SOLID GOLD BERJANGKA – Perasaan takut atau sepi mungkin bisa membuat seseorang termotivasi bergerak. Tapi sebenarnya rasa lapar justru memberi motivasi lebih kuat.

Sebuah studi baru menyebutkan kebanyakan orang lebih termotivasi oleh rasa lapar. Dibandingkan dengan rasa takut, haus atau kesepian. Peneliti melakukan serangkaian eksperimen untuk mengetahui apa yang paling memotivasi seseorang. Apakah rasa lapar, haus atau ketakutan. Penelitian dilakukan oleh National Institutes of Health dan dipublikasikan dalam Neuron, lapor Metro (01/09).

Dalam percobaannya, peneliti memakai tikus. Pada eksperimen pertama, mereka mengumpulkan tikus yang lapar sekaligus haus atau hanya haus. Makanan dan minuman kemudian ditempatkan di depan tikus tersebut.

Tikus yang haus menuju tempat air. Sementara tikus yang lapar dan haus langsung ke tempat makanan. Mengabaikan rasa haus mereka. Ini menyiratkan rasa lapar jadi motivator lebih besar dibanding haus.

Pada eksperimen kedua, peneliti mengisi area tertentu dari sebuah ruang dengan senyawa kimia yang diproduksi rubah. Mereka lalu mengatur makanan di tempat-tempat tersebut. Kali ini tikus lapar dan tidak lapar didiamkan di dalam ruangan.

Ternyata tikus lapar mengabaikan rasa takutnya berada di dekat predator. Mereka langsung memakan makanan di zona berbahaya itu. Sedangkan tikus yang tidak lapar mundur ke tempat aman yang bebas kimia dari rubah. Untuk eksperimen terakhir, peneliti menaruh tikus kesepian di sebuah kandang dengan dua kompartemen.

Satu kompartemen berisi makanan dan satunya lagi berisi seekor tikus bersahabat. Tikus yang lapar langsung menuju kompartemen berisi makanan dibanding menghabiskan waktu dengan tikus lainnya. Padahal secara umum tikus termasuk hewan yang sangat sosial. Sebaliknya, tikus yang tidak lapar dengan senang hati bersantai dengan teman barunya.

Semua eksperimen itu membuktikan bahwa rasa lapar menjadi motivator yang lebih kuat dibanding rasa takut, haus atau kesepian. Namun percobaan ini dilakukan pada tikus.

Tidak bisa disimpulkan bahwa keadaan serupa berlaku pada manusia. Meski begitu, hasil penelitian menunjukkan sebuah kecenderungan bawaan menarik yang termotivasi kuat oleh makanan.