Cara Singapura Rancang Anak Muda Jadi Sumber Ekonomi Masa Depan

PT SOLID GOLD BERAJNGKA – Anak muda menjadi salah satu fokus dari pemerintah Singapura untuk mendorong perekonomian dalam jangka panjang. Untuk itu, beragam kebijakan dirancang agar anak muda bisa sampai pada kemampuan terbaiknya.

Demikianlah diungkapkan Menteri Pengembangan Sosial dan Keluarga, Desmond Lee saat bincang-bincang dengan perwakilan jurnalis ASEAN di kantornya, Singapura.

“Secara demografis, Singapura dan termasuk juga ASEAN dipenuhi anak muda, dan itu memperkuat pondasi kita. Lalu bagaimana kita bisa memanfaatkan energi dari anak muda tersebut,” ujarnya.

Desmond mengaku hal tersebut tidaklah mudah. Makanya kebijakan yang dirancang harus tepat. Ini diawali dengan ketersediaan infrastruktur. Menurutnya, infrastruktur harus tersedia untuk menampung segala aktivitas anak muda, baik yang pokok maupun penunjang.

Singapura terus membangun infrastruktur hingga sekarang, disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi. Pemerintah Singapura tidak ingin anak muda menerima fasilitas yang sudah tertinggal.

Selanjutnya, kata Desmond adalah informasi. Teknologi yang semakin canggih dimanfaatkan untuk mengikat hubungan dengan masyarakat. Satu di antaranya adalah one service.

One service merupakan aplikasi yang tersedia smartphone untuk menghubungkan antar individu dan antar individu dengan pemegang peran fasilitas publik.

“Kita memiliki one service yang semua di sana dibutuhkan masyarakat. Kalau ada kecelakaan, kebakaran, kebutuhan jasa pembersih ruangan dan lainnya. Itu bisa dilakukan lewat smartphone,” terangnya.

Pada sisi lain, pemerintah juga menjaga anak muda terhindar dari konten negatif. Disadari atau tidak, menurut Desmond hal tersebut sangat mudah diakses dan cepat mempengaruhi anak muda. Sehingga pemerintah harus bergerak lebih cepat menjauhkan konten tersebut.

“Anak muda selalu merasa tahu apa yang akan dia lalukan, maka berikan dia keahlian, berikan dia arahan, jangan biarkan mereka tersesat. Di Singapura anak muda dibekali dengan pendidikan yang bagus hingga membuat keluarganya nyaman,” kata menteri yang baru berusia 41 tahun itu.

Menteri Pengembangan Sosial dan Keluarga Singapura, Desmond Lee.

Bagaimana menjauhkan anak muda dari konflik etnis atau rasis?

Desmond menjelaskan, konflik sudah dipikirkan sangat matang oleh para pendahulu karena Singapura juga diisi oleh beragam etnis dan agama. Seiring adanya perkembangan, konflik bisa saja terjadi hanya karena persoalan kecil.

Pemerintah dan parlemen Singapura menyusun konstitusi dengan sangat kuat. Bahwa masyarakat tidak boleh menimbulkan ketidaknyamanan sedikitpun terhadap orang lain.

“Kita memastikan konstitusi dipatuhi dan semua itu bisa merangkul semua pihak. Jadi bisa mengatasi berbagai masalah yang diawali karena perbedaan,” paparnya.

Contoh sederhana, kata Desmond adalah pengaturan rumah. Sekitar 80% perumahan dibangun oleh pemerintah dan tidak ada pembagian kepemilikan rumah berdasarkan etnis ataupun agama. Artinya semua masyarakat bisa hidup berdampingan.

“Kita membaurkan mereka agar bisa mengerti satu sama lain,” tegasnya.

Singapura punya tempat semacam China Town atau Little India. Namun hal tersebut lebih karena bersifat sejarah.