SOLID GOLD BERJANGKA – Negara kaya minyak, Kuwait, tengah tertekan kondisi keuangannya karena harga minyak dunia lesu. Kuwait berencana menghapus semua kebijakan subsidi di 2020.

Kementerian Keuangan Kuwait membentuk sebuah komite, yang tugasnya mengkaji semua subsidi yang diberikan pemerintah. Komite ini menyatakan, berencana secara bertahap mengurangi subsidi hingga hilang semua di 2020.

Demikian laporan yang dikutip AFP dari surat kabar Al-Qabas, Selasa (1/11/2016).

Tahun ini, jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh Kuwait mencapai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 39 triliun, atau 5% dari belanja pembangunan. Negara ini sudah menaikkan subsidi untuk solar dan kerosene.

Soal subsidi juga menjadi perhatian kalangan legislatif di Kuwait. Pemerintah Kuwait sudah mendapatkan dukungan dari parlemen untuk menaikkan tarif listrik dan air untuk warga asing dan kalangan bisnis.

Lewat penghapusan subsidi bertahap, maka harga bensin atau Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kuwait akan naik.

Negara anggota OPEC ini tercatat mengalami penurunan penerimaan US$ 15,3 miliar di tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2016 lalu. Untuk tahun fiskal yang dimulai 1 April 2016, Kuwait memproyeksikan adanya defisit anggaran US$ 29 miliar, karena harga minyak yang masih turun.

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% setelah terjadi pemogokan yang dilakukan oleh pekerja di Kuwait, membayangi sentimen bearish setelah para produsen minyak dunia yang tergabung dalam OPEC gagal mencapai kesepakatan pada Minggu kemarin untuk membekukan produksi minyak.

Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (20/4/2016), harga minyak mentah brent ditutup naik USD1,12 ke level USD44,03 per barel, sedangkan harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate AS naik USD1,30 ke level USD41,08.

Ribuan pekerja minyak Kuwait tetap melakukan pemogokan untuk hari ketiga dalan rangka memprotes rencana reformasi gaji dan pemotongan produksi minyak mentah hingga 1,5 juta barel per hari (bph), menurut juru bicara minyak yang dikutip oleh kantor berita KUNA.

Kuwait pun akhirnye memangkas jumlah produksi minyaknya dari rata-rata produksi sebesar 2,8 juta per barel. Selain itu, laporan dari pemadaman listrik yang mengarah ke penurunan produksi sekitar 200.000 barel per hari di Venezuela dan api pipa di Nigeria yang mungkin telah mengurangi produksi 400.000 barel per hari.

Seorang juru bicara untuk pekerja minyak dan gas di Kuwait mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan pemogokan sampai rencana reformasi gaji tersebut dibatalkan.

Analis mengatakan, gangguan Kuwait kemungkinan tidak akan lama dan berharap harga akan ditekan lagi karena pasar cenderung kembali fokus pada kelebihan pasokan. INi akibat kegagalan eksportir minyak utama pada pertemuan Minggu kemarin gagal mencapai kesepakatan untuk membekukan produksi minyak dalam rangka menghindari memburuknya kelebihan tersebut.

Sebuah kesepakatan untuk membekukan produksi minyak oleh anggota OPEC dan produsen non-OPEC gagal pada pertemuan akhir pekan kemarin di Doha setelah Arab Saudi menuntut Iran juga bergabung. Iran telah berulang kali mengatakan akan memprioritaskan mendapatkan kembali pasar pra-sanksi tingkat produksi minyak mentah.

Ekspor minyak mentah Iran telah meningkat menjadi sekitar 1,75 juta barel per hari sepanjang bulan ini, menurut sumber industri dan data pengiriman. Ekspor minyak Iran rata-rata sekitar 1,6 juta barel per hari pada Maret.