SOLID BERJANGKA

SOLID BERJANGKA

SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Ketidakpastian yang terjadi dalam lingkungan perdagangan global serta arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang cenderung berubah-ubah dapat mengakibatkan jatuhnya perekonomian negara-negara berkembang di seluruh dunia. Negara-negara (ASEAN) yang bermitra dagang dengan Cina semakin khawatir semenjak President Donald Trump mengancam akan meningkatkan tarif pajak untuk produk-produk Cina yang masuk ke AS.

Sengketa perdagangan antara dua negara raksasa ekonomi dunia tersebut (AS dan Cina) dapat menyebabkan anjloknya jumlah permintaan atas produk-produk buatan ASEAN di Cina serta memunculkan rasa kekhawatiran bahwa negara-negara ASEAN akan kebanjiran besi, alumunium, dan produk ekspor lainnya yang datang dari Cina yang seharusnya dapat diekspor ke AS. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan harga komoditas dan merugikan produsen lokal.

Lupakan perang perdagangan, apabila program Made in China 2025 berhasil memajukan Cina dan mengalahkan kompetitornya dalam bidang industri generasi baru, AS akan kalah dalam persaingan dagang ini sebab seluruh dunia akan semakin dependen terhadap produk-produk inovasi yang diciptakan Cina yang akan mengubah gaya hidup dan cara menjalankan bisnis.

Negara-negara ASEAN juga perlu memperhatikan pergerakan industri dan keunggulan teknologi Cina bukan hanya karena negara-negara ASEAN merupakan target ekspor utama produk-produk inovasi dari Cina (produk seperti rel kereta api dan ponsel pintar), tetapi karena program Made in China 2025 sangat menekankan persyaratan konten lokal yang nantinya dapat menghambat produsen ASEAN lainnya dalam melakukan bisnis yang menguntungkan secara jangka panjang di dalam rantai nilai Cina. Oxford Business Group (OBG) mengungkapkan, agar tetap memiliki daya saing di era teknologi seperti saat ini, pemerintah negara-negara ASEAN sudah memulai mencanangkan sejumlah strategi untuk kemajuan industri. Berikut penjelasannya:

Defisit Neraca Perdagangan

1.Thailand 4.0

Sudah dua tahun pemerintah Thailand mencanangkan strategi “Thailand 4.0”, sebuah visi dalam rangka menempatkan negara menjadi yang terdepan dalam bidang industri dan layanan manufaktur. Visi tersebut didukung oleh rencana Eastern Economic Corridor yang juga bertujuan untuk mengembangkan negara-negara timur sebagai pusat industri bernilai tinggi dan mengkatalisasi investasi dengan jumlah $45 milyar

Thailand telah membuat strategi nasional yang jelas dan berhasil mendahului negara-negara berkembang lainnya di ASEAN. Namun, Thailand masih membutuhkan banyak perbaikan, terutama di level pemerintahan, agar para pelaku bisnis benar-benar memahami kesempatan bisnis dari program Thailand 4.0. Saat ini, Thailand masih sangat bergantung pada investasi asing dalam hal kendaraan elektronik, robotika, dan industri penerbangan. Thailand masih memiliki tantangan yang perlu dihadapi yaitu menciptakan wirausahawan yang mampu mempelopori perkembangan industri dalam negeri dan menciptakan teknologi generasi baru yang inovatif.

2. Making Indonesia 4.0

Indonesia baru saja mencanangkan strategi nasional pada bulan April 2018 bernama “Making Indonesia 4.0” dengan tujuan untuk memajukan industri manufaktur dalam negeri. Strategi tersebut memprioritaskan perkembangan lima sektor utama: makanan & minuman, otomotif, tekstil, elektronik, dan bahan kimia. Strategi ini merupakan salah satu upaya pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pemimpin global.

Dalam strategi tersebut, Indonesia berupaya untuk memanfaatkan teknologi muktahir seperti artificial intelligence, mengimplementasikan the internet of things, dan juga robotika untuk mendorong produktifitas industri. Banyak hal yang semakin bergantung pada kesuksesan pembangunan infrastruktur nasional dalam rangka mengurangi bottleneck di Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan luas 5,000 km dari Samudera Hindia ke Pasifik Selatan.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Naik di September 2016

3. Inclusive Innovation Industrial Strategy (i3S) Filipina

Meskipun perindustrian Filipina masih jauh dibawah value chain dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, pemerintah Filipina terus gencar mencanangkan Inclusive Innovation Industrial Strategy (i3S) dalam upaya mengembangkan perindustrian dalam negeri agar mampu menghadapi tantangan bisnis dan beroperasi dalam integrasi regional serta memanfaatkan teknologi maju.

Strategi i3S memprioritaskan pembangunan 12 industri utama yaitu otomotif, elektronik, suku cadang pesawat, bahan kimia, peralatan dan mesin pemotong, besi & baja, garmen, tekstil & furnitur, pembangunan kapal, pariwisata, bisnis berbasis IT, agrobisnis, konstruksi, serta infrastruktur & logistik.

Strategi i3S menekankan bahwa sektor swasta dan perusahaan pasar bebas merupakan penggerak perkembangan industri dalam negeri. Dalam i3S, Filipina juga berupaya menciptakan lingkungan dan ekosistem inovatif melalui pembangunan klaster industri, berinvestasi dan mengembangkan bidang sumber daya manusia, serta meningkatkan usaha kecil dan menengah.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Naik di September 2016

4. Tenaga kerja manusia dan kemunculan robot

Tak hanya menghadapi tantangan yang besar akibat rencana ambisius Cina dalam merealisasikan supremasi teknologi dan industri, negara-negara berkembang di ASEAN masih perlu mengembangkan sumber daya manusia dan menyempurnakan strategi perkembangan industri di masing-masing negara.

Berdasarkan sebuah laporan yang dirilis oleh McKinsey pada bulan Desember 2017, setidaknya satu dari tiga tenaga kerja manusia di dunia dapat dan akan digantikan oleh mesin dan robot pada tahun 2030. Bahkan, pekerja yang masih melakukan pekerjaan di bidang yang sama diprediksi harus bisa mempelajari skill set baru agar mampu bekerja secara efektif.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Naik di September 2016

Dalam Survey tebaru berjudul Business Barometer: OBG in ASEAN CEO, tim OBG memberikan sejumlah pertanyaan kepada para eksekutif dari enam negara ASEAN (yaitu Filipina, Indonesia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Malaysia) untuk mencari tahu keterampilan apa yang sangat diperlukan untuk menghadapi pasar yang berkembang sangat pesat saat ini. Secara umum, 31% responden menyatakan bahwa leadership skill (kepemimpinan) merupakan yang paling penting saat ini, diikuti dengan jawaban responden lain yang menyatakan bahwa keterampilan engineering (28%), research & development (15%), dan business administration & computer technology merupakan yang paling penting.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa para pelaku bisnis di ASEAN menganggap leadership skill lebih penting dibandingkan dengan keterampilan teknis, baik di negara berkembang maupun negara maju, dalam rangka mempersiapkan diri menuju dunia yang penuh dengan artificial intelligence, robotika, mesin otomatis, dan teknologi yang terus bertransformasi – SOLID BERJANGKA