tersangka-2-lrwc1p.png

PT SOLID GOLD BERJANGKA -Oce sudah hengkang dari kampungnya di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Suami Sri Rahayu Ningsih, tersangka kasus ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo, ini pindah dari rumahnya dua hari setelah Sri Rahayu ditangkap polisi pada Sabtu, 5 Agustus 2017.

“Ya, maklumlah, Mas, namanya habis masalah begini, ya. Dia pindah. Ngomong ke saya pindah ke daerah Ciranjang, Cianjur, begitu,” kata Dede Kusuma Maharani, kakak kandung Oce.

Dede mengaku tidak tahu banyak soal perilaku Sri Rahayu, istri adik bungsunya itu, lantaran baru dua bulan Oce dan istrinya datang dari Lampung, kampung halaman Sri Rahayu. Perempuan itu merupakan istri ketiga Oce, yang baru dinikahi dua bulan lalu. Kabar yang didengar Dede, keduanya saling kenal melalui Facebook.

Karena Facebook pulalah Sri Rahayu masuk bui lantaran menyebar fitnah dan ujaran kebencian terhadap Jokowi. Sri Rahayu bahkan merupakan salah satu anggota jaringan Saracen, sindikat penyedia jasa konten kebencian di media sosial. Sindikat ini dibongkar oleh tim cyber crime Bareskrim Polri.

“Tersangka mendistribusikan puluhan foto dan tulisan dengan konten penghinaan terhadap pemerintah, beberapa partai, organisasi kemasyarakatan, dan kelompok serta konten hoax lainnya,” ujar Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar.

Dari tangan Sri Rahayu, polisi menyita empat buah telepon seluler, flash disk, sejumlah kartu SIM beberapa operator seluler, dan satu buah buku berisi alamat e-mail dan password tersangka.

Nama Saracen mendadak ramai disebut sebagai produsen konten kebencian dan hoax di media sosial. Jumlah anggotanya, konon, mencapai ratusan ribu akun.

MFT alias Faisal, lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, yang kini jadi pegawai paruh waktu untuk produk design industry, juga ikut diciduk gara-gara ikut kelompok Saracen.

“Saracen ini kan memang sudah lama. Mereka aktif melemparkan isu-isu, ya, pasti saya tanggapi. Saya tidak tahu siapa pendirinya karena saya hanya komunikasi lewat medsos,” ujar Faisal.

Menurut Faisal, Saracen gencar membuat opini dan melempar isu untuk melawan Jokowi Advanced Social Media Volunteers alias Jasmev, yang mereka anggap sangat frontal menjatuhkan orang yang berbeda pendapat.

Faisal mengakui berseberangan dengan Jokowi dan para pendukungnya sejak Pilpres 2014 sekalipun sebelumnya dia mengaku sebagai salah satu pendukung Jusuf Kalla, yang tergabung dalam Jenggala Center. “Saya keluar karena Pak JK mau jadi wapres Jokowi. Padahal sebelumnya JK kan bilang, hancur Indonesia kalau Jokowi jadi presiden,” kata Faisal.

Sejak itulah dia sering mengkritik pemerintahan Jokowi-JK lewat akun medsosnya, terutama Facebook. Dia juga membuat sendiri meme di akun Facebook pribadinya menggunakan aplikasi Pictart yang ada di ponsel karena dia tidak pernah menggunakan laptop saat beraktivitas di medsos.

Karena aktivitasnya di medsos, Faisal mengakui pernah diajak bergabung dengan Jasmev, yang menjadi “benteng” Jokowi dalam menampilkan kinerja serta meng-counter “hatters”. Namun Faisal menolak ajakan itu dan belakangan malah bersinggungan dengan Saracen setelah diajak Jasriadi lewat Facebook, yang juga mendekam di ruang tahanan Bareskrim Mabes Polri.

“Saya ditawari masuk Saracen. Tapi visinya nggak jelas. Jadi orang kadang menganggap saya anggota FPI (Front Pembela Islam), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), atau pengikut partai tertentu, terserahlah,” kata Faisal.

Namun, pengakuan Faisal itu dibantah keras oleh Koordinator Jasmev, Kartika Djoemadi. Menurutnya, rekruitmen anggota Jasmev tidak sembarangan. Setiap relawan yang akan bergabung dengan Jasmev dipantau lebih dahulu seluruh aktivitasnya di medsos. Relawan juga harus menggunakan akun dengan identitas asli.

“Faisal bukan anggota Jasmev. Dan Jasmev tidak pernah menawarkan dia untuk jadi anggota Jasmev, karena yang mendaftar tapi tidak memakai identitas asli pasti tidak akan di-approve,” begitu kata Kartika.

Meski hanya sering berbincang via medsos, beberapa kali anggota Saracen sempat kopi darat, di antaranya di aksi Bela Islam 4 November 2016 (aksi 411) serta 2 Desember 2016 (aksi 212), untuk menuntut dihukumnya Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama, dalam kasus penodaan agama. Dalam pertemuan tersebut, mereka menamakan diri Komando Barisan Rakyat (Kobar).

Selain itu, mereka pernah bertemu dalam acara silaturahmi akbar di Masjid Al-Husna di Jakarta Utara. Di situ berkumpul ratusan netizen yang punya pandangan sama dengan Saracen dari berbagai daerah. “Awal pergerakan itu muncul dari Jakarta Utara, yang dipicu kasus reklamasi. Dari situ ramai gerakan itu,” tuturnya.

Ditemui secara terpisah di Bareskrim Mabes Polri, Jasriadi mengatakan Saracen terbentuk dengan sendirinya atas ide bersama para netizen yang punya pandangan sama. “Pemicunya ada grup di medsos yang kami anggap menghina keyakinan saya (Islam). Kami pun sepakat ingin menghancurkan admin-admin itu,” ujar Jasriadi bersemangat.

Jasriadi dan beberapa netizen lain kemudian mengambil alih akun grup-grup yang dianggap menghina Islam, yang kemudian mereka ubah namanya menjadi Saracen. Setelah grup hasil bajakan itu dikuasai, dalam diskusi di medsos kemudian muncul nama Saracen. Adminnya bisa siapa saja yang tergabung dalam grup itu.

Setelah membuat grup Saracen, Jasriadi kemudian membuat website bernama Saracennews, yang berisi berita-berita. Jasriadi-lah yang mengelola website tersebut.

Dalam perjalanannya, grup Saracen mempunyai banyak pengikut, hingga ratusan akun. Namun, menurut Jasriadi, akun-akun itu berasal dari grup-grup di Facebook yang dibajak.

Jasriadi dan kawan-kawan kemudian membuat struktur kepengurusan hingga koordinator lapangan. Salah satunya Sri Rahayu, yang tertulis sebagai salah satu koordinator dalam struktur tersebut. Selain itu, ada nama Eggi Sudjana dan seorang purnawirawan TNI bernama Ampi Tanudjiwa, yang tertulis sebagai Dewan Penasihat Saracen.

Namun Eggi Sudjana membantah keterlibatannya dalam Saracen. Begitu juga dengan Ampi Tanudjiwa. “Nih ya, saya itu nggak tahu kenapa nama saya bisa ada di situ (Saracen). Saya juga nggak tahu Saracen itu apa,” kata Ampi.

Ampi pun mengaku tidak mengenal nama-nama yang tertulis di struktur yang beredar di medsos. Adapun Jasriadi menegaskan nama Eggi Sudjana dan Ampi muncul selepas kopi darat Jasriadi dan kawan-kawan yang menginginkan grup Saracen di dunia maya bisa berwujud di alam nyata.

Jasriadi menyebutkan Rizal “Kobar” merupakan pengusul nama Eggi sebagai penasihat dalam pertemuan itu. Rizal adalah terpidana kasus ujaran kebencian. Ia ditangkap polisi hanya beberapa jam sebelum aksi 212 pada tahun lalu.

Kini beberapa admin Saracen yang ditangkap, di antaranya Jasriadi, Sri Rahayu, dan Faisal, bisa lebih sering bertatap muka di Bareskrim Polri, bukan hanya lewat dunia maya seperti yang selama ini mereka lakoni.