PT SOLID GOLD BERJANGKA – Jumlah jamaah umrah terus meningkat. Pada 2016 menurut catatan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi ada hampir 700 ribu visa diterbitkan untuk jamaah umrah dari Indonesia. Jumlah ini meningkat 7,2% dibanding 2015. Di masa depan pertumbuhan jumlah jamaah ini akan semakin pesat. Indonesia adalah pengirim jamaah umrah terbesar ketiga setelah Mesir dan Pakistan.

Panjangnya antrean haji adalah sebab utama meningkatnya jumlah jamaah umrah. Masa tunggu rata-rata nasional untuk keberangkatan haji adalah 17 tahun. Masa tunggu terpanjang terjadi di Kapupaten Rappang, Sulawesi Selatan yaitu 42 tahun. Kalau seseorang mendaftar (membayar setoran dana haji) sekarang, paling cepat ia baru akan bisa berhaji 10 tahun lagi. Atau, bahkan 20 tahun lagi.

Pergi haji yang nyaris mustahil itu membuat banyak orang pergi umrah, menjadikannya semacam pelipur lara sambil menunggu tibanya giliran pergi haji.

Tapi, itu bukan satu-satunya sebab. Umrah ini adalah sebuah perjalanan. Dari satu sudut pandang, ini adalah bisnis. Bagi sebuah biro perjalanan, menyelenggarakan haji sangat sulit izinnya. Menyelenggarakan umrah lebih mudah. Lagi pula bisa sepanjang tahun, tidak seperti haji yang hanya setahun sekali.

Maka biro perjalanan melakukan berbagai kegiatan dan iklan, agar orang-orang pergi umrah. Tidak hanya kemudahan dan kenyamanan perjalanan yang ditawarkan, tapi juga imbalan-imbalan dari langit.

Pada suatu pengajian manasik umrah, saya terkesima mendengar materi yang disampaikam ustaz. Hampir sepanjang ceramah ia menguraikan betapa umrah akan membuat orang jadi lancar rezekinya. Ia memberikan banyak kisah contoh, tentang orang-orang yang sukses bisnis dan karier setelah pergi umrah. Kontan saja pengusaha dan orang kaya yang memang mampu akan pergi umrah berkali-kali.

Pada saat yang sama sang ustaz juga menceritakan derita orang-orang yang tidak mau pergi. Ada yang bisnisnya bangkrut, rumah tangganya berantakan, bahkan anaknya mati kecelakaan. Maka, orang-orang yang berpikir panjang mempertimbangkan untuk pergi atau tidak, jadi takut berpikir lagi.

Ini adalah sesat pikir yang dikembangkan seputar urusan umrah. Maka, kembalikan lagi kepada hakikatnya. Umrah itu adalah ibadah, sebagaimana ibadah-ibadah lain. Kita melakukannya karena tunduk pada Allah dengan ikhlas. Bukan karena ingin sukses dalam urusan dunia, bukan karena ingin kaya. Umrah itu ibadah sunnah (meski ada juga ulama yang berpendapat bahwa hukumnya wajib). Terlebih, sebagaimana haji, ia hanya disyariatkan bagi yang mampu. Yang tidak mampu tidak perlu memaksakan diri.

Selanjutnya, kita akan bahas praktik sesat umrah.

Umrah seharusnya hanya boleh diselenggarakan oleh biro perjalanan yang punya izin. Jelas lembaga dan status hukumnya. Jelas rekam jejaknya. Juga jelas tanggal berangkat, rencana perjalanan, serta fasilitas yang ditawarkan. Tapi, banyak calon konsumen yang tidak tahu. Maka, banyak cara yang dilakukan untuk menipu.

Ada banyak penyelenggara umrah yang bukan biro perjalanan resmi. Ada yang sebenarnya membeli paket umrah milik biro perjalanan lain, tapi diberi label seolah ia menyelenggarakan sendiri. Ada pula yang menyelenggarakan umrah dengan memakai “bendera” perusahaan lain untuk urusan yang berkaitan dengan legalitas, tapi jalan sendiri dalam praktik penyelenggaraannya. Ketika terjadi kekacauan, peserta tidak bisa menuntut karena lembaga penyelenggara memang tidak legal.

Praktik dasar umrah adalah, seseorang punya uang, ia membayar biaya perjalanan, dan pergi umrah. Tapi, ada praktik lain. Kalau belum punya uang, titip dulu. Saya pernah melihat sendiri praktik ini. Jamaah titip dulu sejumlah uang pada ustaz. Uang itu ditambah terus, sampai cukup untuk pergi. Ustaz jadi semacam bank tempat menabung. Ada yang berangkat setahun kemudian. Ada yang tiga tahun kemudian.

Tapi kan berangkat. Apa salahnya? Iya, kalau kebetulan ustaznya jujur. Lho, apakah ada ustaz yang tidak jujur? Ada, banyak. Ada juga ustaz yang tadinya jujur, kemudian tergoda jadi tidak jujur ketika uang sudah menumpuk di tangannya. Atau lebih sederhana, kalau ustaznya mati, siapa yang akan bertanggung jawab?

Si ustaz sendiri tidak menyadari kesalahannya. Pikir dia, saya sedang membantu orang yang hendak beribadah. Ia lupa bahwa sebenarnya ia sedang menghimpun dana dari masyarakat. Perlu sejumlah syarat untuk bisa melakukan itu. Bahkan ketika tahu bahwa ia melanggar hukum, seorang ustaz bisa tetap tenang karena ia merasa dilindungi oleh hukum yang lebih tinggi, yaitu hukum Allah.

Banyakkah kecurangan yang terjadi? Banyak. Sebagian besar hanya jadi cerita pilu yang tak dimuat di media. Ada yang malu mengungkapnya. Ada pula yang takut kualat pada ustaz. Bahkan ada yang takut dituduh mencemarkan agama kalau bersuara.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Untuk konsumen, berpikirlah dengan benar. Belajar agama dengan benar sehingga paham, dan tidak mudah dikibuli dengan dalil-dalil. Luruskan niat ibadah semata karena Allah, jangan dicampuri dengan berbagai kepentingan nafsu duniawi. Patuhi ketentuan ajaran Islam dalam bertransaksi, di mana harus ada transparansi, akad yang jelas dan tertulis, serta legal menurut hukum negara. Menabunglah pada lembaga-lembaga yang punya status hukum jelas, bukan kepada orang pribadi.

Kepada pemerintah, kekacauan umrah maupun haji yang merugikan banyak konsumen ini bukan sekali-dua terjadi. Setiap waktu ada saja masalahnya. Segeralah benahi.