekarang sudah mencapai 40%.

“Sekarang yang dominan memang masih pertambangan, sekitar 60 persen. Tapi 40 persen sudah dari non mining,” tutupnya.