SOLID GOLD BERJANGKA – Salah satu keluhan yang dialami pasien kanker adalah rasa nyeri berkepanjangan atau nyeri kronis. Pakar mengatakan seharusnya rasa nyeri kronis ini bisa ditangani dengan penggunaan obat-obatan dari golongan opioid.

Sayangnya, masih tingginya stigma negatif terhadap ob?at-obatan opioid membuat penggunaannya belum maksimal di Indonesia. Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, Ketua Terpilih International Society of Internal Medicine, mengatakan rasa nyeri yang tak ditangani bisa membuat pasien kanker berhenti melakukan pengobatan.

“Rasa sakit itu bisa berasal dari misalnya efek samping kemoterapi, ukuran tumor kankernya yang besar, atau sel kanker sudah menyebar ke tulang. Skalanya bisa sampai angka 9 atau 10. Kalau tidak ditangani itu rasa sakitnya, pasien bisa berhenti berobat karena tidak tahan dengan rasa sakitnya,” tutur Prof Aru, di sela-sela acara 33th World Congress of Internal Medicine (WCIM) 2016 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Rabu (24/8/2016).

Dijelaskan Prof Aru, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penggunaan obat-obatan opioid terendah di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, penanganan rasa nyeri pada pasien kanker biasanya menggunakan obat analgesik seperti tramadol atau golongan Non-Steroid Anti Inflammation Drugs lainnya.

Padahal berdasarkan sejumlah studi, penggunaan obat-obatan opioid sejatinya merupakan solusi terbaik bagi penanganan nyeri kronis. Penggunaan obat opioid seperti morfin dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, mengurangi risiko depresi dan menurunkan risiko pasien berhenti melakukan pengobatan.

“Ketika pasien merasakan sakit, saat itulah pemberian obat opioid seharusnya dilakukan, bukan dilihat dari stadiumnya atau pengobatan apa yang sedang dilakukan. Opioid bisa digunakan bersamaan dengan kemoterapi yang dilakukan pasien,” paparnya lagi.

Sayangnya, masih ada beberapa halangan dalam penggunaan obat-obatan opioid di Indonesia. Pertama, obat-obatan opioid tergolong dalam narkotika kelas I sehingga ketersediaannya sangat terbatas. Kedua, masih ada stigma terkait obat opioid yang ditakutkan akan membuat pasien kecanduan.

Oleh karena itu, Prof Aru bersama beberapa perusahaan farmasi sedang mengupayakan lahirnya peraturan baru terkait obat-obatan opioid. Pembahasan soal ini pun masih berlangsung dengan melibatkan beberapa elemen seperti Kementerian Kesehatan, Badan Narkotika Nasional, Perhimpunan Onkologi Indonesia dan Yayasan Kanker Indonesia.

“Kita sekarang sedang mengupayakan agar obat-obatan opioid bisa diberikan kepada pasien kanker. Makanya kami dari POI dan YKI duduk bersama membahas masalah ini dengan Kemenkes dan juga BNN,” tutupnya.