SOLID GOLD BERJANGKA – Setelah era teknologi 4G, operator dunia sudah siap menyongsong 5G. Babak pemanasan pun telah dilakukan pada panggung Mobile World Congress (MWC) 2017 di Barcelona, Spanyol.

Dalam pengamatan Solid Gold secara langsung, terlihat begitu banyak sekali operator telekomunikasi, vendor jaringan dan pemain teknologi lainnya yang unjuk gigi 5G, termasuk ide implementasi serta benefit yang ditawarkan.

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana dengan Indonesia? Kapan kita bisa mulai dimanjakan dengan 5G?

Pasalnya, jika berbicara soal kecepatan transfer data, ketika 4G diibaratkan sebagai mobil balap maka 5G mungkin bisa dianalogikan sebagai pesawat yang menembus kecapatan suara. Perbandingan real-nya adalah, jika 4G bisa berlari di kecepatan 100 Mbps maka 5G sudah berada di tataran angka puluhan Gbps.

Alhasil, ‘mainan’ 5G sudah bukan lagi untuk sekadar video streaming atau download film. Melainkan sudah bisa sampai menggerakkan robot!

Kembali ke soal peluang Indonesia untuk mencicipi 5G, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah menyebut bahwa Indonesia masih butuh waktu yang relatif agak lama untuk bisa dimanjakan 5G.

Tantangan besar salah satunya datang dari ketersediaan spektrum yang mau digunakan. Alokasi spektrum di Indonesia untuk kebutuhan telekomunikasi dinilai lebih sedikit dibandingkan dengan negara lain.

“Spektrum yang banyak di negara lain itu sudah bisa dipakai mobile, tapi di negara kita gak bisa karena sudah dialokasikan untuk yang lain,” ujar Ririek saat ditemui Solid Gold di sela perhelatan Mobile World Congress (MWC) 2017 di Barcelona.

“Meski ini belum final, tapi untuk penggunaan 5G rata-rata menggunakan spektrum 3,5 GHz yang paling populer. Di kita (Indonesia-red.) kalau gak salah, spektrum ini dipakai satelit. Di satelit itu kan ada yang namanya C Band, dengan rentang 4 sampai 6 atau 7 GHz. Nah, kalau itu dipakai satelit, nanti ada interferensi atau tidak itu kita masih harus dicari tahu,” jelasnya.

Rentang spektrum populer lain untuk 5G selain 3,5 GHz adalah 28 GHz. Namun isu yang kemudian muncul adalah investasi di spektrum ini akan menjadi lebih mahal lantaran BTS-nya harus berdekatan.

Sebab semakin tinggi frekuensi maka akan semakin rentan dengan redaman karena hujan. Selain itu ada isu lain dari sisi handset yang membutuhkan power lebih boros, sehingga artinya kapasitas baterai di perangkat pengguna jadi harus lebih besar.

Operator dunia sendiri saat ini masih meracik strategi dan teknologi untuk benar-benar bisa melepas 5G ke pasaran. Target mereka adalah Olimpiade 2020.

“Paling yang sekarang dipakai 4,5G, itu berbasis LTE juga. Tapi sudah menuju ke situ (5G). Bahkan ada yang sudah mengklaim siap menjalankan 4,9G,” Ririek melanjutkan.

Dan khusus soal spektrum ini mau tidak mau Indonesia harus disiplin soal penataan. Ririek mengimbau orientasinya adalah mana yang bisa memberikan benefit bagi pemerintah dan masyarakat paling besar.

“Kita (isu spektrum di Indonesia-red.) yang di 700 MHz pun saat ini masih belum clear, karena TV belum bisa melepaskan juga, tapi itu memang gak mudah. Jadi kalau soal 5G masih jauh lah, masih butuh waktu,” imbuhnya.

PR besar yang juga masih menanti operator Indonesia yakni mendorong pengguna 2G untuk hijrah ke 3G ataupun langsung lompat ke 4G.

Meski pada berbagai ide model bisnis yang terlontar untuk 5G lebih banyak menyasar pelanggan yang bukan manusia, melainkan mesin.

“Kalaupun orang itu paling yang high rest video, yang high resolution. Jadi sudah mesin, itu (5G) dipakai mesin, mesinnya dipakai manusia,” pungkas Ririek.

Unjuk Gigi 5G

Di hiruk pikuk MWC 2017 sendiri sejumlah operator dan pemain teknologi dunia sudah mendemokan implementasi teknologi 5G yang dikolaborasikan dengan virtual reality dan augmented reality.

NTT DoCoMo misalnya memanfaatkan virtual reality untuk dapat melihat kondisi lingkungan pekerjaan yang tengah digarapnya melalui robot.

Sementara T Mobile, robot didemokan tengah dikendalikan oleh semacam tongkat stik serta menggunakan kacamata virtual reality dan sarung tangan khusus.

Implementasi 5G lainnya dari T Mobile adalah dikombinasikan dengan teknologi Augemented Reality (AR). Dimana ada semacam trek balap mini yang diisi oleh dua mobil yang sedang balapan di dalam booth, kemudian user menyaksikan aksi kebut-kebutan tersebut dengan kacamata khusus AR.

Nah, ketika mata menyorot ke lintasan balap maka sejurus kemudian bakal muncul tampilan visual AR yang berisi sederet informasi terkait aksi balapan yang sedang berlangsung.

Satu lagi yang menarik perhatian adalah ide implementasi 5G dari Korea Telecom, yang menggabungkan virtual reality, 5G dan simulator khusus.

Simulator ini sendiri seperti perangkat di gaming center, dimana berdesain seperti roda dan user akan duduk di dalamnya, lengkap dengan mengenakan kacamata VR dan sabuk pengamanan. Dan ketika semua sudah siap maka pengalaman tak terlupakan user dengan 5G dan virtual reality bagi user pun takkan terlupakan.