PTĀ  SOLID GOLD BERJANGKA – Suciwati Munir masih menuntut pemerintah menyelesaikan tragedi kematian suaminya, aktivis HAM Munir Said Thalib. Bagi dia, penyelesaian kasus Munir yang sudah 13 tahun penting untuk masa depan Indonesia.

“Bagi pemerintah, yang penting infrastruktur bangunan. Justru hal yang sangat penting soal moral sejarah kita ke depan supaya menatap Indonesia yang lebih baik, bukan ditumpuk dan ditutup. Nggak bisa, nanti akan hidup terus,” ucap Suciwati kepada wartawan.

Suci melihat, setelah 13 tahun berjalan, banyak dukungan dari masyarakat untuk mengusut tuntas kematian suaminya. Malah, Suciwati mengatakan dukungan itu datang dari anak muda yang baru dia kenal.

“Kalau aku melihat ke-13 tahun ini, kan aku melihat hari ini, bisa dilihat aksi Kamisan. Ada konser Efek Rumah Kaca dan kita bisa lihat di medsos keterlibatan anak muda. Artinya, kita lihat yang selama ini kita kampanyekan itu berhasil,” kata Suciwati.

Suciwati masih ingat apa yang Jokowi lakukan satu tahun lalu. Saat itu, Suciwati melihat ada langkah serius dari Jokowi untuk menyelesaikan misteri di pesawat itu.

“Aku lihat setahun yang lalu, 14 Oktober 2016, Jokowi sudah pernah meminta dengan tegas kepada Jaksa Agung untuk menindaklanjuti dan sudah satu tahun nggak perlu lagi untuk saling lempar,” ujar Suciwati.

Namun hari ini Suciwati tidak melihat adanya kemajuan. “Ini adalah langkah mundur. Bahwa hari ini malah meminta Setneg untuk banding ke PTUN,” keluh Suciwati.

Suciwati masih berharap Presiden Joko Widodo menyelesaikan masalah ini dengan serius. Ini bisa membuktikan bahwa Jokowi tidak berpihak kepada pelaku intelektual di balik pembunuhan Munir.

“Sekali lagi, kita bisa lihat masyarakat menunggu dan merealisasi janji Presiden apakah berarti akhirnya dia malah melindungi para pelanggar HAM itu. Para pembunuh Munir itu,” tegas Suciwati.

Suciwati menagih janji Presiden Jokowi untuk menuntaskan kasus kematian suaminya, aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib. Melalui surat yang dikirimnya, Suciwati berharap Jokowi tidak melupakan janjinya.

Surat itu dibacakan Suciwati dalam Aksi Kamisan, sekaligus memperingati 13 tahun kematian Munir. Aksi itu digelar di depan Istana Merdeka.

“Ini surat yang saya kirim ke Jokowi hari ini, jadi saya akan bacakan. Karena dia lagi jalan-jalan ke Singapura, semoga dia mendengar, jangan boleh budek Pak,” kata Suciwati sebelum membacakan surat itu.

Berikut ini isi lengkap surat Suciwati untuk Jokowi:

Jakarta, Kamis 7 September 2017.

Bapak Presiden yang terhormat, hari ini 7 September sudah 13 tahun suami saya Munir Said Thalib dibunuh. Semoga Bapak Presiden masih ingat dengan peristiwa pembunuhan yang menimpa suami saya, dia dibunuh dengan cara curang serta pengecut, dan para pembunuhnya memakai racun arsenik dan penjahatnya hari ini masih bebas. Masih kah Bapak Ingat tanggal 22 September 2016 anda mengundang 22 pakar hukum dan HAM di situ, dan anda berjanji akan menuntaskan kasus Munir. Hampir satu tahun saya belum melihat janji yang Bapak Presiden ucapkan itu terealisasi.

Bapak Joko Widodo yang terhormat. Waktu tak pernah mampu menghapus rasa cinta dan rindu pada orang yang kita cintai. Haruskan rasa kehilangan itu hadir dahulu baru menepati janji wahai Bapak Jokowi. Kami berharap tidak, bagaimana rasanya jika anda kehilangan anak anda tercinta atau istri anda yang tercinta?

13 tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus merasakan kehilangan, tidak saja raga namun juga rasa keadilan. Tidak kah janji itu menjadi catatan sejarah bangsa ini bahwa bapak seorang presiden yang absen mengisi ruang keadilan bagi Munir?

Bapak Presiden Joko Widodo. Setelah Majelis Komisi Informasi Pusat mengabulkan permohonan sengketa informasi yang kami ajukan pada 10 Oktober 2016 meminta Pemerintah RI atau Bapak Presiden wajib mengumumkan hasil Tim Pencari Fakta (TPF) kematian Munir untuk dipublikasikan. Masihkah bapak ingat pada tanggal 14 Oktober 2016 bapak menunjuk Jaksa Agung untuk kasus Munir, untuk menuntaskannya.

Dengan gagah, anda meminta Jaksa Agung segera bekerja menindaklanjuti kasus suami saya, Munir. Namun apa yang terjadi kemudian, yang kami temui hiruk-pikuk cuci tangan dan lempar tanggung jawab atas tidak ditemukannya dokumen TPF Munir . Apakah bapak mau menganulir perintah bapak ke Jaksa Agung?

Saya dengan segenap rakyat Indonesia tidak memahami dagelan macam apa yang sedang bapak pertunjukan. Ini kah cara bapak memberi pendidikan politik anak bangsa? Dengan kebohongan? janji tanpa realisasi? Sungguh yang kami rindukan adalah presiden yang berani dan meneparti janji.

Bapak presiden yang terhormat. Sampai hari ini kami para pecinta keadilan dan kebenaran tidak kenal lelah untuk terus menunggu kabar penegakan hukum dan hak asasi manusia lewat janji nawacita bapak. Kami ada di depan, di seberang Istana berdiri diam, berpayung dan berbaju hitam, berharap kami mendapat payung keadilan.

Lewat Aksi Kamisan ke 505, kami tidak akan lelah meminta pertanggungjawaban negara atas derita dan luka bangsa ini, untuk meluruskan sejarah bangsa ini untuk pengungkapan kebenaran dan keadilan. Adakah kabar itu akan hadir? semoga tidak seperti pendahulu bapak yang terus memberi ruang kosong keadilan bagi kami. Salam dari kami, masyarakat yang terlalu sakit atas kehilangan yang selalu optimis pada cinta, keadilan dan kebenaran. Salam hormat saya. Terima kasih.

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

blogspot.com wordpress.com weebly.com blogdetik.com strikingly.com
wixsie.com jigsy.com spruz.com bravesite.com