SOLID GOLD BERJANGKA – Pada Rabu (7/9) lalu World Health Organization (WHO) merevisi pandangannya terkait virus Zika dan efeknya pada manusia. Setelah mempertimbangkan berbagai macam studi, virus Zika kini juga disebut bisa memicu penyakit saraf langka Guillain-Barre syndrome (GBS).

GBS adalah kondisi yang menyebabkan antibodi tubuh menyerang sel-sel tubuh sendiri. Seharusnya, antibodi melindungi tubuh dari serangan zat asing, termasuk virus. GBS dapat mengancam jiwa karena menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan.

Peneliti mulai mencurigai hubungan GBS dengan Zika ketika kasus GBS meningkat bersamaan dengan mewabahnya virus di Brazil. Hanya saja karena masih minim bukti, WHO pada Maret lalu belum memberi pernyataan jelas.

“Berdasarkan pengamatan kelompok dan studi kasus ada konsensus ilmiah kuat bahwa virus Zika adalah penyebab GBS, mikrosefali, dan gangguan neurologis lainnya,” tulis WHO beberapa bulan lalu.

Kini setelah WHO selesai melakukan penelitian dan mengkaji beragam studi lainnya, panel ahli sepakat bahwa Zika memang dapat memicu GBS.

“Penjelasan paling mungkin melihat bukti yang telah tersedia dari wabah Zika dan kumpulan kasus Guillain-BarrĂ© syndrome adalah bahwa infeksi virus memang pemicu GBS,” kata WHO seperti dikutip dari Reuters, Jumat (9/9/2016).

GBS biasanya memang dipicu oleh infeksi virus atau bakteri. Karena infeksi tersebut, sistem imun jadi terpacu menyerang saraf-saraf yang sebetulnya tidak bermasalah.

Infeksi virus Zika terjadi melalui perantara gigitan nyamuk Aedes, terutama spesies Aedes aegypti. Penyakit yang disebabkannya dinamakan sebagai Zika, penyakit Zika (Zika disease) ataupun demam Zika (Zika fever).

Virus Zika yang telah menginfeksi manusia dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti demam, nyeri sendi, konjungtivitis (mata merah), dan ruam. Gejala-gejala penyakit Zika dapat menyerupai gejala penyakit dengue dan chikungunya, serta dapat berlangsung beberapa hari hingga satu minggu.

Virus Zika pertama ditemukan pada seekor monyet resus di hutan Zika, Uganda, pada tahun 1947. Virus Zika kemudian ditemukan kembali pada nyamuk spesies Aedes Africanus di hutan yang sama pada tahun 1948 dan pada manusia di Nigeria pada tahun 1954. Virus Zika menjadi penyakit endemis dan mulai menyebar ke luar Afrika dan Asia pada tahun 2007 di wilayah Pasifik Selatan. Pada Mei 2015, virus ini kembali merebak di Brazil. Penyebaran virus ini terus terjadi pada Januari 2016 di Amerika Utara, Amerika Selatan, Karibia, Afrika, dan Samoa (Oceania). Di Indonesia sendiri, telah ditemukan virus Zika di Jambi pada tahun 2015.