PT SOLID GOLD BERJANGKA – Hersri Setiawan dan Basuki Effendy sudah berteman lama sejak masih SMP di Yogyakarta. Sama-sama aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Basuki sebagai anggota sekretariat pusat, sementara Hersri menjadi ketua di Jawa Tengah. Mereka kembali bertemu di Pulau Buru. Di Memoar Pulau Buru, Hersri menuliskan sebagian pengalamannya bersama Basuki di kamp tahanan politik itu.

Sebelum menjadi pengurus pusat Lekra, Basuki adalah bintang film sekaligus sutradara. Pulang, yang dibintangi Turino Junaidy, adalah salah satu film yang disutradarai Basuki. Sebagai pengurus Lekra, organisasi yang dicap sebagai underbouw Partai Komunis Indonesia, Basuki dan Hersri masuk dalam tahanan Golongan B. Mereka dikirim ke Pulau Buru dan ditempatkan di Unit XIV Bantalareja.

Sebenarnya tak terang-terang amat bagaimana orang-orang yang dicap punya hubungan dengan PKI itu digolongkan: apakah masuk Golongan A, B, atau yang paling rendah, C. Makin rendah golongannya, makin rendah pula hukumannya. Hanya mereka yang masuk Golongan B yang dikirim ke Pulau Buru. Tujuan di-Buru-kan ini, menurut versi pemerintah saat itu, kira-kira adalah untuk melunturkan ideologi komunisme yang diyakini para tahanan politik itu.

“Saya pernah bertanya, kenapa saya ditahan di Pulau Buru, mereka menjawab, ‘Pak Hasyim diamankan….’ Padahal di Pulau Buru, setiap hari para tahanan politik bisa mati terbunuh oleh penjaga, mati kelaparan, mati karena sakit,” kata Hasyim Rachman, mantan wartawan Harian Rakjat, harian berhaluan kiri yang dekat dengan PKI, dikutip IG Krisnadi dalam bukunya, Tahanan Politik Pulau Buru. Hasyim juga menggugat istilah ‘rehabilitasi’, yang selalu digembar-gemborkan pemerintah kala itu. “Istilah rehabilitasi itu hanya mulut manis. Orang-orang di Pulau Buru itu bukan direhabilitasi, tapi disuruh mati.”

Tak pandang dia wartawan, seniman, sutradara, atau sastrawan seperti Rivai Apin, semua diperlakukan sama di Pulau Buru. Mereka disuruh bekerja mengolah tanah yang tandus dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sendiri. Dan jika ada salah atau hal-hal yang memancing curiga penjaga, hukuman sudah menanti.

Suatu hari, Basuki dan dua teman sesama penghuni kamp Pulau Buru dipanggil penjaga dan dipermak habis. Pasalnya sepele saja. Beberapa malam sebelumnya, Basuki menyanyikan lagu Comeback to Sorrento, sementara Lie Bok Hoo menyanyikan Hai, Kudaku Lari. Cak Buang, dari Unit Wanayasa, ikut kena permak hanya karena dia menyanyikan tembang Cak Durasim, ”Gupon omah dara, melok Nippon tambah sara.

Lewat lagunya, Basuki dituduh memberi isyarat kepada teman-temannya untuk meneruskan perlawanan. Sedangkan Bok Hoo dianggap memberi isyarat tahanan politik lain untuk berlari seperti kuda dalam tembangnya. Setelah ‘dipermak’ penjaga, Basuki dan Bok Hoo masih harus meneruskan hukuman duduk jongkok semalam suntuk di bawah meja piket penjaga Unit Bantalareja.

Keesokan harinya, mereka semua dikumpulkan Komandan Unit Letnan Satu Sukirno untuk apel istimewa. Di depan semua penghuni kamp Bantalareja, Letnan Sukirno memuntahkan caci maki, sumpah serapah, sekaligus ancaman. Kata Letnan Sukirno, jangan bermimpi untuk comeback-comeback-an. “Barang siapa berani coba-coba menantang petugas, akan kami tindak tegas… tembak mati!” Letnan Sukirno menutup pernyataan dengan mencabut pistol dan menembakkannya ke udara. Dor!

Hari itu pula, ‘jabatan’ Basuki sebagai koordinator unit dicopot. Sejak hari itu pula Basef, panggilan akrab Hersri dan teman-temannya kepada Basuki, juga Bok Hoo tak boleh lagi kerja jauh-jauh dari tempat tinggal komandan unit. Hingga suatu hari Letnan Kolonel AS Rangkuti, Komandan Kamp Pulau Buru, memanggil Basuki. Rangkuti sudah lama kenal Basuki karena pernah bermain dalam salah satu filmnya.

Hari itu Rangkuti datang tentu saja bukan untuk mengajak bermain film. Rangkuti mengabarkan bahwa akan datang seperangkat alat musik sumbangan Departemen Sosial dari Jakarta. Letkol Rangkuti tak ingin alat-alat itu menganggur percuma. Dia minta Basuki dan kawan-kawan memanfaatkannya. Rangkuti juga minta Basuki menyusun semacam program kebudayaan untuk diterapkan di kamp Pulau Buru.

“Bagaimana pendapatmu, Her?” Basuki bertanya kepada Hersri. Basuki masih ragu-ragu menerima permintaan Letkol Rangkuti. “Aku tahu… Rangkuti bermaksud memanfaatkanku… tapi bagaimana, ya.” Bagi Hersri, pilihannya sudah jelas. Tak ada pilihan selain mengikuti ‘perintah’ Letkol Rangkuti, penguasa tertinggi di Pulau Buru. “Tapi apa? Memangnya Bung bisa menolak?” kata Hersri.

Basef rupanya takut disalahkan oleh teman-temannya sesama tahanan. “Itu urusan nantilah, Bas! Lagi pula apa kita masih akan kebagian zaman yang Bung sebut nanti itu?” Hersri memotong kata-kata Basef. Ketimbang putus asa dan mati bunuh diri di Pulau Buru, bagi Hersri, mending mereka memanfaatkan hiburan kecil itu untuk memperpanjang napas. Maka jadilah Band Bantala Nada dari Unit XIV Bantalareja. Band itu masih tetap berlanjut setelah Basef meninggalkan Buru.

Basuki Effendy, sutradara ‘kiri’ satu-satunya dalam Sekretariat Pusat Lekra, berpulang pada Mei 2006 di rumahnya, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Lebih dari seperempat abad setelah dia meninggalkan Pulau Buru.

Baca Juga Artikel Keren & Terupdate Kami Lainnya Di :

blogspot.com wixsite.com wordpress.com weebly.com blogdetik.com
strikingly.com jigsy.com spruz.com bravesite.com