SOLID GOLD BERJANGKA – Indonesia dan Australia sedang menjajaki kerja sama untuk investasi di sektor infrastruktur dan pariwisata. Pemerintah berharap Australia bisa berinvestasi dan memenuhi kebutuhan dana untuk pembangunan.

Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, saat ini Indonesia membutuhkan dana yang cukup besar. Australia dinilai memiliki dana jangka panjang yang bisa digunakan untuk berinvestasi di Indonesia.

Untuk menarik minat Australia, Bappenas mempromosikan bagaimana mudahnya berinvestasi di Indonesia. Kemudian Indonesia juga sudah mereformasi perekonomiannya.

Bambang mengatakan, nantinya lembaga keuangan tersebut bisa masuk investasi melalui jalur obligasi pemerintah hingga reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).

“Mereka tidak minta¬†return¬†atau imbal hasil yang tinggi, kami menawarkan return maksimal 13%, tapi mereka tidak keberatan di kisaran 6%-7% mereka oke,” kata Bambang di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (4/7/2017).

Bambang menjelaskan, angka ini jauh lebih baik dibandingkan return perbankan. Namun, meskipun Australia tidak mempermasalahkan return, Bappenas tetap menghitung risiko nilai tukar.

Dia menjelaskan, biasanya negara-negara lain yang berinvestasi membutuhkan kepastian return yang didapatkan setiap periodenya.

“Berapapun returnnya, negara investor itu hanya butuh kepastian, yang saya jaga adalah jangan sampai negara-negara itu kapok berinvestasi di Indonesia,” terang Bambang.

Dalam road show nya di Australia, pemerintah mengunjungi sejumlah kota seperti Perth, Canberra, Sidney, Melbourne dan Brisbane. Menurut Bambang, Sidney dan Melbourne merupakan dua wilayah yang memiliki respon paling positif karena pusat ekonomi ada di wilayah tersebut.

Untuk investasi, Australia nantinya akan menggunakan skema Public Private Partnership (PPP) dan Pembiayaan Investasi Non Anggaran (PINA). Kedua skema ini biasa digunakan untuk investor yang ingin membiayai proyek-proyek pembangunan di dalam negeri.

Dia mengatakan, saat ini infrastruktur di Indonesia masih membutuhkan pembiayaan yang besar. Untuk Australia ini, pemerintah akan fokus menawarkan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Tambak Lorok di Semarang yang membutuhkan dana sekitar US$ 200 miliar.

Kemudian jalan tol yang dibangun oleh Waskita membutuhkan tambahan modal sebanyak US$ 1,5 miliar. Kemudian Bandara Kertajati.