SOLID GOLD BERJANGKA – Maksud hati hendak liburan ke Sydney, Australia traveler ini malah nyasar 17 ribu kilometer jauhnya. Dia salah beli tiket ke Sydney di Nova Scotia, Kanada.

Nama suatu kota bisa sama, tapi belum tentu kota tersebut adalah kota yang kita tuju. Mungkin itulah yang perlu diingat oleh Milan Schipper, traveler berusia 18 tahun yang berasal dari Belanda.

Dari berbagai pemberitaan media internasional yang dihimpun detikTravel, Selasa (4/4/2017) Milan disebut mengalami kejadian salah beli tiket yang cukup fatal. Milan semula ingin liburan sekaligus backpacking ke Sydney, Australia, sebelum dia memulai kuliah.

Alih-alih membeli tiket ke Sydney di Australia, Milan malah membeli tiket menuju ke Kota Sydney juga, tapi di Provinsi Nova Scotia, Kanada. Meski bernama sama, kedua kota ini terpisah jarak sejauh 17 ribu kilometer jauhnya.

Milan sebenarnya sudah curiga, mengingat harga tiket Amsterdam-Sydney yang dia beli lebih murah US$ 300 (Rp 3,9 Juta) dari harga biasanya. Tapi kecurigaan itu dia tepis jauh-jauh. Mumpung tiketnya lebih murah, pikirnya.

Milan baru menyadari ada yang tidak beres dengan perjalanannya, setelah dia mendarat di Toronto, Kanada untuk transit sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke tempat tujuan. Saat sedang transit itu, Milan melihat sekilas pesawat Air Kanada yang akan membawanya ke Sydney.

“Pesawatnya sungguh sangat kecil, jadi aku bertanya-tanya, apakah pesawat ini akan sampai ke Australia,” imbuh Milan.

Kecurigaan Milan akhirnya terbukti, setelah dia melihat rute perjalanannya lewat layar LCD di pesawat. Pesawat yang Milan tumpangi ternyata terbang menuju ke arah berlawanan dari letak Sydney, Australia.

“Aku melihat arah pesawat kok dia mengarah ke kanan, bukan ke kiri. Saat itu aku baru menyadari bahwa ada Kota Sydney yang lainnya. Aku kira aku akan ke Australia, ternyata bukan,” ujar Milan seperti ditulis Radio CBC Kanada.

Sesampainya di Sydney, bukannya cuaca cerah dan panas dengan pemandangan pantai yang dia dapatkan, melainkan suhu minus 2 derajat celcius.

Milan pun hanya bisa kedinginan, karena saat itu dia memang tidak melakukan persiapan. Milan hanya mengenakan kaos, celana training, dan jaket yang tipis.

Akhirnya Milan bertemu dengan petugas bandara dan menjelaskan situasinya. Atas kebaikan pihak maskapai, Milan dipesankan penerbangan kembali ke Toronto, lalu dilanjutkan dengan penerbangan ke Amsterdam.

Total Milan hanya menghabiskan 5 jam saja di Sydney, Nova Scotia, Kanada. Tiba di Bandara Amsterdam, Milan langsung dijemput ayahnya yang tidak bisa menahan tawa atas kelakuan anaknya.

“Dia merasa kasihan padaku, dia berpikir hanya aku yang akan melakukan tindakan bodoh seperti ini. Dia tertawa kencang sekali, sama seperti yang lainnya,” tutup Milan.